‘Anjing’ Menggonggong, Kafilah Menggonggong

0
33
Sumanto Al-Qurtuby

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Baru-baru ini umat Islam Indonesia sempat ngamuk pada Pak Domo. Pasalanya, mantan suami Siska ini pernah melontarkan istilah ekstrem kanan –sebuah sebutan untuk menunjuk pada radikalisme, brutalisme, vandalism dan ekstremisme Islam. Itulah salah satu dari keunikan umat Islam. Ketika Islam diusik (apalagi yang ngusik orang sekaliber Sudomo yang jelas-jelas Kristen tulen) mereka marah, unjuk rasa. Tetapi ketika mereka melihat ketidakadilan, penindasan hak asasi, diskriminasi dalam pelbagai bentuk dan ragamnya, mereka meminjam istilah Zaenuddin MZ, tenang-tenang saja. Unik. Barangkali karena penghayatan terhadap teologi Asy’ari yang terlalu mendalam sehingga berbuat demikian.

Saya tidak mengatakan sikap yang demikian itu jelek. Hanya saja potensi kritisisme Islam itu akan lebih berdaya guna jika diterapkan pada konteks yang lebih makro. Misalnya, memperjuangkan ideology equal and justice. Ini kan lebih maslahah daripada membrondong Sudomo. Sebab, dengan bereaksinya umat Islam, terpancingnya umat Islam dalam ‘kandang’ emosionalitas justru semakin menampakkan bahwa Islam itu agama yang radikal dan brutal. Dan kalau demikian, pancingan Mr Sudomo berhasil mendapatkan ikan. “Lho! Betul kan Islam itu ekstrem.”

Kalau kita melihat sejarah, istilah ekstrem kanan itu bukan produk baru. Sudah klise. Pak Domo itu hanya niru-niru (plagiator) kolonial. Dulu, tahun 1980-an Letjen HR Darsono pernah dituduh ekstrem kanan. Padahal, Pak Darsono itu aktivis Islam. AM Fatwa ketika masih mendekam di LP, sebutan bagi dia adalah tapol eka alias tahanan politik ekstrim kanan. Lagi-lagi yang menciptakan Sudomo, Bambang Triantoro, Benny Murdani, pangkalnya dari Ali Murtopo.

Saya katakana kalau Pak Domo niru kolonial, sebab pada masa penjajahan sudah ada istilah itu. Kyai Ahmad Rifa’I, Ahmad Khatib Minangkabau, Syeikh Hasyim Asy’ari, Kyai Abdul Wahab Hasbullah, Mbah Khalil Bangkalan dan sebagainya itu dijuluki ‘extrimist’ oleh kafir-kafir kolonial. Padahal, beliau-beliau itu seorang ulama besar yang alim plus allamah. Itu biasa. Anggap saja ucapan Pak Domo seperti anjing menggonggong kafilah berlalu. Kalau yang berkata itu Pak Harto baru kita jelaskan. Wong Pak Harto saja santai kok kita ribut.

Pak Domo itu hanya ingin mencari sensasi. Mau menganalisis kerusuhan dari aspek ekonomi, legal (hukum) dan social sudah banyak dibahas. Maka, mencari aspek lain. Dan, sasaran kambing hitamnya adalah Islam. Karena kebetulan Situbondo dan Tasikmalaya adalah basis Islam. Kata Sudomo, Islam itu punya potensi ekstremitas. Sudomo tahu apa tentang Islam. Kenapa dia tidak bilang kerusuhan di Irian Jaya dan Timor Timur karena adanya ekstrem Kristen, mengingat daerah itu basisi Kristen.

Setiap agama maupun etnis memang punya potensi ekstremitas. Ada Hindu ekstrem, Kristen ekstrem, Budha esktrem, Jawa ekstrem, Sunni ekstrem, Syiah ekstrem dan Islam ekstrem pun ada. Akan tetapi, ekstremitas itu tidak akan muncul kalau tidak menemukan lahan subur. Lahan subur itu ya tatanan social-politik yang belum beres. Saya pernah bincang-bincang sama Pak Salim (Kolonel Salim Mega, Kadit Sospol Jawa Tengah) seputar maraknya kerusuhan. Jawaban Pak Salim yakni, “Kerusuhan itu terjadi karena kesenjangan sosial akibat struktur politik yang timpang.”

Sementara Mas Bambang Widjoyanto, Direktur YLBHI Jakarta, menjawab, “Kerusuhan itu timbul akibat tiadanya kepastian hukum di dalam masyarakat.” Dus, masalah kerusuhan itu masalah yang kompleks. Tidak bisa nuduh sini nuduh sana. [Justisia Edisi 10 Th. IV/1997]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here