Akulturasi Budaya Islam dan China di Nusantara

0
113
Sumanto Al Qurtuby

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Sumanto Al Qurtuby
Sumanto Al Qurtuby
Di Solo, Jawa Tengah, pernah ada sebuah pementasan karya tari bertajuk Bedhaya Layar Cheng Ho. Pementasan ini sungguh menarik perhatian saya. Menarik karena ini merupakan karya tari baru yang memadukan tradisi Jawa, Islam dan ekspresi budaya China. Nuansa “silang budaya” dari pementasan tari ini tidak hanya tampak dari para aktor yang terlibat (Jawa-China) tetapi juga warna “sinkretisme” penyangga tarian. Misalnya gamelan Jawa yang disandingkan dengan vokal dan syair Islam serta sindenan Jawa yang mengisahkan kebesaran Cheng Ho. Di samping itu juga ada pementasan wayang Poo Tay Hie (wayang khas budaya China) dan musik Pat Im, yakni musik China yang dimainkan oleh sejumlah orang Jawa yang tinggal di kawasan Balong, Solo. Busana yang dipilih saat pementasan juga mencerminkan budaya China dan Jawa.

Mengapa pada pementasan karya tari “Bedhaya Layar Cheng Ho” ini terdapat unsur-unsur China, Islam dan Jawa? Dari namanya sudah bisa ditebak, karya tari ini mengacu pada kisah legendaris pelayaran Cheng Ho, seorang China muslim yang lahir dari etnis Hui, Yunan (Tiongkok) pada tahun 1370 M. Kita tahu, Cheng Ho (nama asalnya Ma Ho) adalah tokoh sejarah China yang sangat terkenal tidak hanya di negeri Tirai Bambu itu saja tetapi juga di hampir semua belahan dunia internasional. Kisah ekspedisi (pelayaran) Cheng Ho yang melegenda di awal abad ke-15 itu telah menorehkan jejak sejarah yang memukau. Kisah ini juga turut mengilhami lahirnya ratusan karya ilmiah baik fiksi maupun non fiksi. Salah satu diantaranya adalah legenda “Sin Bad Sang Pelaut” yang begitu populer di Timur Tengah. Kisah Dampu Awang yang begitu akrab di masyarakat pesisir (utara) Jawa juga diinspirasi oleh ekspedisi Cheng Ho ini.

Begitu populernya tokoh Cheng Ho ini sampai-sampai ada perkumpulan bertaraf internasional yang menamakan diri “Cheng Ho Society” yang presidennya bernama Prof. Tan Ta Sen dari Singapura. Tahun depan, asosiasi ini menggelar peringatan pelayaran Cheng Ho yang ke-600 dalam sebuah symposium internasional yang diselenggarakan di Singapura dan Malaka (Malaysia). Kebetulan saya juga diundang oleh Prof. Tan sebagai salah satu pemateri dalam acara tersebut.

Yang menjadi keprihatinan saya saat ini adalah Cheng Ho tidak hanya menjadi tokoh sejarah yang dipuja sebagai “Bahariwan Agung” tetapi juga tokoh mitologi yang disembah di berbagai kelenteng dalam bentuk Sam Po Kong. Ini adalah sebuah anakronisme historis. Fakta ini diperparah oleh berbagai buku tentang Cheng Ho yang ditulis secara hagiografis (maksudnya, penulisan yang bernada mengagung-agungkan seolah Cheng Ho ini adalah manusia sempurna yang melampaui orang biasa). Bukan dengan menggunakan pendekatan sejarah kritis. Akibatnya, kisah tentang Cheng Ho lebih mirip dongeng di dunia mitologi. Inilah yang oleh sejarawan disebut “sejarah yang dimitoskan” sebagai imbangan dari “mitos yang disejarahkan.” Cheng Ho telah menjadi tokoh sejarah sekaligus tokoh mitos.

Cheng Ho atau Zheng He memang harus diakui sebagai tokoh sejarah China abad ke-15 yang memiliki nama harum karena jasanya dalam menggalang kerja sama antarnegara/kerajaan. Sejak 1405, awal mula Cheng Ho mengadakan pelayaran sampai wafatnya, 1433, tercatat ia telah mengunjungi lebih dari 37 negara/kerajaan saat itu. Ekspedisi ini melibatkan tidak kurang dari 27.550 orang perwira dan prajurit termasuk di dalamnya ahli astronomi, politisi, pembuat peta, ahli bahasa, ahli geografi, para tabib, juru tulis dan intelektual agama dengan 62 kapal besar dan 225 junk (kapal berukuran lebih kecil). Di antara yang ia kunjungi tentu saja adalah Jawa yang waktu itu, hegemoni teritorial masih dipegang oleh Majapahit sebelum tumbang pada tahun 1478 oleh sebuah gerakan politik yang disponsori oleh kerajaan-kerajaan kecil berbasis Islam di pesisir utara Jawa yang oleh sejarawan gaek Belanda, de Graaf disebut Vorstendommen.

Tercatat 3-5 kali Cheng Ho beserta rombongan yang sebagian muslim China itu singgah di pesisir Jawa dari Sunda Kelapa di ujung Barat sampai Surabaya. Historical report ini ditulis oleh Ma Huan (juga seorang muslim China yang bertindak sebagai sekretaris Cheng Ho dan juru bahasa Arab) dalam sebuah manuskrip yang diberi judul Ying-yai Sheng-lan (ditulis 1416). Ma Huan inilah yang bertindak sebagai mediator Cheng Ho ketika bertemu Syeikh Maulana Malik Ibrahim (w.1419) yang dikenal sebagai “Bapak Walisongo” di Gresik. Selain manuskrip yang ditulis Ma Huan tadi, laporan kesejarahan Cheng Ho juga dicatat dalam Ming Shi (“Sejarah Dinasti Ming”). Sumber-sumber China klasik ini kemudian dikumpulkan oleh Groeneveldt dalam sebuah buku tipis berjudul Historical Notes on Indonesia and Malaya: Compiled From Chinese Sources.

Yang menarik dari laporan Ma Huan itu adalah adanya komunitas China muslim yang ia saksikan di hampir semua kawasan pesisir Jawa terutama kota-kota yang menjadi pusat pelabuhan. Komunitas muslim China ini hidup berdampingan dengan etnis lain dari India, Arab, Malaka dan lain-lain termasuk Jawa tentunya secara damai. Kesaksian Ma Huan ini bukanlah sebuah laporan apologis karena kebetulan ia seorang muslim melainkan sebuah fakta historis yang bisa dibuktikan dengan berbagai peninggalan kepurbakalaan Islam yang mencerminkan unsur-unsur China. Inilah yang saya sebut sebagai “Sino Javanese Muslim Cultures” yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara, Lasem, Tuban, Gresik dan Surabaya.

Beberapa sejarawan juga menilai adanya keterpengaruhan budaya China terutama dalam struktur bangunan masjid-masjid kuno di Jawa. Sejarawan sekaligus sinolog Perancis, Dennys Lombard misalnya menyatakan bahwa struktur masjid-masjid kuno yang beratap susun bertingkat mencerminkan struktur Zhenhailou di Kanton (kota yang dikenal sebagai salah satu basis Islam di China). Sementara ahli sejarah Jawa dari Belanda, de Graaf dan Pigeaud dalam Chinese Muslim in Java, menduga atap bertingkat yang menjadi gaya masjid kuno di Jawa itu diilhami oleh bangunan pagoda di China. Bentuk hiasan di atas masjid-masjid kuno di Jawa (sering disebut “mustaka”) yang berbentuk bola dunia yang menyerupai stupa dengan dikelilingi empat ular, juga jelas terinspirasi dari tradisi China.

Selain itu, keterpengaruhan budaya China juga bisa kita saksikan pada peninggalan kepurbakalaan Islam lain seperti ukiran padas di masjid kuno Mantingan, Jepara termasuk hiasan seni ukir indah di kompleks Astana Sultan Hadlirin, menara masjid di pecinan Banten, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, arsitektur keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi yang menyerupai Forbidden City di China, konstruksi masjid Demak terutama soko tatal penyangga masjid beserta lambang kura-kura, konstruksi masjid Sekayu di Semarang yang oleh Abu Bakar Atjeh dalam Sedjarah Mesdjid dianggap sebagai masjid tertua di Jawa. Di kompleks Masjid Agung Demak bahkan terdapat berbagai peninggalan Dinasti Ming—dinasti yang dikenal sangat apresiatif terhadap Islam di China. Dan peninggalan kesejarahan yang tak terelakkan dari masyarakat China muslim adalah dua masjid kuno yang berdiri megah di Jakarta, yakni Masjid Kali Angke yang dihubungkan dengan Gouw Tjay dan Masjid Kebun Jeruk yang didirikan Tamien Dosol Seeng dan Nyonya Cai.

Fakta kesejarahan ini belum termasuk berbagai kelenteng kontroversial yang diduga kuat semula adalah tempat peribadatan yang didirikan oleh China muslim. Kelenteng dimaksud adalah kelenteng Ancol (Jakarta) yang juga disebut Kelenteng Nyai Ronggeng, Kelenteng Talang (Cirebon), Kelenteng Gedung Batu (Semarang), Kelenteng Sampokong (Lasem & Tuban) serta Kelenteng Mbah Ratu (Surabaya). Bangunan “masjid” ini kemudian berubah menjadi kelenteng setelah adanya arus migrasi China Konghucu pada masa kolonialisme Belanda. Masyarakat China Konghucu ini sengaja didatangkan oleh Pemerintah China Daratan (dalam hal ini Dinasti Ching atau Manchuria yang berhaluan Konfusianis) yang berkolaborasi dengan Belanda untuk mengurangi pengaruh China Islam yang cukup kuat di Asia Tenggara.

Fakta Sino Javanese Muslim Cultures di atas menunjukkan bahwa antara China dan Jawa pernah hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence) di negeri ini sebelum akhirnya hubungan harmoni mereka dirusak oleh Belanda. Lebih dari itu, keharmonisan mereka tidak hanya ditunjukkan dengan transformasi budaya Jawa-China tetapi juga diikat dalam sebuah “perkawinan silang” karena kita tahu semua imigran China waktu itu adalah laki-laki. Kata “nyonya” pada waktu itu berasal dari akar kata Hokian nio’a atau niowa yang berarti “perempuan lokal yang dinikahi laki-laki Tionghoa”. Juga jangan lupa, adanya “tembong biru” di pantat atau bagian bawah lain dari bayi yang baru dilahirkan (sering disebut Mongoolse Vlek) itu menunjukkan adanya darah Mongoloid atau darah China pada bayi yang bersangkutan. Karena itu tidaklah mengherankan jika banyak masyarakat “Indonesia” dewasa ini yang masih keturunan Tionghoa (meskipun kulitnya cokelat).

Fakta-fakta di atas perlu diungkap kembali ke panggung publik apalagi China yang selama ini selalu dianggap sebagai “orang asing” dan “penumpang gelap” bukan dianggap sebagai bagian dari sejarah di republik ini—sebuah pandangan yang tidak hanya mereduksi tetapi bahkan bertolak belakang dengan fakta-fakta kesejarahan. Masyarakat awam barang kali hanyalah “korban propaganda” saja dari sebuah rezim politik sehingga ikut-ikutan bersikap sentimen dan anti-pati terhadap bangsa Tionghoa tanpa mengerti duduk persoalannya. Karena itulah, upaya deseminasi fakta harmoni dan integrasi China-Islam-Jawa perlu terus dikembangkan. Apalagi dengan menjadikan identitas “Islam” sebagai perekat kebudayaan. Dengan ini diharapkan semangat rasialisme anti Tionghoa di Indonesia lambat-laun bisa terkurangi. Dalam perspektif inilah, saya menyambut baik pementasan silang budaya karya tari model “Bedhaya Layar Cheng Ho” ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here