Berteologi Bersama Rakyat

0
100
Ilustrasi; www.desiringgod.org

Oleh: Tedi Kholiludin

Tahun 2010, saya pernah diminta mengupas buku yang menarik karya seorang pendeta senior, Pdt. Josef P. Widyatmadja. Bagi teman-teman pegiat isu-isu sosial, namanya tentu sudah tidak asing lagi. Selain berkarya nyata untuk kemanusiaan, pendeta Gereja Kristen Indonesia (GKI) itu juga penulis yang sangat produktif.

Olehnya, saya kerap diminta mengisi salah satu workshop yang rutin dilaksanakan untuk membekali para calon pemimpin gereja. Namanya Leadership Capacity Building (LCB). Kegiatan ini diinisiasi tidak hanya oleh GKI, tetapi juga Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) dan Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI).

Buku yang ketika itu didiskusikan di UIN Walisongo Semarang adalah karyanya yang kesekian, “Yesus dan Wong Cilik”. Buku ini menjadi semacam poros bagi bangunan ideologi gerakan-gerakan sosial (social movement) maupun gerakan sosial baru (new social movement) yang terutama digawangi oleh kelompok agama.

Pak Josef hendak mengajak pembaca dan gereja untuk menjadikan salah satu unsur bergereja, Diakonia, sebagai karya pembebasan di tengah dunia. Dengan memberikan judul “Yesus dan Wong Cilik”, Pak Josef langsung masuk ke jantung persoalan; menagih tanggung jawab sosial agama. Selain itu, materi buku ini juga tidak melulu berkutat pada argumentasi metodologis, namun juga memaparkan pengalaman Gereja Potestan dalam pergumulannya dengan realitas sosial. Pilihan yang sangat layak untuk diapresiasi.

Salah satu bab yang menarik adalah bagian VI yang berjudul “Berteologi Bersama Rakyat,” yang kemudian saya ambil sebagai tajuk artikel singkat ini. Dalam bagian tersebut Pak Josef dengan gamblang mendedah tantangan berteologi pada abad ini.

Kritik tajam dialamatkan pada bangunan teologi gereja yang hanya membangunnya di atas altar. Teologi yang berpusat di sana, terkadang tidak memiliki benang merah dengan kehidupan nyata masyarakat di sini. Mereka menderita karena ketidakadilan.

Secara umum wajah teologi saat ini, masih dicirikan dengan beberapa identitas. Pertama, teologi sekarang merupakan warisan teologi abad ke-19 (teologi kolonial) yang sangat menekankan keselamatan rohani dan individu daripada keselamatan utuh serta masyarakat.

Kedua, teologi saat ini lebih menekankan pernyataan (theology of statement) daripada tindakan (theology in action). Ketiga, isi teolog tenggelam dalam dogma yang bersifat rutin dan konvensional daripada refleksi kontekstual dan profetik. Keempat, perspektif teologi lebih berpihak pada golongan penguasa daripada kelompok akar rumput. Kelima, teologi dianggap sebagai kebenaran universal yang tidak terpengaruh oleh ruang dan waktu. (hlm. 98-99).

Dengan menekankan pada ciri ini, teologi, masih sangat jauh dari kebutuhan rakyat kecil. Metafora dan bahasan-bahasan dalam teologi lebih cocok diberitakan di gereja, bukan di pasar atau lapak-lapak pinggir jalan. Teologi rakyat, karenanya merupakan sebuah kebutuhan untuk membangun perspektif baru berteologi. Meski tentu saja hal tersebut bukan berarti menegasikan peran-peran akademisi dan kelompok profesional (hlm. 100). Semangat dari teologi ini hemat saya adalah membumikan semangat berteologi yang mengawang-awang itu.

Karena itu dibutuhkan saluran baru untuk teologi rakyat agar bisa termanifestasikan dalam kehidupan konkret. Inilah yang olehnya disebut sebagai diakonia transformatif. Membangun teologi bersama rakyat adalah kebutuhan bagi para diaken transformatif. Paradigma baru yang hendak ditawarkan adalah perubahan melihat realitas (dari kekal bisa dirubah), cara baru membaca Alkitab (membaca dari konteks), cara baru bergereja (gereja tidak semata-mata lembaga, menekan visi) dan lainnya. (hlm. 104-114)

***

Dalam sejarah kehidupannya, Yesus dihadapkan pada berbagai tantangan. Masa ketika Yesus hidup adalah masa pergolakan dan perubahan besar dalam bidang ekonomi, sosial dan keagamaan. Masa yang penuh dengan persaingan antara berbagai aliran keagamaan dan masa yang rawan kerusuhan.

Yesus secara kritis menyoroti keberuntungan kelompok elit-religius dan politik. Padahal di sisi lain, rakyat pada umumnya, berada dalam derita kemiskinan. Ia menentang sistem penarikan pajak yang hanya menguntungkan sebagian elit.

Yesus mengambil sikap tegas terhadap penguasa dan berpihak pada kaum lemah. Bagi Yesus rakyat menjadi miskin bukan karena mereka tidak memiliki etos kerja yang tinggi, tetapi tekanan tiada henti dari rezim penguasa membuat rakyat menjadi tidak berkutik dan terus menerus hidup dalam kubangan kemiskinan.

Gerakan Yesus ini pada akhirnya membuat Ia berhadapan dengan dua rezim sekaligus, politik dan agama. Yesus kemudian dianggap sebagai pemberontak, mengusir orang-orang borjuis yang hampir setiap harinya mencekik leher rakyat dengan memaksa pajak. Tindakan yang pada gilirannya memicu konflik di tengah masyarakat.

Atas tuduhan sebagai provokator, anti pajak, dan mengaku sebagai raja Yesus diseret ke tiang gantungkan. Saat itulah Yesus meninggal di tiang gantungan sebagai korban dari kekejaman bangsa Romawi. Bagi umat Kristiani, Salib Yesus adalah puncak pembelaan terhadap setiap manusia yang berada dalam kerangkeng penderitaan.

Kata Obery M. Hendricks Jr (2006) kelahiran revolusi keagamaan saat kekristenan hadir, dimungkinkan karena Yesus bergerak dalam ranah politik. Ada tiga domain yang membentuk Yesus politik, yakni politik, ekonomi dan sosial.

Dalam ranah politik, the true revolutionary nature of Jesus’s teaching, itu harus dilakukan karena ia berhadapan dengan kekuasaan Romawi dan Imam-imam penguasa (termasuk Herodes). Sementara dalam ruang ekonomi, Yesus dihadapkan pada situasi kemiskinan dan pungutan pajak dari pemerintahan Romawi. Yang terakhir dalam lapisan sosial tindak kejahatan yang merajalela, elitisme imam-imam, marginalisasi Galilea dan klaim sebagai ”people of the land”.

Keadaan inilah yang menggiring Yesus untuk bergerak secara politik menghadang kemunkaran sosial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here