Agama dan Ruang Keterasingan: Pengalaman Diri Menjadi Perempuan

0
136
Foto: voacambodia

Oleh: Alhilyatuz Zakiyyah (Pengelola Sekolah Kajian Gender ELSA)

Sebagai negara yang berani menyebutkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sesuatu yang hidup dalam batin warga negara, tidak bisa dijadikan satu-satunya pembenaran untuk menghakimi seseorang harus bertuhan, beragama dan beribadah. Sebab dalam perdebatannya saat itu, kita tahu bahwa pilihannya hanya 2, yaitu menjalankan syariat Islam atau mengakui adanya agama-agama lain yang kuat.

Mengapa yang kuat? Karena tak ada kursi perwakilan agama lokal atau para penghayat kepercayaan sehingga kerap masyarakat menyebutnya minoritas agama karena dilemahkan posisinya oleh situasi politik. Dalam proses konstitusinya baru diakui keberadaannya pada tahun 2017 kemarin.

Lalu bagaimana dengan mereka yang masih mencari kepercayaan, meraba keimanan atau tidak melakukan itu sama sekali? Sebagai negara demokratis, negara sama sekali tidak bisa memaksakan. Apalagi Indonesia telah berkomitmen untuk meratifikasi ICCPR (International on Civil and Political Rights) menjadi UU No. 12 tahun 2005 tentang Hak-hak Sipil dan Politik. Ini menegaskan posisi negara bukan menjadi pengatur (regulator of rights) yang konsekuensinya nanti unsur kemelekatan tidak dijamin secara penuh, melainkan sebagai guardian of human rights atau penjaga HAM.

Memperdebatkan bagaimana seseorang hidup dalam konteks beragama di Indonesia hampir tidak pernah selesai. Jika ditelusuri lebih lanjut Pancasila dan HAM seperti sesuatu yang berbeda arah. Padahal teks Pancasila telah final, tetapi upaya pembacaan kontekstualnya tidak pernah mati. Saya rasa perlu upaya untuk membaca secara mendalam teks Pancasila dalam wajah Indonesia saat ini. Setiap orang berhak memiliki pengalaman subjektif akan jiwa Pancasila yang memiliki gagasan kemanusiaan.

***

Dalam perjalanan hidup, saya terlahir sebagai seorang muslimah keturunan. Tentu ini tanpa melalui dialog persetujuan dengan diri saya. Secara langsung saya mematuhi nilai agama yang diajarkan oleh orang-orang dewasa. Agama bagi saya seperti sebuah identitas individu yang tercipta dari adanya relasi kuasa, namun diam-diam menyelinap membangunkan imajinasi tentang Tuhan. Waktu itu saya tidak cukup memiliki pemahaman untuk memilih apa agama saya, atau apakah saya beragama atau tidak. Saya ingat sekali yang pertama-tama menginternalisasi gagasan tentang Tuhan adalah dituturkannya cerita Nabi-Nabi.

Saat itu saya bersekolah di RA (Raudlatul Athfal) yang setara dengan TK. Siang harinya saya selalu dibiasakan tidur siang oleh Bapak Ibu. Suatu ketika saya tidak bisa tidur, memikirkan ingin bermain bersama teman-teman di luar rumah. Tapi apalah daya, masa itu saya memang sangat mematuhi orangtua. Saat berusaha memejamkan mata, hadirlah sosok laki-laki yang saya anggap Nabi dalam bayangan saya. Yang saya tahu Nabi itu memang laki-laki, saya tidak pernah diajarkan Nabi berjenis kelamin perempuan.

Tiba-tiba mampirlah Nabi Muhammad dalam bayangan saya sedang membelah bulan, punya kekuatan luar biasa. Saya kagum orang semacam itu. Bayangan Nabi Sulaiman berbicara dengan semut juga membekas dalam ingatan. Saya berdialog dengan diri saya sendiri bahwa saya ingin menjadi Tuhan, jauh sebelum orang-orang dewasa menanyakan saya ingin jadi apa kelak kalau sudah besar. Pikir saya, Sang Pencipta Nabi tentu lebih hebat. Jiwa anak-anak memang unik, mudah menyerap sesuatu dan memiliki imajinasi liar. Dari sini baru saya sadari bahwa gagasan tentang Tuhan selalu berkembang dan tidak berhenti.

Misal pada zaman Nabi Muhammad, orang-orang menginternalisasi Tuhan dengan berjihad melakukan peperangan. Makanya jika zaman sekarang masih ada orang-orang yang selalu menggaungkan halal darah orang-orang yang berbeda dengan kelompok mereka, semangatnya tidaklah revolusioner. Mereka adalah kelompok fundamentalis yang berusaha menyamakan zaman dengan masa lalu, padahal mencari pemimpin seperti Nabi Muhammad juga tidak ada.

Kisah lainnya yaitu cerita saat mengaji malam hari. Sebelah barat rumah saya adalah mushola untuk melaksanakan ibadah. Bapak Ibu saya mengajar ngaji pada malam hari. Selesai ngaji kadang ada dongeng yang diceritakan oleh para orangtua, siapapun itu. Tidak harus guru ngaji. Ceritanya biasanya tentang kisah Nabi atau kisah inspiratif lainnya. Juga tentang hantu. Dari beberapa cerita, cerita hantulah yang ditunggu-tunggu.

Saya dan kawan-kawan lainnya seperti mendapatkan informasi baru untuk merapalkan doa-doa ketika menemui tempat-tempat yang diceritakan angker. Saya juga pernah langsung membaca Al-Quran supaya tidak diganggu hantu. Sejak tingkat TK juga saya diajari berjilbab. Mematuhi orangtua atau mematuhi agama menjadi sesuatu yang sulit untuk dibedakan. Apalagi Ibu selalu menawarkan agama untuk meyakinkan saya supaya mengikutinya. Lebih dalam, situasi ini adalah situasi dimana saya dapat memusatkan perhatian pada Tuhan. Saya selalu merasa gagal dan ciut hati ketika mengalami kehampaan. Saya kecil, selalu ingin dekat dengan Tuhan.

Berjalannya waktu, saya bertemu dengan banyak keberagaman seksualitas dan iman. Saya mulai mengerti bahwa kegelisahan sekecil apapun sangat membakar diri saya dalam pengalaman-pengalaman tak terduga. Saya sadari, ada yang tertinggal dalam hidup saya ketika semuanya mengalami perkembangan, yaitu hakikat pengalaman keagamaan yang masih kering dan miskin. Diam-diam, dalam hiruk pikuk kesibukan yang mendesak, saya selalu menunggu Tuhan menunggu ketenangan akan bersemayam dalam diri saya. Saya khawatirkan dalam diri adalah jika keimanan pada Tuhan diam-diam menyurut dicuri oleh prasangka-prasangka tanpa jawaban yang lebih memilih menanti.

Hal yang saya tinggalkan akhir-akhir ini adalah tidak berusaha mengkontekskan agama yang saya peluk dengan kondisi yang saya temui. Kesadaran ini sering menguat di ruang-ruang perjumpaan dengan memperbincangkan simbol-simbol agama yang membungkus seseorang. Suatu hari, perempuan berinisial R menanyakan pada saya dengan raut wajah serius dan dikatakannya khawatir menyinggung. Saya ikut penasaran dan mempersilakannya untuk berbicara, begini singkatnya:

“Apakah kamu sekarang merokok? Apakah kamu akan melepaskan jilbab? Saya mengamati dari media sosialmu.”

Saya tertawa menjumpai pertanyaan semacam itu sekaligus bahagia karena dia berusaha mencari jawaban dari kegelisahannya. Suatu hari sebelumnya salah seorang perempuan berinisial A menceritakan bahwa si B mencurigai saya termasuk orang yang mencintai sesama jenis, alias lesbian. Hanya karena si B pernah bertemu kawan saya yang seorang lesbian.

Sebagai perempuan muslim, pertanyaan semacam itu wajar akan dilimpahkan kepada saya saat melakukan hal yang tidak sewajarnya, apalagi jika dimulai dari keadaan yang wajar. Saya merasa, perempuan muslim yang mengenakan simbol-simbol agama akan jauh lebih cepat mendapatkan penilaian masyarakat. Sebab budaya patriarki pada perempuan muslim melekat. Seperti perempuan berjilbab adalah perempuan taat beribadah, tidak keluar malam, dan selalu menurut perintah orangtua atau suami.

Menampakkan pikiran diri sendiri adalah tindakan jujur untuk merawat identitas diri yang seringkali ditutupi oleh identitas kelompok. Perubahan tidak jauh dari proses pemaknaan diri yang dilakukan terus menerus. Ketika perempuan memutuskan menjadi manusia sosial, tantangannya menjadi berlipat ketika membawa identitas agama. Kekhawatirannya adalah jika terbawa menempatkan agama sebagai identitas sosial. Seperti dalam situasi politik misalnya, agama dan perempuan menjadi alat identitas sosial untuk mencapai tujuan-tujuan politis.

Upaya pembuktian bahwa untuk membawa nilai agama tidak cukup terbatas hanya pada simbol adalah hakikat pengalaman keberagaman. Ada satu nasihat Ibnu ‘Athaillah yang mengaliri hati saya:

“Jangan menunggu hingga semua aghyaar (sesuatu yang menimbulkan gangguan pada kondisi rohani kita) hilang terlebih dahulu. Sebab hal itu akan menghalangimu untuk terus bersikap berjaga-jaga dan ingat kepada-Nya pada saat engkau berada dalam situasi (penuh gangguan) di mana Dia menempatkanmu di sana” – Nasihat Ibnu ‘Athaillah

Saya merasa, ketidaktenangan seberapapun menghinggapi batin, hati dengan tajam akan merasakan. Saya ingin mengatakan tentang beban kegagalan menghayati agama sebagai pondasi melakukan kebaikan bahwa kondisi merasakan naik turunnya keimanan adalah sebuah kesadaran. Jika saya dilingkupi sebuah keterasingan, alangkah nikmatnya jika dilihat sebagai bahan evaluasi diri.

Apakah saya dan agama dapat berjalan bersamaan, atau ada yang sedang tertinggal. Ketika kawan saya yang seorang transwoman mengajak saya untuk sholat saya bergeming dan berpikir bagaimana pengalaman kebertuhanan tidak memandang identitas, ia realitas subjektif dan mengisi ruang keterasingan. Dan ketika kawan saya yang mengaku seorang agnostik menjadi pegiat HAM, dirinya adalah realitas yang harus dibaca pula melalui Pancasila, bahwa sila pertama tidak berdiri sendiri.

Dalam keterasingan itu, saya sebagai perempuan juga mengalami perasaan-perasaan menggugat, berjarak dan tidak menerima sepenuhnya ajaran-ajaran agama yang terlalu kaku. Atas segala kelemahan diri memahami agama untuk selalu menjawab kegelisahan, terkadang saya meninggalkan agama, membiarkan, dan hanya menemui dalam ibadah yang kadang hanya sebagai rutinitas, tidak sepenuh hati. Kalau begini, kembalilah saya mengenali diri sendiri.

*Sedang menghindari pemakaian kata “sebagai perempuan” yang kerap didudukkan untuk menghakimi perempuan melakukan ini itu. Saya sedang percaya, juga lebih suka menggunakan kata “menjadi perempuan” yang menyiratkan pemikiran Simone De Beauvoir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here