Award Sultan dan Geliat Kelompok Intoleran

0
88
Julius Felicianus, korban pemukulan masa intoleran

Julius Felicianus, korban pemukulan masa intoleran
Julius Felicianus, korban pemukulan masa intoleran
[Semarang –elsaonline.com] 23 Mei 2014, Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mendapatkan “award” pluralisme. Oleh Jaringan Antar Iman Indonesia, ia dinobatkan sebagai satu dari tiga kepala daerah di Indonesia yang memiliki komitmen dalam menjaga keragaman. Selain Sultan, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Arifin dan Bupati Wonosobo, Kholiq Arif juga mendapatkan penghargaan serupa. (Baca: Bupati Wonosobo Mendapatkan Penghargaan Pluralisme).

Kholiq Arif direkomendasikan oleh Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang. Kholiq mengajukan konsep Wonosobo sebagai “Human Right City.” Pengakuan terhadap keberhasilan Kholiq mengelola keragaman diakui sendiri oleh kelompok-kelompok keagamaan di kota yang terletak di lereng Gunung Dieng tersebut. Rudy Arifin, diajukan oleh Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan (LK3). Saat menerima penghargaan, Rudy menilai penghargaan ini mungkin diberikan karena selama ini ia turut berkontribusi dalam pemberian dana bantuan untuk rumah ibadah. “Saya hampir tak pernah absen untuk hadir dalam perayaan semua umat beragama,” kata Rudy.

Beda halnya dengan dua kepala daerah di atas, munculnya nama Sultan sempat memantik perdebatan. DIY memang unik. Setidaknya dari aspek kebudayaan, tak salah jika menyebut daerah ini sebagai kota multikultur.

Namun, beberapa peristiwa intoleran seperti menggugatnya. Sebut saja misalnya Perusakan Kantor Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) saat diskusi bersama Irshad Manji pada 9 Mei 2012 lalu. Selain itu kita mencatat adanya aksi pemukulan terhadap Aminuddin Azis, aktivis Interfaith dan pengurus Gerakan Pemuda Anshor DIY (2 Mei 2014) serta penggagalan perayaan Paskah se-Sinode Gereja Kristen Jawa kalangan umat Kristen lanjut usia, Adiyuswa (Mei 2014). Dan yang paling anyar adalah kekerasan terhadap umat Katolik yang sedang melakukan doa Rosario di rumah Direktur Penerbitan Galang Press Julius Felicianus (29 Mei 2014). Julianus bahkan berlumuran darah dianiaya masa intoleran itu. Mungkin ada banyak lagi kejadian yang tak tercatat di sini.

Pasca kejadian itu, kemudian banyak yang mempertanyakan bagaimana komitmen Sultan dalam menghadapi situasi seperti ini? Mengapa kelompok intoleran justru semakin menunjukan geliatnya di saat Sultan terus menahbiskan DIY sebagai kota ramah, santun dan multikultur?

Award Sultan dan kelompok intoleran yang semakin menunjukan taringnya seperti menunjukan paradoks DIY.

Jalan keluarnya sejatinya tidak sulit-sulit amat. Menangkap aktor intoleran dan mempersempit ruang geraknya. Bukankah pihak kepolisian sudah sangat siap mengerjakan hal tersebut? Bukankah perangkat keras-lunak, lebih dari cukup untuk mendeteksi mereka? [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here