Agama dan Kapitalisme Pasar

0
124

Beberapa Point Pemikiran Diskusi Agama, Sekularisasi dan Pasar [19/Maret/2014]

Oleh: Cahyono

@cahyonoanantato

Salah seorang peserta diskusi sedang memberi respon
Salah seorang peserta diskusi sedang memberi respon

Pasca terjadinya reformasi 1998, ruang publik masyarakat Indonesia diwarnai oleh banyak aliran keagamaan. Mulai dari yang sekuler, liberal, pluralis, fundamentalis dan sebagainya. Seperti yang disampaikan oleh Peter L. Berger kondisi ini merupakan desekulerisasi agama.  Jika pada abad 20, kelompok modernisasi memahami bahwa sekularisasi, menyebabkan agama tak memiliki peran di publik. Tapi justru yang terjadi adalah sebaliknya. Agama menjadi magnet yang kuat untuk menarik masyarakat.

Melalui strategi pemasaran yang barangkali ini menjadi hal yang tabu saat ini. Kekuatan ideologis memang alternatif kekuasaan suatu negara menjadi maksimal. Penulis mencoba mendefinisikan agama dalam kekuatan ideologisnya melalui teori pemasaran.

Dalam konteks ini ada dua respons terhadap desekularisasi. Pertama adalah kelompok yang menganggap atau mencoba menghindari dari modernisasi. Kedua, kelompok agama yang mencoba membangun revolusi agama. Respon terhadap multikulturalisme coba diupayakan sebagai strategi untuk merespons modernisasi. Ada empat hal yang dilakukan teologi pembebasan, anti modernisme, quasi agama dan sinkretisisme agama sebagaimana yang ditawarkan oleh Lia Eden, misalnya.

Respons terhadap sekulerisme tidak pernah dilakukan secara beragam. Ada yang menolak dan justru ada yang benar-benar merangkul. Dalam menghadapi modernisasi, penulis mencoba menawarkan dua cara. Pertama, bagaimana kelompok ini mengikuti dalam kenyamanan modernitas itu sendiri. Dengan begitu, justru tidak begitu menghiraukan bahwa kita sesungguhnya memiliki nilai sendiri dalam konteks agama yang diyakini. Kedua, tetap bertahan dalam tradisi lamanya.

Mengacu dari fenomena di atas, ditemukan beberapa macam teori untuk merespon hubungan agama dengan kehidupan publik. Salah satunya adalah teori Sekulerisasi Klasik. Asumsinya, jika orang bisa menyelesaikan masalahnya dengan rasio, maka agama (yang relatif tidak sepenuhnya rasional) tidak terlalu dibutuhkan.

Amerika itu contoh yang unik. Sebagian orang menganggap mereka adalah menganut keberagamaan sekuler, namun masih terdapat simbol-simbol agama. Misalnya dalam uang yang tertulis “In God We Trust.”

Teori lain yang digunakan adalah Individualisasi. Teori ini didasarkan atas individual freedom. Ini yang barangkali sejalan dengan argumennya Thomas Paine, “My own mind, is my own church,” atau istilah Istilah lain, one man one faith (satu orang satu keyakinan). Fenomena ini dalam sosiologi agama sering disebut sebagai believing without belonging, meyakini tapi tak harus memiliki, dia beriman tanpa beragama.

Yang terakhir adalah teori pasar. Teori pasar ini dilihat dari dasar hukum penawaran dan pemenuhan. Dalam teori umum marketing dikenal istilah empat P: Product, Place, Price dan  Promotion.

Produk dalam pengertian disini adalah agama itu sendiri. Misalnya agama Islam, Kristen, Katolik, Konghucu, Hindu, Budha. Lalu agama memiliki price atau harga. Ada harga yang harus dibayar saat masyarakat menganut suatu agama. Harga disini dimaknai bukan semata-mata bersifat material, namun juga immaterial. Lalu P berikutnya adalah place atau tempat. Bisa dimaknai sebagai kepemilikan atau fasilitas untuk aktivitas ibadah atau menyebarkan ajaran agama. Misalnya, rumah ibadah, sekolah dan sebagainya. Lalu yang terakhir, promotion. Setiap agama pasti mencoba untuk mempromosikan kualitas ideologinya dalam kehiidupan bermasyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here