Belum Ber-IMB, Pembangunan Masjid al-Arqam Dihentikan

0
37
BANGUNAN DIHENTIKAN: Spanduk penghentian pembangunan Masjid al-Arqom di Desa Krapyak Kidul, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan dipasang petugas Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP). Foto: Idoz.

Pekalongan, elsaonline.com – Pembangunan Masjid al-Arqom di Desa Krapyak Kidul, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, diberhentikan petugas Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP). Penghentian pembangunan dilakukan atas rekomendasi beberapa kali rapat antara Pemkot Pekalongan, panitia pembangunan masjid dan pihak warga yang menolak.

BANGUNAN DIHENTIKAN: Spanduk penghentian pembangunan Masjid al-Arqom di Desa Krapyak Kidul, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan dipasang petugas Satuan Polisi (Satpol) Pamong Praja (PP). Foto: Idoz.

Berdasarkan hasil penggalian data elsaonline.com di lapangan, kasus penyegelan ini merupakan buntut dari rentetan kejadian sebelumnya. Masjid yang berukuran 6×6 meter itu beberapa kali berurusan dengan warga karena belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan dinilai kerap mengadakan pengajian yang bernada provokatif.

Sejatinya, penoalakan warga sudah terjadi sejak 2004 dan kembali terjadi pada 2009 hingga terakhir terjadi pada 2017 kemarin. Pada tahun 2009 Masjid Al-Arqom digunakan untuk Salat Jumat oleh jamaah yang menamakan diri sebagai Kelompok Salafi. Padahal, jamaah Masjid Al-Arqom selama bertahun-tahun menjalankan Salat Jumat di Masjid Umar bin Khottob yang jaraknya tak berjauhan.

Baru berjalan tiga kali jumatan, jamaah Masjid Al-Arqom diprotes warga setempat. Warga menilai, bangunan masjid tersebut diwakafkan oleh Mbah Isa bukan difungsikan untuk Salat Jumat. Melainkan sekadar musola yang difungsikan untuk salat lima waktu. Namun, panitia sebutan mushola di Arab Saudi tidak ada, semua masjid selama digunakan untuk beribadah. Sehingga mereka menggelar Salat Jumat.

Menggelar Jumatan

Warga Krapyak Kidul selama ini menjalankan Salat Jumat di Masjid Umar bin Khottob yang bisa menampung ribuan jamaah. Warga menilai, menggelar jumatan di Masjid Al-Arqom tidak sah karena jarak antara Masjid al-Arqom dengan Masjid Umar bin Khottob hanya berjarak sekitar 200 meter.

Ketua Yayasan Al-Aiman Nasrullah Hasan Umar mengatakan, bangunan masjid merupakan wakaf turun temurun dari anak-cucu Mbah Isa. Memang, masjid sempat fakum bertahun-tahun karena jumlah jamaahnya yang masih sedikit. Seiring berjalannya waktu jumlah jamaah masjid Al-Arqom semakin bertambah.

Panitia masjid Al-Arqom berani melanjutkan pembangunan karena pada 2004 mendapat izin secara lisan dari Pemkot Pekalongan. Sehingga ahli waris merasa perlu memperluas masjid supaya bisa menampung seluruh jamaah. Akhirnya, pengurus masjid pada 2016 memutuskan untuk memperluas bangunan hingga dua lantai untuk Kantor Yayasan, Masjid, dan TPQ.

Namun baru tiga hari berjalan pembangunan, Warga Krapyak Kidul dari tiga RT menggeruduk Masjid Al-Arqom. Mereka menuntut untuk tidak melanjutkan pembangunan masjid. Warga menilai pembangunan tidak sesuai dengan izin yang disampaikan kepada Ketua RT yang hanya akan membangun masjid.

Namun panitia pembangunan akhirnya memperluas masjid dan mendirikan gedung untuk kantor Yayasan Al-Aiman bahkan TPQ. Warga juga terprovokasi dengan adanya pemasangan spanduk di depan gang menuju masjid yang isinya rencana pembangunan masjid.

Pernyataan Menolak

Koordinator warga M. Taufik mengatakan, penolakan terhadap perluasan masjid dan pembangunan kantor Yayasan Al-Aiman, meminta agar pembangunan tidak dilanjutkan. Dengan menandatangani surat pernyataan menolak dan dilengkapi dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) warga mengadu ke Kementerian Agama Kota Pekalongan.

Meskipun ada penolakan, panitia pembangunan terus melanjutkan pembangunan dengan alasan sudah mendapat izin dari walikota dan ketua RT. Panitia seakan tidak mengindahkan aksi penolakan dari warga. Menurut M. Taufik banyak warga Krapyak Kidul yang mendengar ceramah di masjid tersebut dan isinya mengolok-olok ulama sehingga dapat meresahkan kerukunan warga.

Akhirnya pada Juni 2016 Kemenag Pekalongan melalui Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pekalongan Utara mengundang kedua belah pihak. Diundang juga Kepala Kelurahan, Polsek Kecamatan Pekalongan Utara, Komandan Rayon Militer dan Kepala Kesbangpol untuk melakukan audiensi.

Hasil audiensi tertuang dalam surat nomor:Kk.11.34.03/PW.01/20/2016 yang isinya sebagai berikut; panitia pembangunan masjid menurunkan spanduk pembangunan, panitia pembangunan melakukan upaya persuasif kepada masyarakat sekitar, panitia pembangunan masjid memenuhi persyaratan secara normatif dalam rangka pembangunan tempat ibadah sebelum tempat ibadah tersebut dibangun. [Idoz/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here