Sekularisasi Klasik Tidak Relevan Lagi

0
70

[Semarang – elsaonline.com] Peneliti Pusat Studi Agama dan Demokrasi (Pusad) Universitas Paramadina Jakarta, Aceng Husni Mubarok memprediksi keberadaan agama akan mulai terkikis akibat laju perkembangan modernisme. “Penjelasan itu kalau kita bersandar pada teori sekularisasi klasik”, terangnya. Kecenderungan itu diperoleh karena moral publik sudah bisa menggantikan moral agama. Dengan begitu, masyarakat sudah mulai menanggalkan agamanya. Tapi teori itu sudah banyak yang mementahkannya. Peter L. Berger mengakui kesalahannya dalam menganalisis sekularisasi.

Pernyataan ini terlontar dalam diskusi ” Agama di Ruang Publik” yang digelar Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Jum’at malam (13/9) di Kantor eLSA.

Husni mengatakan banyak sekali argumen untuk mengukur tingkat keberagamaan seorang baik tingkat kesalehan maupun keburukan seorang. Salah satu ukuran itu adalah ketika seseorang ada dalam keterancaman fisik, sosial dan personalnya.

“Sebaliknya orang dengan masa depan yang sudah tertata dengan perencanaan yang matang bisa membuat agama menjadi tidak laku. Hal itu dimungkinkan karena sudah merasa cukup dan tidak membutuhkan agama,” sambungnya.

IMG_7893Meski begitu, aktivitas keagamaan di Indonesia secara umum sudah tinggi. Orang Islam selalu aktivitas jum’atan tiap jum’at, begitu orang Kristen dan Katolik yang mengunjungi gereja tiap hari Minggu. “Satu sisi memang benar begitu, Satu sisi lain orang yang semakin rasional semakin sedikit tingkah kehidupannya. Sebaliknya, Orang yang rajin beragama menampilkan praktik-praktek poligami, anak banyak dan lain sebagainya,” tambahnya.

Ditambahkannya, pembacaan fenomena tersebut dilihat dari survei opini publik yang dilakukan dengan metode peneltiian kuantitatif. Artinya itu dilakukan secara berkala dengan metode statistik angka-angka.

“Sekularisasi bisa dimaknai beragam. Ada dua cara yang bisa digali ketika menggunakan pendekatan itu. pertama soal agen atau manusia, kedua soal struktur yang dilihat misalnya dari kebijakan agama” tambahnya.

Ada perbedaan praktek sekularisasi. Khusni memaparkan perbandingan di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Turki dan Prancis. Antanya ketiga mempunyai kebijakan yang berbeda dalam mengeluarkan kebijakan agama bagi masyarakatnya.

“Di negara Prancis dan Turki tidak memperbolehkan membawa jilbab. Sementara di Amerika dibolehkan. Soal seremoni keagamaan di Amerika boleh, lainnya tidak boleh. Pendidikan agama di Prancis diperbolehkan sementara dua negara lainnya tidak boleh,” terangnya.

Aceng Husni Mubarok
Aceng Husni Mubarok

Sementara itu, aktivis eLSA Semarang Khoirul Anwar mengemukakan bahwa masyarakat Arab pra Islam dulu tidak terlalu mementingkan agama. Arab pra Islam, khususnya Quraisy, bukan orang-orang yang tanggap terhadap persoalan agama. Mereka lebih mementingkan ekonomi. Masyarakat Quraisy yang rata-rata terdiri dari para pemilik modal punya cita-cita untuk menjadikan Makkah sebagai pusat perekonomian Arab. Namun kemudian ditentang oleh Muhammad. Bagi Muhammad, kekayaan harus didistribusikan kepada semua orang. “Orang dari suku apapun berhak untuk kaya, kekayaan tidak boleh dimonopoli Quraisy. Demikian kira-kira yang dibenak nabi Muhammad itu,” tegas Anwar. Tapi sayangnya ide besar nabi itu disalah gunakan oleh sebagian sahabatnya. Dalam perjuangan melawan kapitalis Quraisy, para sahabat terjerembab dalam kepentingan pribadi yang tidak baik, yakni menumpuk kekayaan untuk dirinya sendiri. Harta jarahan perang atau biasa disebut ghanimah menjadi tujuan utama sebagian sahabat dalam berperang. “Nyata kan, dalam perang Uhud umat Islam kalah karena terburu untuk mengambil ghanimah?” tanya Anwar demi membuktikan pernyataannya.

“Jadi, tujuan nabinya sangat baik, mensejahterakan semua umat manusia, apapun agamanya, tapi dalam prosesnya, malah disalah gunakan umatnya. Di sini, agama berada di ruang publik, terlebih Islam yang biasanya selalu menguasai dan ingin menang sendiri harus mencerminkan cita-cita nabinya, yakni mensejahterakan semua umat manusia,” tegas Anwar, pengurus Divisi Kajian di eLSA.

Dalam al-Quran Tuhan melarang umat Islam mencaci maki sesembahan umat agama lain. Memaki Tuhan kepercayaan agama lain dapat mendatangkan cercaan balik dan berujung pada pertikaian. Dan ini dilarang keras oleh Islam yang ajaran-ajarannya menyeru ke dalam perdamaian, atau dalam bahasa al-Quran “udkhulu fis silmi”. Dengan berpijak dari ajaran ini maka masing-masing agama boleh menikmati ruang publik. “Umat Islam harus mempersilahkan umat agama lain untuk ikut serta menikmatinya. Sehingga pada gilirannya ruang publik akan memperlihatkan kerukunan umat beragama,” pungkasnya. (elsa-ol/Nazar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here