Tema: Sejarah Shalat: Antara Tradisi dan Teologi

Waktu: Rabu, 9 Mei 2012, Pukul: 20.00 WIB

Tempat: Kantor eLSA (lama), Perum Pandana Merdeka Blok N. 23 Ngaliyan, Semarang

Konfirmasi kehadiran: Ubed (085226421577)

Oleh: Tedi Kholiludin

Di sebelah utara Danau Tondano, atau kurang lebih 35 KM dari Kota Menado, Sulawesi Utara, ada kampung yang sangat erat memiliki keterkaitan dengan masyarakat Jawa, baik secara historis maupun geneologis. Nama administratifnya adalah Desa Kampung Jawa Kecamatan Tondano Utara Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Di desa yang berpenduduk kurang lebih 2215 jiwa itu, hidup masyarakat keturunan Jawa yang bangga mengaku sebagai orang Minahasa.

Kampung ini bukan merupakan wilayah transmigrasi seperti yang kita kenal pada saat pemerintah orde baru menggalakkan program itu. Kampung Jaton (singkatan dari Jawa Tondano) itu adalah saksi perjuangan masyarakat Jawa melawan kolonialisme. Lebih tepatnya, Jaton terbentuk dengan latar Perang Jawa 1825-1830 yang dikobarkan salah satunya oleh Pangeran Diponegoro.

Seperti yang kita baca dalam sejarah, Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibuang ke Minahasa. Selain Diponegoro ada juga Kyai Muslim Muhammad Halifah atau Kyai Mojo yang adalah panglima perang pasukan Diponegoro. Selain Kyai Mojo pimpinan pasukan Diponegoro yang juga dibuang ke Sulawesi Utara, antara lain, Sataruno, Joyosuroto, Banteng, Kertosono dan lain-lainnya. Gelombang awal masyarakat Jawa di Jaton tercatat dimulai sekitar tahun 1829, persis ketika Perang Jawa memulai babak akhir. Read more »

Oleh: Siti Rofi’ah

Pendidikan dimulai dari pangkuan Ibu. Setiap kata yang diucapkan dalam jarak dengar anak-anak kecil cenderung membentuk wataknya (Hosea Balou)

Pemerhati dan pejuang kesetaraan gender, sedang mengalami masa-masa sulit. Masyarakat menganggap bahwa persoalan gender hanya proyek yang mengada-ada dan hanya ingin merusak tatanan yang sudah mapan. Ketika perempuan sudah berhasil menjadi politikus, polwan, ataupun presiden, maka bagi mereka kesetaraan gender sudah terealisasi, otomatis memperjuangkan gender dianggap sebagai hal yang mubadzir. Beberapa kaum feminis yang setia memperjuangkan keadilan gender malah mendapat cap kacung ideologi barat yang kurang kerjaan.

Padahal, kalau ditelisik lebih jauh tanpa kita sadari di lingkungan sekitar kita ketimpangan gender masih banyak terjadi. Bahkan di tempat yang paling dekat dengan kita (rumah tangga) berbagai bentuk ketimpangan gender masih marak. Jika ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas domestik seperti memasak, mencuci, dan menyapu, maka akan tertanam di benak anak-anak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan. Read more »

(Semarang, elsaonline) - Rancangan Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama (RUU KUB) yang dinisiasi oleh komisi VIII DPR RI terus menjadi polemik. Banyak pasal-pasal krusial yang mendapat catatan kritis aktifis civil society di  Semarang. Berawal dari kerisauan itu, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang menggelar diskusi yang bertema “Analisis terhadap RUU KUB”, Rabu (18/4).

Diskusi  ini berlangsung di kantor LBH Semarang Jalan Jomblang Sari IV  no.17 Semarang. Target awal kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis pasal-pasal yang dianggap justru akan memperuncing konflik keagamaan di masyarakat. Nyatanya beberapa pasal dalam RUU tersebut sarat memunculkan multitafsir. Karena itu sangat potensial menimbulkan legitimasi tindakan sepihak di masyarakat. Karenanya, nampak penting bagi aktifis kegamaan di Semarang untuk menganalisisnya. Read more »

Tema: Menulis Laporan Investigasi

Pembicara: Rofiuddin (Wartawan Tempo)

Waktu: Jum’at 20 April 2012, Pukul: 20.00 WIB

Tempat: Kantor eLSA (lama), Perum Pandana Merdeka Blok N. 23 Ngaliyan, Semarang

Konfirmasi kehadiran: Ubed (085226421577)

Senin, (16/4/2012) Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) resmi menempati tempat baru di Perum Bukit Walisongo Permai (Perum Depag) Jalan Sunan Ampel Blok V No 11, Tambakaji Ngaliyan, Semarang. Selaku Pendiri, Dr. Abu Hapsin berharap agar di tempat yang baru eLSA lebih bisa menajamkan pemikiran dan memadukannya dengan kondisi riil masyarakat. Sebagai kegiatan akademik ekstrakampus, eLSA bisa menjadi ruang alternatif untuk mereka yang ingin bergulat dengan wacana sembari memahami apa yang sesungguhnya terjadi di masyarakat.

Oleh: Khoirul Anwar

Dalam tubuh umat Islam di Negara kita seringkali terdengar klaim sesat, murtad, dan kafir yang dialamatkan kepada orang atau kelompok yang berbeda keyakinan dengan akidah Islam mayoritas. Orang yang memberikan klaim-klaim seperti itu berpandangan bahwa hanya keyakinan dirinya saja yang absah dan sesuai dengan kehendak Tuhan, mereka mengandaikan bahwa Tuhan hanya menciptakan Islam yang bermodel seperti keyakinannya.

Klaim-klaim seperti ini sesungguhnya bagai badai yang menghantam kapal besar yang ditunggangi oleh orang-orang yang beragam warna dan kulit namun satu tujuan. Agama Islam yang sejak dihadirkan di muka bumi ini bertujuan untuk membebaskan manusia dari berbagai penindasan, baik politik, ekonomi, maupun persoalan sosial lainnya seakan-akan kehilangan jangkar fungsinya. Banyaknya penganut agama Islam di Indonesia yang konon katanya terbesar di dunia bukan dijadikan sebagai langkah awal untuk bergotong royong membangun bangsa dan negara, tapi malah dijadikan arena tuduhan sesat, murtad, dan kafir. Institusi dan ormas keagamaan tidak lagi disibukkan dengan persoalan-persoalan bangsa, tapi mereka lebih memilih kegiatannya dengan memberikan label sesat, murtad, dan kafir terhadap orang atau kelompok yang tidak sepaham dengannya.

Entah apa yang mendorong mereka dalam mempertahankan agama dengan cara-cara seperti itu, pura-pura tidak mengetahui problematika hidup yang diderita wong cilik atau memang mereka memiliki pemahaman bahwa agama Islam tidak peduli sosial. Yang pasti dalam QS. 11:118-119 Tuhan menyatakan bahwa “keragaman keyakinan” dalam Islam merupakan bagian dari kehendak-Nya, sehingga sangat tidak mungkin bahkan secara tidak langsung menantang Tuhan jika keragaman pemahaman dalam Islam ini hendak disatukan. Nabi Muhammad sendiri menegaskan bahwa perbedaan yang terjadi di antara umatnya merupakan bagian dari kasih sayang Tuhan (Ikhtilafu ummati rahmatun). Read more »

Oleh: Tedi Kholiludin

Judul: Ideologi Islam dan Utopia: Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia

Penulis: Luthfi Assyaukanie

Penerbit: Freedom Institute, Jakarta

Cetakan Pertama: Agustus 2011

Jumlah halaman: xviii+330 halaman

Keunikan Indonesia dari aspek hubungan agama-negara seperti tak habis-habisnya dikaji. BJ. Boland, Harry J. Benda, Robert Hefner, MC Ricklefs dan banyak Indonesianis lainnya telah banyak menguak sisi ini. Perdebatan itu selalu berujung pada perdebatan apakah Indonesia menganut negara sekuler atau negara agama.

Tulisan Luthfi Assyaukanie, salah satu intelektual muslim Indonesia ini sesungguhnya adalah karya tentang diskursus lama tetapi hadir dengan polesan dan wajah baru. Diskursus lama yang dimaksud adalah wacana mengenai pemikiran politik Islam dengan menjadikan kemerdekaan sebagai tonggaknya. Meski diskursus yang dibahas Luthfi bukan barang baru, tetapi ia berhasil merumuskan kategorisasi yang baru tentang sikap umat Islam dalam memahami konsep demokrasi yang relevan bagi Indonesia. Read more »

salam elsa

Demokrasi adalah sistem yang paling sesuai untuk konteks Indonesia yang plural ini. Pengalaman pahit pemerintah Orde Baru yang otoriter, menindas dan represif, telah membuat kita semua trauma dan tidak terulang lagi untuk masa mendatang. Sebagaimana kecenderungan di setiap negara otoriter, di Indonesia pun pada waktu itu masyarakat tidak diberi kesempatan untuk mengekspresikan gagasan-gagasan demokrasi apalagi mengevaluasi kinerja pemerintah, misalnya dalam bentuk government Watch menyangkut pertanggungjawaban publik dan semacamnya. Kebebasan pers (free press) dibatasi bahkan dikebiri, demikian juga tidak ada kebebasan masyarakat sipil (civil liberties). Karena itu, eLSA “dideklarasikan” dalam rangka untuk ikut mengawal proses demokratisasi di Indonesia.

Recent Posts

Archives

Site5 | Experts In Reseller Hosting.