“Kebudayaan Masyarakat Semarang Lebih Egaliter”

0
72
Tubagus P. Svarajati

 

Tubagus Svarajati

Tubagus Svarajati, lama berkecimpung di dunia seni. Sempat menekuni Fotografi, saat ini Tubagus lebih dikenal sebagai kritikus seni rupa. Dia adalah pendiri Rumah Seni Yaitu di Kampung Jambe, Semarang. Juga pernah aktif di  Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang dan bekerja sebagai koresponden FOTOmedia pada tahun 2000-2003 serta kontributor Majalah Foto NIKONIA. Gagasannya tentang kebudayaan banyak berserakan di pelbagai media. Berikut wawancara eLSA dengan Tubagus Svarajati, seputar Semarang serta pernak pernik budaya yang melingkupinya.

Kalau Semarang secara historis itu bagaimana?

Kota Pelabuhan sejak abad 18. Saya pernah diminta menulis oleh National Geographic Traveller, jadi pengetahuan yang saya dapat (tentang Semarang) didapat saat menulis untuk itu. Abad 18 ia menjadi pelabuhan yang baik, karena Jepara dan Rembang mengalami sedimentasi, kemudian VOC lari ke Semarang. Tetapi lama kelamaan di Semarang juga terjadi sedimentasi. Kota pelabuhan itu untuk mengangkut hasil bumi dari interland, dari Jawa Tengah. Karena faktor itu, Semarang sangat kosmopolit, dari banyak macam suku bangsa, Spanyol, Belanda termasuk orang Cina mulai berdatangan.

Kemudian abad 19 sampai awal abad 20, Belanda sudah mulai merasa kekuatannya kurang, karena VOC juga korup, decline dan orang Cina menjadi semakin kuat karena dipakai sebagai perantara. Karena itu, kebudayaan Cina masih berperan bagi orang lokal. Padahal orang Cina yang dari Cina daratan itu rata-rata orang-orang yang lari karena menghindar dari peperangan dan tidak punya skill yang hebat-hebat amat. Kalau kelas menengah pun, kelas menengah yang biasa, banyak orang miskin karenanya mereka tidak akan berpikir tentang kesenian, kebudayaan dan intelektualitas semacam itu, sampai sekarang. Kelompok Cina yang berhasil sukses seperti Oei Tiong Ham, orang-orang Cina yang dipakai oleh Kolonial sebagai perantara itu memang orang kaya dan pendidikannya jauh lebih baik dibanding golongan Cina yang masih umum, orang miskin yang masih totok. Orang yang dipakai oleh Belanda itu orang Peranakan yang sudah beberapa generasi di Indonesia. Mereka ini bisa sekolah, yang punya akses ke kolonial, tetapi dia tidak terlalu intens mengembangkan kebudayaan juga, paling intelektualitasnya saja. Orang Cina yang bawahan lebih-lebih, kesulitan ekonomi. Saya kira, itu akhirnya mempengaruhi terhadap orang pribumi (terpaksa dipakai nama ini untuk memperjelas konteks saat itu).

Orde Baru menganggap bahwa kebudayaannya itu Jawa sentris, tetapi yang ke arah keraton, pedalaman. Jawa yang bagus, adiluhung itu keraton, pusat kekuasaan disana. Kemudian budaya pesisiran yang di pinggiran itu tidak dianggap. Padahal orang-orang Pesisir macam Semarang, Jepara, Tegal itu sangat berbeda jauh dengan orang Interland, sangat egaliter.

Yang membedakan antara masyarakat dalam dan Pantura secara karakteristik budaya?

Masyarakat pantura jauh lebih terbuka. Dari sisi bahasa saja, linguistiknya tampak bahwa mereka tidak terlalu unggah-ungguh. Semarang misalnya menemukan contohnya tersendiri. Punya dialek khusus yang sangat berbeda dengan Jogja dan Solo. Tegal juga mengembangkan dialeknya sendiri yang berbeda dengan Semarang. Artinya, itu kan masyarakat pesisir egaliter, mengembangkan budaya sesuai dengan situs lokalnya. Itu saat Orde Baru.

Tetapi ada satu kajian yang mengatakan bahwa abad 18 kebudayaan Pesisir jauh lebih hebat. Ada cerita Panji yang sampai ke Vietnam, Myanmar, Filipina dan Thailand. Mereka punya narasi yang hampir sama dengan cerita Panji Jawa. Artinya, kebudayaan pesisir Jawa pada abad 18 sudah sampai sana. Jadi antara Philipina, Thailand sampai Myanmar, cerita-cerita Panji menjadi local history mereka. Sebetulnya, bisa jadi kebudayaan pesisir kita cukup berperan, tapi dalam perjalanannya, tidak kuat menahan arus pengaruh kolonial yang dikembangkan secara pragmatis karena kepentingan ekonomis, lalu diteruskan secara politis oleh orde baru. Dugaan saya seperti itu. Sampai hari ini, mereka tidak bisa menunjukan identitas kulturalnya secara signifikan.

Kalau kita lihat fenomena konflik, itu kentara sekali. Misalnya membandingkan Semarang dengan Solo. Bagaimana di daerah tengah itu konflik sangat kuat sementara di Semarang tidak terlalu tinggi. Kira-kira ada faktor apa?

Dugaan saya pergaulan kosmopolit. Itu yang membuat bahwa orang secara natural, dia bersinggungan dan bisa timbul saling penghargaan. Dugaan saya seperti itu

Kalau pragmatisme masyarakat Semarang sendiri, punya pengaruh tidak?

Oh pengaruh. Satu pergaulan kosmpolit. Apa yang mendasarinya? Yang mendasarinya ya, pragmatisme perdagangan itu kira-kira. Karena kita tidak punya sumber daya alam di Semarang ini. Yang ada cuma trading, pabrik-pabrik pun tidak besar-besar amat, walaupun itu konteksnya ekonomi.

Jadi kawasan pabrik itu tidak punya pengaruh?

Tidak terlalu banyak pengaruh, saya kira. Pengaruh dalam hal produksi ekonomi itu jelas. Tapi ia tidak mampu membuat penetrasi kuat terhadap orang Semarang. Orang Semarang itu tidak bergantung banyak pada pabrik-pabrik. Anda lihat, pabrik itu di sub-urban, pinggiran. Siapa orang pinggiran? Juga bukan orang Semarang. Dalam konteks geopolitik, dia  bukan orang Semarang. Jadi faktor egaliterisme itu sangat kuat, maka persinggungan tidak terlalu penting-penting amat.

Tetapi kenapa kemudian menjadi agak lain, ketika kita beranjak ke Demak atau Pekalongan dimana feodalismenya juga masih ada?

Dugaan saya lagi, karena etnis Cina banyak sekali populasinya di Semarang.

Seberapa punya signifikansi?

Itu membuat satu wilayah tidak terlalu homogen. Kalau tidak homogen, Artinya ada banyak komponen. Komponen itu saling bersinggungan, saling memanfaatkan dia menjadi saling menguntungkan. Lihat Demak, ia lebih tertutup. Islamnya kuat, Cinanya sedikit. Demak termasuk desa, walaupun pesisir ia tidak menjadi pelabuhan besar. Sejarahnya, Demak menjadi situs pengajaran Islam. Pekalongan, saya kira mirip-mirip dengan itu. Beda dengan Rembang, Lasem. Walaupun  Pesisir tapi pengaruh Cinanya kuat, dia tenang-tenang saja. Dugaan saya ada pengaruhnya. Dari sisi kultur dan ekonomi mereka memainkan peran.

Penetrasi kultural masyarakat Cina terhadap pribumi di aspek mananya?

Kalau dari Lasem, kultur itu saya kira dari industri sandang, batik-batik. Itu menjadi industri besar. Meski industri batik, walaupun besar punya kapital gedhe tetapi mereka punya ranah estetik, jadi jauh lebih lembut. Kultur Cina Semarang itu tidak mampu membawa warna terlalu kuat. Eh Sorry, kemungkinan malah kuat ya, di budaya Kelenteng itu.

Kelenteng sebagai agen kultural?

Iya, tetapi ia tidak sampai bisa mempengaruhi masyarakat secara luas, sehingga dia mampu menyokong kultur itu. Tetapi ia hidup di komunitasnya. Saya juga tidak tahu persis kenapa orang Semarang bisa adaptif terhadap budaya lain. Orang lokal terhadap orang Cina, budayanya. Tapi mungkin karena kosmopolitisme dan pragmatis ekonomi.

Apa itu yang kemudian menyebabkan adanya hubungan yang mutual antara orang Cina dan Pribumi yang kemudian merubah cara pikir orang Cina Semarang yang membedakannya dengan Medan misalnya?

Dugaan saya iya. Orang Cina Semarang akan cepat mudah melebur dalam budaya lokalnya, ketimbang orang Medan, Sumatera, Jakarta. Orang Cina Semarang juga berbeda dengan Jogja dan Solo. Mereka lebih cepat lagi melebur. Semarang mungkin ada di tengah-tengah. Tetapi dia mampu menjadi berbeda dengan Cina di Medan, tetapi ia tidak jauh sangat berbeda atau totally lebur seperti Cina Benteng di Tangerang, karena faktor ekonomi saya kira. Cina Benteng sangat miskin sehingga tidak punya pilihan. Dugaan saya adalah faktor ekonomi punya peranan besar, bagaimana  mereka bisa mengubah.

Apa kalau itu sih sebenarnya bukan sesuatu yang spesifik. Dimana-mana orang Tionghoa punya peran ekonomi yang kuat?

Stereotype yang muncul orang Cina lebih bagus secara ekonomi. Tetapi statistik belum tentu. Di Singkawang banyak orang miskin. Cina Benteng itu seberapa banyak (yang miskin). Di Semarang sendiri, belum tentu di kampung-kampung orang Cina itu kaya. Sama saja hidupnya susah. Banyak juga pekerja. Tetapi memang mereka banyak bergelut di sektor ekonomi saja. Kemungkinan-kemungkinan yang ada dibukakan saat orde baru seperti itu. Meskipun disana-sini ada deviasi, anomali. Ada juga yang menjadi akademisi, seniman itu ada tapi tidak banyak. Itu alamiah.

Jadi masyarakat Semarang itu masyarakat yang kalau kita mengambil definisi yang agak sempit itu masyarakat yang pragmatis an sich?

Mungkin bisa ke arah sana.

Termasuk senimannya? pekerja seninya?

Mungkin terpengaruh oleh kultur perdagangan, ekonomi yang harus punya value langsung, pragmatis, egaliter dan karenanya ia individualistik. Dugaan saya orang-orang Semarang jauh lebih individualistik, dibanding dengan Solo dan Jogja yang bisa guyub.

Survival Collectivenya tidak ada?

Saya kira tidak. Mereka fighting spiritnya sendiri-sendiri.

Pekerja seni juga begitu?

Pekerja seninya juga sama. Dilihat dari topografi Semarang yang terdiri atas bawah, jarak begitu jauh, itu juga mempengaruhi terhadap kolektivitas. Akhirnya orang Semarang sendiri senimannya juga jarang bisa kumpul. Semua bekerja individual, soliter.

Disamping mindsetnya juga lain?

Itu pengaruh besar. Akhirnya, by nature, mereka menjadi seperti itu. Kalau ia hebat harus punya dorongan pribadi untuk muncul. Kalau tidak, sulit. Contohnya, Galeri Semarang memamerkan Mella (Mella Jaarsma, red) dan Nindit (Nindityo Adipurnomo, red) itu seniman kita yang sangat internasional. Di tingkat dunia diakui. Tetapi pada saat pembukaan, yang kesana itu sedikit. Itu termasuk komunitas seniman yang sangat sedikit penghargaannya. Jadi, dugaan saya mereka tak terlalu peduli. Mereka ingin setara, egaliter. Jadi penghargaan itu tidak ada. Maka sering terjadi praktik peniadaan sejarah yang lama, ahistoris. Bahwa seniman baru selalu tidak memandang perjalanan sejarah yang lama. Mereka ingin mulai dari titik nol, dari dirinya sendiri. Itu sifat yang tidak terlalu menganggap ada hierarkhi, tokoh itu tidak terlalu dianggap.

Tapi kalau dengan melihat politik ruang publik dimana Pecinan menjadi ghetto, apakah transformasi budaya masih bisa berjalan?

Saya kira alamiah, malah terjadi degradasi. Kalau anda melihat topografi Semarang, itu kan wilayah perdagangan yang hidup. Sentral duit itu di Pecinan. Pusat itu selalu komunitas Cinanya kuat sekali. Pecinan, Kranggan, Pekojan, MT. Haryono, Dr.Cipto, Mataram baru pelan-pelan ke Simpang Lima. Lalu menyebar. Kesenian jelas tidak kuat-kuat amat di Semarang dengan karakter orang seperti itu.

Jadi kesenian itu soal kolektivitas?

Satu itu. Dan karena kita tidak mau sering menghargai tokoh, sejarah akhirnya dia tidak belajar kemana-mana, jadi kita hanya trial and error. Sehingga tidak muncul seniman yang hebat-hebat amat.

Maksud saya, apakah seniman itu harus muncul dari sebuah komunitas?

Itu resep yang paling gampang. Karena disitu bisa saling belajar. Bagaimana seniman atau siapapun bisa belajar menjadi hebat tanpa muncul dari lingkungan, tahu-tahu dia muncul dengan sendirinya, kan enggak bisa. Sekarang tidak memungkinkan. Tidak seperti zaman dahulu, orang-orang tahu punya bakat melukis seketika menjadi hebat, tidak bisa sekarang. Dia harus belajar, belajar menjadi. Contohnya Raden Saleh. Tiba-tiba dia punya bakat seperti itu, gak mungkin sekarang, dia harus berlatih. Dia itu bangsawan dekat dengan Belanda dibawa kesana, akhirnya dikomunitaskan oleh mereka. Jadi Raden Saleh itu memang orang Semarang, tetapi dia ideologi Eropa dan kolonial. Kalau baca tulisannya Harsja Bachtiar, dia menjunjung tinggi Ratu Belanda, disini dia merasa asing kehidupannya.

Kembali ke Pecinan sebagai sebuah yang terkonsentrasi, apakah transformasi budayanya tidak terhambat? Kenapa tidak keluar menyebar?

Mereka sudah keluar dengan sendirinya, karena wilayah itu tidak memungkinkan menjadi pemukiman ideal. Kenapa mereka masih tetap disitu? Karena mereka punya sejarah disana. Punya rumah disitu. Anak-anak, cucu-cucu yang berhasil, menikah, mereka pasti keluar, karena secara ekonomi lebih mampu dan bisa membeli rumah di luar daerah. Tetapi mereka masih punya perikatan sejarah dengan orang tua, kakek, nenek. Itu faktornya. Tetapi dari sisi sebagai komunitas, mereka tidak bisa dianggap sebuah komunitas lagi. Karena mereka bukan dalam pengertian orang Cina yang tunggal. Mereka sudah terpecah-pecah oleh suku bangsanya, bahasanya, dari suku yang berbeda-beda, diantara mereka pun strata ekonominya berbeda-beda, apalagi  perkembangan zaman yang semakin individualistik akhirnya pergaulan mereka pun terbatas.

Tahun 1970an orang-orang tua setiap sore masih bisa keluar rumah, duduk-duduk, mereka bisa saling say hello kepada tetangganya, kipas-kipas, sekarang tidak ada seperti itu. Perubahan sikap, perubahan kultur. Anda perhatikan. Orang Cina dulu bisa Koh, Cik, Encim, sekarang bergeser ke sebutan nasional dalam bahasa Indonesia, Pak, Bu. Perhatikan, diantara sesama juga begitu. Jadi ada pergeseran cara pandang. Pecinan tidak lagi bisa disebut sebagai satu enclave yang tunggal, sudah wilayah terbuka sama dengan wilayah lain di Semarang. Terbuka dengan sendirinya. Jadi kalau ada hipotesis kalau Pecinan itu komunitas, salah. Karena definisinya tidak cocok sama sekali. Jadi Pecinan itu situs biasa, situs yang punya sejarah iya.

Pecinan itu adalah pemukiman orang Cina?

Seratus persen memang iya, tetapi tidak dalam hal ideologi atau kultural lagi. Agamanya tidak tunggal, ada Muslim, Tri Dharma, Kristen, Katolik yang mempertahankan kesenian Kelenteng juga sudah terbatas. Pecinan itu lingkungan hidup biasa, lingkungan perdagangan saja yang punya residu historis itu saja. Meskipun seratus persen Cina (dengan mengabaikan pinggiran yang banyak orang Jawanya), ia tidak bisa mempertahankan kebudayaannya yang dulu-dulu.

Pecinan itu hanya orang Cina yang tinggal di sana, tapi tidak dengan ideologi, cara pandang dan budaya?

Iya, tidak. Karena juga saya anggap tidak akan ada budaya tunggal, meski dulu nyaris terasa ada. Jangan lupa, ketika ada pedagang Cina dari daratan pastilah agama mereka kalau tidak Konfusianisme, Taoisme ya Buddhisme. Barulah mereka masuk ke Jawa kenal dengan kolonial dan kenal Nasrani. Memang sejak dulu, seolah ada budaya tunggal, lalu sekarang menyebar, tetapi kelak malah sudah semakin kurang. Jadi kalau setelah reformasi ada euforia orang yang ingin kembali ke budaya Cina yang dulu, itu bisa dipertanyakan. Pasti merujuk pada kebudayaan daratan. Lalu apakah masih kredibel  kita bicara seperti itu dalam konteks sekarang.

Kalau kembali pada budaya Cina, dalam pengertian apa?

Saya bilang, kalau secara spesifik, wajah yang tampak adalah kebudayaan perdagangan, ekonomi terutama di Semarang.

Jadi reformasi itu?

Kebebasan politis saja. Bahwa hak-hak politik mereka dikembalikan. Sebelum 98 pun sudah ada akademisi. Artinya sebetulnya tidak jauh beda. Mungkin akan terjadi percepatan bahwa orang Cina, anak pemudanya akan jauh lebih banyak kebebasan, banyak pilihan-pilihan, sehingga mereka kelak satu dua generasi tidak terkonsentrasi di ekonomi. Sama seperti di Cina daratan, walaupun memang ekonomi kuat sekali.

Tapi kenapa tidak ada karakter yang khas dari pekerja seni di Semarang tidak seperti Jogja?

Jogja juga tidak punya karakter, seniman-senimannya. Jangan lupa Jogja itu kota yang semuanya pendatang dari banyak daerah. Mereka bertemu menjadi satu komunitas besar dengan kebudayaan lokal mereka masing-masing. Itu kira-kira merangsang kreativitas. Di Semarang sekarang tidak seperti itu lagi, meski dulunya kosmopolit karena dia pelabuhan. Kita tidak seperti itu, karena di ranah Indonesia modern, kita tidak kuat secara budaya. Kita tidak punya pendidikan yang hebat. Jogja punya pendidikan yang merangsang untuk datang kesitu. Semarang tidak mampu membuat dirinya seperti itu.

Mereka dibentuk oleh alam untuk harus terbuka, mestinya kalau tadi bicara tidak terlalu banyak gesekan itu karena ruang yang kosmopolit, apakah itu juga ditunjang oleh knowledge yang mumpuni  akan adanya heterogenitas?

Secara teoritis pasti tidak. Pergaulan itu tidak perlu basis pemikiran yang tidak kuat-kuat amat. Yang penting ada saling pengertian. Bangunan teoritik itu dibentuk kemudian.

Jadi sebenarnya memang mereka toleran itu bukan karena baca buku ya?

Saya tidak percaya itu. Saya tidak tahu statistik, tapi masyarakat kita tingkat kesarjanaannya tidak sehebat orang Eropa. Justru pergaulan alamiah itulah yang menjadi karakter sebuah komunitas. Dan menarik kalau anda kembali ke teorinya Geertz tentang Santri, Abangan dan Priyayi. Banyak orang sudah mengkritik teori ini, tapi dalam beberapa teori tersebut masih sangat berguna. Untuk membaca Semarang sekarang misalnya. Kita lihat, siapa yang bisa dianggap santri. Mungkin kebanyakan adalah Abangan. Priyayinya juga sudah tidak ada. Artinya, dalam batas-batas tertentu teori itu masih perlu. Abangan itu kan tidak terlalu mementingkan ritual, padahal segregasi itu muncul dari pembedaan dari aspek agama yang sangat kuat. Dalam satu agama saja terjadi segregasi. Itu dari sisi lokalnya. Lalu keturunan Cinanya. Mereka itu gampang-gampang saja, tidak terlalu kuat religiusitasnya. Ini kajiannya Eva Moeller, dia menemukan satu fakta bahwa di keluarga CIna sangat sering terjadi anak-anak keturunannya berbeda dengan orang tuanya. Dua karakter besar itu menampakkan bahwa orang Semarang itu moderat, lokalnya maupun Tionghoanya. Akhirnya klop, ketemu disitu. Apalagi ditambah tingkat perdagangan yang tinggi. Perdagangan itu tidak memerlukan hierarki. Jual beli masa ada hierarki. Kamu mau saya jual dan kamu beli.

Maka begitu ada orang daerah masuk Semarang, belajar di Semarang, dia terpengaruh oleh kultur seperti itu. Dan ribut sedikit, ya gak apa-apa. Begitu crowdednya orang, juga tidak apa-apa. Itu keuntungannya, tetapi ada kerugiannya yakni tidak ada komunalitasnya. Akhirnya tidak ada kekuatan dan muncul raja-raja kecil sendiri yang tidak mau kalah satu sama lainnya. Tidak mau menghargai secara total kepada yang lain. Mungkin di hati kecilnya mengakui, tetapi dalam tingkat pergaulan, biasa saja. [e]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here