Busana, Etika dan Status Sosial

0
19

IMG-20140401-00369Judul Buku       : Busana Jawa Kuna

Penerbit          : Komunitas Bambu

Tahun Terbit   : Juli 2012

Tebal Buku      : 117+vii

ISBN                 : 978-602-9402-16-2

Peresensi         : Cahyono

 

Busana Jawa kuna dalam konteks etika berpakaian tentu memiliki kemiripan dengan yang namanya kelengkapan hidup. Dalam sebuah bangsa, kita sepakat bahwa busana menjadi identitas. Disamping merupakan produk kebudayaan, tapi busana juga dihadirkan dalam hidup keseharian. Seperti halnya yang disampaikan Indra Citraninda Noerhadi dalam bukunya yang berjudul “Busana Jawa Kuna.” Dia mengatakan bahwa busana sebuah bangsa terbentuk berdasarkan kesepakatan bersama.

Fokus Noerhadi disini adalah memberikan gambaran lebih luas apa itu fungsi dari pakaian dalam lingkungan masyarakat Jawa sepanjang perjalanannya. Saat ini pakaian bukan lagi sebagai kebutuhan yang terkandung aturan dan etika di dalamnya. Tetapi busana hanyalah alat pelengkap. Itu semua terjadi karena aspek peniruan dan kecintaan orang banyak kepada figur-figur idola mereka itu. Coba kita menengok ke belakang pada abad ke 8 dan 9. Motif-motif batik menjadi sebuah keharusan dalam budaya Jawa. Tidak itu saja. Motif yang dipakai oleh kalangan raja dan bangsawan berbeda dengan motif yang dipakai oleh kalangan menengah atau kebanyakan masyarakat.

Di sini, Inda Citraninda juga menjelaskan bagaimana pengaruh busana dalam setiap langkah sehari-hari dalam perkembangannya di masa sekarang. Dalam penelitiannya Inda memiliki beberapa alat analisis yang digunakan, yakni, pengamatan, perbandingan dan kepustakaan. Melalui analisis ini, kelengkapan data-data yang dia dapat berasal dari hasil pengamatan serta bukti sejarah juga didapatkan dari hasil penelitian lainnya. Setelah itu baru melakukan perbandingan hasil pengamatannya dengan analisisnya melalui metode kepustakaan.

Bagian pertama buku ini yang berisi pendahuluan. Ada penjelasan mengenai pertimbangan Inda dalam memilih topik yang dipakai. Mulai dari analisis penemuan-penemuan dalam penelitiannya hingga pembahasan yang lebih mendalam lagi. Lebih lanjut dijelaskan dengan spesifik, di mana buku ini menerangkan yang cukup mendasar. Dalam bagian bab II dijelaskan tentang ikhwal pakaian pada umumnya menurut fungsi dan bentuk dasar. Kemudian menjabarkan pakaian menurut macam dan cara pemakaiannya.

Pakaian relief Karmawibhangga, menggambarkan karakter seseorang atau masyarakat dalam kehidupannya. Terdapat lukisan adegan-adegan yang baik dan yang buruk. Pesan dari lukisan kaki Candi Borobudur ini menggambarkan kehidupan di masa lampau untuk masa depan, bahwa suatu saat peristiwa yang terlukis akan terjadi di masa mendatang. Seperti halnya perkembangan busana, yang dulu memiliki perbedaan kelas antara kelompok bangsawan atau raja dengan kelompok menengah serta kelompok kebanyakan masyarakat. Hal ini dapat dibedakan melalui cara berpakaian.

Tapi itu berbeda dengan sekarang. Kewajiban tersebut tak lagi digunakan. Lebih lanjut dijelaskan di bagian bab III mengenai pakaian relief Karmawibhangga bertolak dari deskripsi relief. Lalu Inda menjelaskan bagaimana membedakan menurut kategori kelengkapan, lingkungan dan benda-benda penyerta. Deskripsi piktorial menjadi kelengkapan dalam bab ini, sedangkan deskripsi verbal sebagai lampiran I.

Buku setebal 117 ini mencoba untuk mengurai tentang pakaian dan status sosial. Berisi mengenai pembahasan tentang bagaimana pakaian dalam hubungannya dengan statifikasi sosial yang bertolak dari struktur masyarakat kuna. Dilengkapi juga dengan ilustrasi pada kebudayaan lain yang menjelaskan pakaian dan hubungannya dengan statifikasi sosial. Tentu ini menjadi kelengkapan penulisan buku Inda Citraninda Noerhadi dalam usahanya untuk menyampaikan pentingnya busana sebagai etika dalam aspek status sosial.

Cara berpakaian dewasa ini, bukan semata-mata pengaruh dari budaya lingkungan. Tetapi, pengaruh zaman dan suasana kemandirian ekonomi kebanyakan orang juga menjadi salah satu faktor. Sehingga, tidak lagi ada pembatasan dalam berpakaian yang barangkali berbeda dengan zaman Jawa Kuna dimana ada etika berpakaian yang di dalamnya terdapat pembatasan antara raja, bangsawan dan rakyat biasa atau biasa disebut dengan istilah kebanyakan orang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here