Bertemu Mbak Stela

0
2486
Mbak Stela (kanan) saat mengikuti pelatihan beberapa waktu lalu. [Foto: Salam]

Mbak Stela (kanan) saat mengikuti pelatihan beberapa waktu lalu. [Foto: Salam]
Mbak Stela (kanan) saat mengikuti pelatihan beberapa waktu lalu. [Foto: Salam]
[Semarang –elsaonline.com] Riasan wajahnya tampak mencolok. Kelopak mata, bibir dan pipi dipulas warna. Badannya tinggi dengan kulitnya bersih. Cara bertuturnya lembut dan teratur. Gerak-geriknya anggun. Tatapan matanya tajam walau penuh selidik. Dengan hati-hati, ia mulai membuka pembicaraan. Namun, beberapa kali pula dia mengambil telepon seluler dari tas tangannya, memeriksa pesan yang masuk dan membalasnya.

Sekian menit kemudian, dia pun tersenyum. Rupanya, ada message dari seseorang yang sedikit menghibur dirinya. “Selamat mengikuti workshop, semoga semuanya lancar,” ungkap dia saat ditemui dalam acara ‘Pelatihan Program Pencegahan HIV dan AIDS Bagi Pendidik Sebaya Untuk Komunitas dan Masyarakat di Provinsi Jawa Tengah’ di Hotel Citra Dream Jalan Imam Bonjol No. 187 Semarang Tengah, Kota Semarang, beberapa waktu lalu.

Ya, orang ini memang tidak tampak istimewa, semua seakan wajar kecuali kalau dia adalah waria. Dia merasa dirinya perempuan sejak di taman kanak-kanak. Namanya Stela. Dia juga menjalani hidup selayaknya manusia biasa meski tak pernah mendeklarasikan diri sebagai kaum waria. Namun stigma dan diskriminasi itu kerap mendera. “Dicibir dan dihina bagi Stela adalah makanan setiap hari,” ujarnya dengan dihiasi senyum tersungging.

Seperti sudah digariskan Tuhan, Stela lahir sebagai anak laki-laki dengan nama Budi. Ketika di sekolah dasar, dia mulai merasa bahwa keperempuanannya dipertanyakan. “Waktu itu, guru menegur Stela, ‘Stela, kamu ini perempaun atau laki-laki? Kenapa teman-temanmu perempuan semua?’ Itu kata Guru Stela. Akhirnya, waktu pulang sekolah, Stela menangis dan mengadu pada ibu,” tuturnya dengan riang.

Tidak hanya itu, saat masih kecil Stela tidak menduga bahwa dalam pergaulan, juga sering mendapat penolakan dari teman-teman laki-laki, karena dinilai sebagai perempuan. Di sisi lain, dia mengaku juga tidak diterima di kalangan laki-laki. Hal ini karena penampilannya yang lebih sebagai seorang perempuan. “Stela ini juga pernah diolok-olok dan membuat Stela terpuruk. Bahkan, Stela sempat enggan keluar rumah,” terangnya.

Selain itu, Stela juga tidak mengerti dengan masih banyak perlakuan negatif masyarakat yang membenci kaum waria. Dia mengaku tidak habis pikir dengan orang-orang yang masih tega main hakim sendiri dan memandang sebelah mata. “Padahal, kita ini kan sama-sama manusia. Ciptaan Tuhan pula,” akunya.

Dalam menjalani pilihan hidup ini, Stela juga punya impian untuk menikah selayaknya manusia biasa. Walau, lanjut dia, orang mungkin menganggap cerita Stela ini aneh. Kendati demikian, dia juga berharap bahwa pemerintah mau memberikan kesempatan kerja selebar-lebarnya. “Karena menjadi seorang waria bukan penyakit menular. Sehingga, jangan sakiti kami dan diskriminasi kami,” ujarnya.

Tentu saja, dia mau menceritakan kisah hidupnya tersebut bukan karena bangga atas status ke-waria-annya yang disandangnya. Akan tetapi, dia hanya ingin lebih memaknai hidupnya dengan berbagi pengalaman kepada orang lain. Khususnya, kata Stela, orang-orang yang senasib dengannya. Disampaikan, dengan berbagi bisa saling menguatkan. “Karena Stela hanya cukup bertanggungjawab terhadap upaya-upaya yang Stela lakukan, bukan pada hasil yang akan Stela capai. Dengan begitu, Stela akan merasa lebih damai dan lebih bisa menerima diri Stela apa adanya,” bebernya.

Stela mengungkapkan bahwa dulu ia sempat merasa sangat bersalah, tetapi semakin sering melihat ke masa lalu, semakin tidak bisa mengubah dirinya. Lalu, menurutnya, ia mencoba berdamai dengan dirinya, memaafkan diri sendiri untuk semua yang sudah terjadi dan kemudian berbuat baik untuk hari ini. “Toh daripada capek membuang energy untuk memikirkan masa lalu, lebih baik Stela focus melakukan yang terbaik untuk hari ini,” harapnya.

Aktivis Lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), Dede Oetomo, dalam tulisannya, mengungkapkan, transgender memang mengalami diskriminasi sosial paling berat. Menurutnya, ekspresi gender dan orientasi seksual yang terlihat jelas ini membuat kehadiran mereka begitu menonjol dan menjadi pusat perhatian. Dalam banyak kasus, Dede mencontohkan, waria paling kesulitan mendapatkan pekerjaan dibanding lesbian, gay, biseksual maupun priawan. “Maka tak jarang, waria kerap menjadi pekerja seks komersial karena keterbatasan pilihan pekerjaan,” jelas pengelola majalah Gaya Nusantara itu.

Pria yang memperoleh beasiswa dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, ini, menambahkan bahwa diskriminasi sosial yang diperoleh kaum waria itu juga berlipat ganda. Untuk itu, Dede menyarankan bahwa sebagai seorang waria, mereka sebaiknya harus pintar menempatkan dirinya dan perilakunya juga harus disesuaikan dengan tempatnya. “Sehingga, waria harus menyadari bahwa dirinya punya banyak kelebihan. Positive thinking saja,” pungkasnya. [elsa-ol/Munif-@MunifBams/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here