”… Cheng Ho Datang Dengan Damai, Bukan Kekerasan”

0
28

Wawancara dengan Mbah Pringis (Seniman Cina Muslim Semarang)

Orang-orang memanggilnya Mbah Pringis. Kalau disebut budayawan dia memang tidak setenar HB.Jassin, Emha Ainun Najib, atau Kuntowijoyo. Disebut artis pemilik nama PF Haryanto HS (So Khing Hok) itu juga bukanlah artis sekaliber Agnes Monica, Krisdayanti, Pasha Ungu atau Ahmad Dani. Lalu apa yang menonjol dari penghuni Gang Cilik 41A Semarang itu. Sebagai seorang Cina Muslim, Mbah Pringis berniat untuk mengembalikan harmonisme orang Cina dan Jawa.

Ia menilai bahwa bangunan persaudaraan antar Cina dan Jawa sejak dahulu tidak pernah mengalami pergeseran. Persoalan muncul kemudian setelah Belanda datang dan mengadudomba keduanya. Ekspedisi Laksamana Cheng Ho, menurut Mbah Pringis adalah salah satu media yang mempersatukan bangsa Jawa dan Cina. Apalagi Cheng Ho melakukan ekspedisi tersebut dengan penuh kedamaian, bukan kekerasan.

Mbah Pringis kemudian mengingatkan Orang Cina dan Jawa dengan menggubah 10 lagu dalam album ”Tembang Dulur Tuwa”. Berikut ini petikan wawancara Tedi Kholiludin dari elsaonline.com dengan Mbah Pringis seputar makna dari lirik lagu-lagunya tersebut.

Latar belakang penulisan lirik di album anda itu apa? Yang menjadi inspirasi anda untuk menulis lagu itu siapa?

Awalnya Pa Harjanto Halim (Direktur PT Marimas) datang ke sini terus ngobrol. Dia bilang, mumpung kita masih hidup mari kita lakukan apa yang bisa kita tinggalkan untuk anak istri. Manusia itu kan menulis sejarahnya, orang lain tinggal membacanya. Sejarah itu apakah yang baik atau yang buruk. Sepertinya kami berdua ingin menulis sejarah yang baik. Akhirnya kita sepakat untuk meninggalkan sesuatu untuk anak cucu. Lalu dipilihlah media agama.

Mbah yang menulis semua lirik? Anda selesaikan berapa lama?

Itu ngarangnya satu bulan dan di studionya satu bulan. Lagu pertama (Bedhug Cina) itu kan liriknya ono bedhug seko negoro Cina, nyanding kenthongan seko tanah Jawa, barengan ngawulo agama Islam kang mulya ning nuswantoro. Yu poro bongso sajadah gelaro, sholat tumindakno, poso lakonano, amal jariyah ojo dilalekno. Ojo malah golek molo lan perkoro, ojo ngasih nguntal mowone neroko. Menungso diciptakno bedo bongso supoyo kenal pungkasane tresno. Sabar lan narimo ora gelo nanging lego ning jero dodo. Lalu eling lan waspodo kuwi menungso sing bejo ning alam dunya (ini pepatah Jawa). Lalu di bait terakhir ora ono menungso sing sempurna mulano podo jaluk’o ngapuro kanggo nebus dosa marang Gusti Allah siro sing Moho Kuwoso.

Awalnya, saya mau menceritakan kalau bedug itu dari Cina. Kalau lihat Kelenteng, di situ ada dua alat tabuh, lonceng dan bedug. Lonceng ada di Gereja dan Bedug ada di Mesjid. Saya bukan bermaksud menyombongkan Cina. Tetapi Cuma ingin menegaskan bahwa sejak zaman dahulu ada simbol keharmonisan antara bedug dan kentongan. Ini kan hasil tindakan nenek moyang Cina dan Jawa. Ini kan sangat indah. Dan mau saya tonjolkan.

Saya dengan Pa Harjanto Halim ingin menunjukan bahwa kami adalah orang Cina tetapi supaya tidak dipenthungi atau meredam amarah orang Jawa itu gimana caranya. Agama Islam itu kan Mesjid. Dan alat tabuh yan ada di Mesjid itu ya bedug sama kentongan. Di luar negeri tidak ada barangkali. Di Arab yang manggil ya cuma Bilal itu. Tidak ada alat tabuh. Ini ada sesuatu yang indah.

Lalu pada lirik berikutnya saya ingin menegaskan tentang rukun Islam. Ada sholat, puasa dan amal jariyah itu maksudnya zakat. Terus lirik menungso diciptakno bedo bongso itu dari ayat al-Qur’an “Ya ayyuhannasu inna khalaqnaakum min dzakarin wa untsa…”. Terus di lirik berikutnya itu ora ono menungso sing sempurno itu maksudnya kita jangan membenarkan diri kita sendiri. Manusia itu tidak ada yang sempurna. Jadi meski Islam itu mayoritas harusnya melindungi yang minoritas, jangan menekan.

Diantara sepuluh lagu yang menurut Mbah memiliki pesan moral yang kuat itu mana saja?

Ada tiga, Bedhug Cina, Dulur Tuwa dan Jujugane. Itu ada unsur agamanya semua. Terus di lagu kedua itu, sadurunge zaman londo, Sam Poo Tay Jin (Cheng Ho) )soko Cina, mendarat ning tanah Jawa, dagang lan syiar agama. Jalin tresno Cina Jawa, sajero ning payung agama, tapi kuwi wis muspra, dirusak tekone londo. Dulur Tuwa itu maksudnya orang Cina. Dulur tuwo ndang balik’o, ojo malah ninggal lungo, ayo bareng wong Jawa, nganut aturan molimo. Lalu, Dulur tuwo ndang sholat’o, ojo nambah gawe ndoso, eling’o leluhur siro, poro santri soko Cina, Dulur tuwo ndang ngamal’o, ojo ngasih edan bondo, sugih dunyo sawetoro, nderek gusti lewih mulyo.

Kalau lihat di lirik pertama biasanya orang Cina itu hanya menonjolkan aspek dagangnya saja. Agamanya malah jarang ditonjolkan. Lalu ada syair dirusak tekone londho. Artinya harmonisme Cina dan Jawa itu dirusak oleh kehadiran Belanda. Jadi ceritanya itu begini, Cheng Ho datang 1405 dan Kerajaan Islam itu muncul 1465. Belanda datang pada 1600-an. Saat itu di zaman Belanda banyak Cina yang didatangkan ke Indonesia. Tetapi yang diambil itu orang Cina yang agamanya Tao, Konghucu dan Buddha. Sebenarnya yang beragama Hindu dan Islam itu ada di Cina, tetapi tidak dibawa ke Indonesia.

Akhirnya di Zaman Belanda itu ada kelas warga, Kelas I Kulit Putih, Kelas II Orang Cina dan Kelas III Orang Pribumi. Sampai ke Indonesia, Tao, Konghucu dan Buddha itu agama yang berbeda ajarannya. Kalau Tao itu Tuhannya Thian Khong, Konghucu Thian dan Buddha Sidharta Gautama. Karena Belanda itu berpikir kalau membuat rumah ibadah untuk tiga agama itu sulit, dibuatlah Kelenteng untuk tiga agama itu. Makanya ada istilah Tri Dharma.

Lalu Belanda membuat bagaimana Cina dan Jawa itu bertengkar. Kalau dilihat banyak syair dalam lirik saya itu yang menggunakan kata ”ojo”. Maksudnya itu terkait dengan ciri khasnya orang Cina yang seneng minggat. Alasannya ada dua pertama, karena dimusuhi pribumi. Kedua, duitnya diberikan luar negeri. Makanya saya ajak kembali lagi. Tetapi kembalinya jangan sampai melakukan perbuatan molimo. Kalau tetap melakukan, ya percuma.

Terus ada lirik elingo leluhur siro, poro santri soko Cina itu maksudnya begini. Ciri orang Cina itu sangat memuja leluhurnya. Jadi kalau leluhurnya yang santri itu disebutkan itu harapannya agar mereka takut. Jadi orang Cina itu mau kalau mengingat leluhurnya sendiri dan kembali kepada Cheng Ho itu. Bagi saya leluhur saya itu ya orang Cina yang dekat dan sampai ke sini. Dan yang ke sini itu Cheng Ho. Lalu saya ingatkan. Dan saya yakin bahwa Cheng Ho itu Cina pertama yang datang ke sini.

Dan ini yang paling penting dulur tuwo ndang ngamal’o. Maksudnya orang Cina itu duitnya banyak dan cepatlah beramal (Mbah Pringis tertawa…)

Di lagu ketiga, Semarang kotane, Simongan Benere, Kuwi Jujugane. Kanjeng Laksmana lan poro sahabate, Ilmu sakapal menceb wis digawakke, ra usah golek tekan negarane. Di Islam kan ada hadits ”tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. Sekarang ilmunya sudah dibawakan jadi tidak perlu ke Cina. Dan sesungguhnya ilmu yang diwariskan Cheng Ho itu banyak.

Yang pokok aja ya. Saat Cheng Ho datang, penduduk Jawa itu makannya puhung (singkong). Mereka belum bisa menanam padi. Dan Cheng Ho memberikan ilmu seni menanam padi, Cuma kalau di Cina jadi bubur di sini beras. Kerbau itu binatang dari Cina. Sebutannya hampir mirip kebo dan yang bawa itu Cheng Ho. Apalagi makanan yang sebangsa panjang-panjang Mie, Bihun, Soun, Kwie Tiau itu dari Cina. Lalu caping, suling juga dari Cina. Seperti di film-film itu.

Terus ada lirik Sam Po Tay Jin asmane, Sutro dagangane, Nyebar ilmu tugase. Jadi ada tugas dari Kaisar sebenarnya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan budaya Cina serta dagang. Lalu ada lirik medun ora gowo tumbak lan pedange, tapi kupluk lan kelambi koko. Jadi saya ingin menyangkal bahwa Islam itu disebarkan melalui pedang dan kekerasan. Buktinya Cheng Ho. Terus kupluk itu dari Cina dan baju koko. Koko itu artinya ngkoh-ngkoh atau kakak. Kerah yang berdiri itu ya dari Cina, kerah Sanghai. Dan yang kalian pakai sholat itu ya baju Cina. Dan kupluk itu juga dari Cina. Kalau peci melayu.

Saya ingin menjelaskan bahwa Cheng Ho datang kesini dengan damai, bukan kekerasan. Jadi tiga lagu itu yang kuat sekali nilai agamanya. Terus ada lagi lagu ”Dzikir” yang salah satu liriknya ada tentang ”Iyyaaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in”. Saya deg-degan saat itu. Ini dimasukkan atau tidak, karena takut salah. Apalagi lidah saya kan lidah Cina jadi agak kaku. Mbuh, bener mbuh ora nyebute. Kenapa saya memasukan ”Iyyaaka Na’budu Wa Iyyaka Nasta’in”? Karena dengan ayat itu alasan saya masuk Islam pada Idul Fitri 2004. Karena menurut saya, hanya kepada Tuhanlah kita meminta. Makanya ayat itu saya jadikan lagu. (elsa-ol/01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here