60 Persen dari 112 Siswa Haramkan Selamat Natal

0
74
Peserta Training Pengembangan Pendidikan Agama Islam Berbasis Kearifan Lokal untuk Siswa SMA/SMK
Peserta Training Pengembangan Pendidikan Agama Islam Berbasis Kearifan Lokal untuk Siswa SMA/SMK
Peserta Training Pengembangan Pendidikan Agama Islam Berbasis Kearifan Lokal untuk Siswa SMA/SMK

[Semarang – elsaonline.com] 60 persen dari 112 siswa muslim Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muslim haramkan ucapan Selamat Hari Natal. Data ini diperoleh dari hasil survei Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang dari 20 sekolah di eks Karesidenan Semarang.

Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang Tedi Kholiludin mengatakan, hasil survei tersebut bisa dijadikan sebagai pijakan awal untuk melakukan analisis. Memang fakta ini cukup mengejutkan, mengingat SMA/SMK (terutama sekolah negeri) sejatinya berbaur dengan siswa non-Muslim saat di sekolah. Berbeda dengan siswa di madrasah yang relatif homogen.

“Hasil survei eLSA menunjukan bahwa sekitar 60 persen dari jumlah 120 siswa SMK/SMA menyatakan haram untuk mengucapkan Natal,” kata Tedi, di kantornya, Sabtu (11/1).

Survei ini dilakukan berbarengan dengan pelaksanaan “Training Pengembangan Pelajaran Agama Islam (PAI) untuk siswa SMA/SMK Se eks Karesidenan Semarang”. Training dilakukan selama 4 hari Selasa hingga Jumat (7-10) Januari 2014 di Islamic Center Manyaran Semarang. 

Tedi menambahkan, hasil survei di atas berbalik dengan penerimaan siswa SMA/SMK terhadap dasar negara Pancasila. Dengan jumlah siswa yang sama, 98 persen siswa menilai Islam tidak bertentangan dengan Pancasila. Meskipun demikian, kata Tedi, siswa yang menerima Pancasila bukan berarti tak sepakat untuk menegakkan Syariat Islam.

“Jadi ketika siswa menerima dasar negara Pancasila,  masih ada ekspektasi bahwa Syariat Islam bisa ditegakkan. Jumlah mereka yang menghendaki demikian ada sekitar 28 persen. Karenanya, penting bagi pihak sekolah untuk membentengi siswa dengan pemahaman yang utuh tentang Islam, Nasionalisme dan Kemajemukan,” kata Tedi.

Karena itu, lanjut Tedi, penting kiranya untuk terus memberikan pemahaman agama yang toleran dan berbasis kearifan lokal. Sehingga ajaran-ajaran salafi-radikal tak mudah masuk ke sekolah-sekolah umum. [elsa-ol/Ceprudin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here