6,7 Juta Laki-laki Berpotensi Membeli Seks

0
81
Khoirul Anwar (kaos merah) dan Ardik FS (kedua dari kiri) saat menjelaskan materi tentang prostitusi. Foto: Abdus Salam

[Semarang –elsaonline.com] Prostitusi itu tak pernah mati. Negara sendiri memperkirakan ada 6,7 juta laki-laki dewasa yang berpotensi membeli seks. Adapun wanita pekerja seksnya sendiri “hanya” ada sekitar 230 hingga 300 ribu orang.

Demikian ditegaskan aktivis sosial Sub Recipient (SR) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Ardik Ferry Setiawan, dalam diskusi ‘Menyibak Tabir Prostitusi dan Lokalisasi’ di Hall eLSA Semarang, Jum’at satu pekan lalu. Ardik menjelaskan, latar belakang prostitusi tidak semata-mata hanya ekonomi, tetapi juga budaya, psikologis, pendidikan, dan human trafficking. “Makanya, soal prostitusi ini membutuhkan kesadaran bersama. Ya, ada perlindungan bersama terhadap anak-anak, remaja dan orang miskin,” ujarnya. SR NU merupakan lembaga yang ditunjuk oleh PWNU Jawa Tengah untuk menangani program penanggulangan HIV/AIDS di Jawa Tengah.

Selain itu, dia mengungkapkan, dilihat dari pola transaksi dari dulu hingga sakarang, fenomena prostitusi masih sama. Menurutnya, ada mucikari dan germo atau mami, papi dan pengasuh. Disampaikan pula, lantas para pekerja seks akhirnya tidak berdaya. “Padahal, mereka ini harus didorong untuk berdaya, meski pada kenyataannya sulit sekali dari mucikari,” terangnya.

Meskipun demikian, dia menilai, selain faktor ekonomi, wanita pekerja seks juga mucul karena ikhwal penipuan. Menurutnya, mereka dijanjikan bekerja di sebuah kafe. Awalnya, tidak melayani pembeli seks, suruh bersih-bersih di wisma. Tapi lama kelamaan ditawari menyanyi dan akhirnya melayani. “Jadi substansi persoalannya adalah bagaimana kita mengurangi pembeli seks. Tapi suara ini belum ditangkap karena pendekatan yang dilakukan selama ini lebih pada konteks penyadaran,” bebernya.

Karena itu, pria berkacamata ini berharap, intervensi lebih banyak kepada mereka yang membeli, bukan kepada penjual. Belum lagi, imbuh dia, perlu ada razia kepada mereka yang datang ke lokalisasi. Sebab, selama ini pembeli seks tidak pernah dikenakan sanksi. “Apalagi Mensos menginginkan seperti Swedia. Mereka yang tidak menggunakan kondom, menyiksa WPS dan lain-lain itu harus disanksi,” katanya.

Sementara terkait maraknya prostitusi online, dia menyatakan, perlu adanya kanalisasi untuk mencegahnya. Hal ini, menurutnya, penting untuk mengalihkan agar pekerja seks tersebut tidak sebagai pleasure, tapi juga sebagai korban. “Nah, ketika kita melihat sebagai korban, akan muncul simpati. Bukan sebagai sampah masyarakat. Jadi, metodenya bukan penghilangan, tetapi korban,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here