Cap Go Meh dan Menguatnya Gerakan Intoleran

0
14

Semarang, elsaonline.com – Rencana perayaan Cap Go Meh pada 19 Februari lalu di halaman Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kota Semarang, ditolak sekelompok organisasi Islam di Semarang. “Silakan Cap Go Meh digelar. Tapi yang penting jangan dilaksanakan di area masjid,” kata Ketua Pemuda Muhammadiyah Semarang Juma’i, yang menjadi salah satu penolak, Sabtu, 18 Februari 2017.

Sehari sebelumnya, Jumat 17 Februari, sejumlah organisasi Islam di Semarang menolak acara perayaan Cap Go Meh dengan mendatangi kantor Kepolisian Daerah Jawa Tengah untuk audiensi. Beberapa ormas itu adalah perwakilan dari Hizbut Tahrir Indonesia, Forum Umat Islam Semarang, Pemuda Muhammadiyah Semarang, Pemuda Ka’bah, dan Front Pembela Islam Jawa Tengah.

Juma’i menyatakan pada Jumat malam sudah diadakan pertemuan dengan panitia Cap Go Meh. Salah satu kesepakatannya, perayaan Cap Go Meh digelar di Balai Kota Semarang. Menurut Juma’i, pada prinsipnya pihaknya tak menolak acara Cap Go Meh. Hanya saja ia keberatan jika acara itu digelar di area masjid. “Kami harus menjaga marwah masjid,” kata Juma’i, seperti dikutip tempo.co.

Acara tersebut diisi dengan dialog budaya yang menghadirkan sejumlah tokoh, seperti KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Habib Luthfi bin Yahya, Bhante Dhammasubho Mahathera, dan Romo Aloysius Budi Purnomo. Perayaan tradisi budaya itu tidak memandang suku, bangsa, agama, antargolongan (SARA) sehingga semua lapisan masyarakat bisa ambil bagian untuk memeriahkan acara yang identik dengan makan lontong itu

Dipindah
Karena mendapat penolakan, panitia perayaan Cap Go Meh memindahkan acara ke halaman Balai Kota Semarang. Kepindahan itu diputuskan demi menjaga suasana damai di Kota Semarang.

“Kami memindahkan tempat perayaan Cap Go Meh ke Balai Kota (Semarang), karena kami ingin menyampaikan perdamaian. Acara kami semangatnya, juga semangat perdamaian,” kata Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jateng, Dewi Susilo Budihardjo, saat menggelar jumpa pers di Kantor PWI Jateng, Sabtu, (18/2/17).

Meskipun berpindah tempat, panitia sama sekali tidak merubah rangkaian acara, waktu beserta tanggalnya. “Rangkaian acara masih tetap sama. Jam registrasi habis maghrib, acara makan lontong berserta acara inti perayaan tidak berubah. Jadi besok (Minggu, 19 Februari) acara tetap berjalan dengan baik,” sambungnya.

Dewi menambahkan, semangat yang dijunjung dalam perayaan Cap Go Meh adalah kebinekaan. Karena itu, kepindahan acara juga panitia ikhlaskan demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. “Kami tidak ingin dengan adanya perayaan Cap Go Meh menjadi suasana Kota Semarang kurang kondusif. Kami, tidak masalah tempat dipindah yang penting Kota Semarang tetap damai. Karena sejak awal, kami menghendaki perdamaian dari Semaranguntuk Indonesia,” katanya.

Dewi menggelar jumpa pers bersama salah satu calon narasumber pada perayaan Cap Go Meh, Romo Aloysius Budi Purnomo Pr. Aktifis perdamaian yang akrab disapa Romo Budi ini menyampaikan kepindahan adalah jalan terbaik untuk kebersamaan.

”Ini jalan Tuhan yang terbaik. Dengan kepindahan acara ini maka semua umat bisa bergabung. Kalau tempatnya Balai Kota Semarang, bahkan lebih leluasa bagi semua kelompok untuk bertemu,” paparnya.

Senada dengan Dewi, Romo Budi pun mengajak untuk memaknai bahwa kepindahan tempat ini semata-mata untuk tetap terjalinnya persahabatan. ”Dengan adanya Cap Go Meh ini kami ingin hadirkan persahabatan. Semangat kita adalah semangat kebangsaan,” tandas Romo.

Saling Menghormati
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji mengimbau kepada masyarakat Kota Semarang untuk saling menghormati. Bahkan, Kapolres merasa miris dengan beberapa aksi penolakan yang terjadi belakangan ini di Semarang.

“Perayaan Cap Gomeh semangatnya adalah kebhinekaan karena itu yang diundang juga dari seluruh golongan. Ada sodara kita yg memiliki pandangan berbeda sehingga mereka menolak. Kalau kita gunakan logika MAJT itu milik masyarakat Jateng. Kalau kegiatan kaya gini saja ditolak maka sangat miris sekali, kita harus saling menghormati,” tegas Kapolres.

Ia menyesalkan bila di Kota Semarang semua acara yang bernuansa agama ditolak. “Jika sedikit-sedikit ditolak, maka sangat kami sesalkan, kegiatan ini resmi dan berdasarkan UU. Mudah-mudahan yang kemarin menolak malam ini ikut hadir sehingga mereka bisa menyaksikan bahwa kegiatan ini tidak melanggar sama sekali,” sambungnya.

Kapolres juga berharap kedepan acara serupa dapat dilaksanakan kembali. ”Acara ini sangat positif dan harapannya kedepan bisa terlaksana kembali. Saya betul-betul mensuport acara ini lahir batin baik secara pribadi maupun sebagai Kapolrestabes. Kita harus ciptakan adem dan tentram,” pungkasnya.

Adanya pemberitaan penolakan Cap Go Meh sehingga harus berpindah tempat, membuat pihak MAJT angkat bicara. “Alhamdulillah polemik mengenai perayaan Cap Go Meh di Convention Hall MAJT sudah usai. Kita sudah membatalkan ijin tersebut dan akhirnya panitia memindahkan perayaanya di Halaman Balai Kota Semarang. Kalau ada cara pandang yang berbeda tidak perlu dijadikan pertentangan,” kata Ketua MAJT Dr H Noor Achmad MA.

Pihak MAJT beralasan, mengapa semula memberikan izin perayaan Cap Go Meh dikeluarkan karena acara tersebut murni budaya Orang Tionghoa khas Semarang yang diantara Panitianya adalah PITI. Selain itu pihak panitia bersedia mengikuti aturan-aturan seperti tidak melaksankan ritual yang berbeda dengan yang dilaksanakn di MAJT. “Ya, tidak bersifat politik dan tidak ada bendera politik, menjaga ketertiban kebersihan dan kesopanan, apabila terdengar adzan maka semua kegiatan dihentikan dan lain lain,” sambung Noor Ahmad.

Disayangkan
Menanggapi adanya aksi penolakan itu, Ketua Yayasan Studi Sosial dan Agama (eLSA)Semarang, Dr Tedi Kholiludin menyayangkan kepindahan perayaan Cap Go Meh itu. Hemat dia, perayaan Cap Go Meh sebatas perayaan budaya, bukan ritual keagamaan penganut agama tertentu.
“Wong Cap Go Meh itu selebrasi (perayaan) budaya kok, bukan selebrasi agama. Ini tradisi kebudayaan. Pada intinya itu bukan ibadah. Kenapa harus dilarang diadakan di masjid,” kata Tedi.

Hemat Tedi, perayaan Cap Go Meh tak jauh beda dengan perayaan-perayaan kebudayaan lain yang ada di Indonesia. Karenanya, Cap Go Meh bisa dirayakan di tempat mana pun sepanjang tidak melanggar hukum.

”Saya sepakat jika perayaan Cap Go Meh itu tidak dilakukan di area utama masjid, karena untuk salat. Tapi kalau diadakan di halaman masjid, apa salahnya? Wong yang akan menjadi narasumber pada acara itu juga tokoh-tokoh panutan umat Islam. Mengapa kita tidak mengedepankan persaudaraan?” tanya Tedi, heran.

Menurut Dosen Pascasarjana Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang ini, masjid sejatinya tempat peradaban. Dalam beberapa literatur kitab klasik, kata Tedi, justru masjid menjadi tempat untuk bermusyawarah, mengadakan kegiatan warga, dan menyusun kekuatan perang.

”Harus dipahami bahwa dulu, masjid itu pusat peradaban. Nah itu berbanding terbalik dengan kelompok-kelompok keagamaan di Indonesia yang menilai masjid itu amat sakral. Sampai-sampai kalau ada orang diluar golongannya, tak boleh salat di masjidnya, itu menjadi aneh banget,” papar Tedi.

Berjalan Lacar

Meski berpindah tempat, perayaan Cap Go Meh yang dihadiri ribuan warga Kota Semarang berlangsung lancar. Warga berkumpul di halaman Balai Kota Semarang dan duduk lesehan termasuk Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dan sejumlah tamu lainnya.

Bersamaan, makanan khas lontong Cap Go Meh disantap dan berhasil memecahkan rekor Muri dari Berau Kalimantan Timur. Kali ini ada sekitar 11.700 warga yang menyantap kuliner tersebut bersamaan.

Acara bertajuk “Semarak Cap Go Meh 2017 Pelangi Budaya Merajut Nusantara” itu dihadiri Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi. Walikota yang akrab disapa Hendi mengatakan Cap Go Meh sebenarnya bukan ritual agama melainkan budaya layaknya budaya Suronan di KotaSemarang. Menurutnya perlu ada diskusi agar pemahaman tidak keliru.

“Kita majemuk dan perbedaan jadi kekuatan bagi Kota Semarang. Kalau ilmunya belum segitu, kita ajak diskusi terus, kita ajak mereka berbicara terus supaya pemahaman seimbang dan tidak menduga sesuatu yang keliru,” kata Hendrar disela acara. Penyelenggaraan acara tersebut tidak hanya diterpa penolakan, namun juga hoax di media sosial. Dalam hoax yang tersebar, acara disebutkan akan menyuguhkan makanan dengan bahan babi.

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jawa Tengah Dewi Susilo Budiharjo menjelaskan lontong Cap Go Meh tidak mungkin dicampur dengan babi dan tentu saja dengan mengundang berbagai elemen agama, panitia tidak mungkin menyuguhkan makanan berbahan babi.

“Kenapa lontong Cap Go Meh? Karena dikenal di seluruh Indonesia dan berasal dari dari Jawa Tengah. Ini dari Semarang untuk Indonesia, saya ingin ajak seluruh warga Kota Semarang mari serukan kebhinekatunggalikaan,” kata Dewi.

Panggung Intoleran
Atas adanya peristiwa penolakan itu, Tedi Kholiludin menilai semakin meneguhkan Kota Semarang menjadi panggung baru bagi kelompok-kelompok intoleran. Dua tahun belakangan ini, setidaknya terjadi 4 kali penolakan terhadap kegiatan2 yang melibatkan komponen lintas iman. Mulai dari kegiatan buka puasa Ibu Sinta Nuriyah Wahid di Gereja Kristus Raja Ungaran, Perayaan Hari Asyuro, Pork Festival dan Perayaan Cap Go Meh di MAJT.

Kerja-kerja mediasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang, Polrestabes Semarang dan Polda Jawa Tengah patut diapresiasi. Untuk mencegah konflik horisontal, aparat pemerintah, sejauh yang saya amati cukup tegak berdiri secara netral. ”Toh demikian, di sudut lain, gelombang intoleransi terus bermunculan. Halaman rumah ibadah, yang sejatinya menjadi ruang publik yang terbuka, menjadi sangat eksklusif. Perjumpaan yang mestinya terbangun disana, semakin sulit dilakukan. Sekat-sekat atas nama identitas agama semakin dipertebal,” papar Tedi.

Dalam kasus penolakan Cap Go Meh di halaman MAJT, patut disayangkan sikap pengelola masjid terbesar di Jateng itu. Selain karena acaranya bernafas budaya dan bahkan juga ada pengajian didalamnya, dipindahkannya kegiatan dari MAJT malah kontraproduktif dengan tujuannya sebagai destinasi wisata religi.

“Hemat saya, tak ada sedikit pun penodaan terhadap masjid yang di halamannya menyelenggarakan ritus-ritus kebudayaan. Tidak akan berkurang kesakralan sebuah masjid yang halamannya menjadi ruang terbuka untuk perjumpaan semua elemen agama. Bukankah pengajian-pengajian Emha Ainun Najib di halaman Masjid Simpang Lima juga kerap diselingi paduan musik-musik gerejawi? Dan apakah ketika itu dilakukan jemaah masjid menjadi berkurang?” tanya Tedi, mebandingkan.

Tedi menilai, jika aparat sudah bekerja sesuai dengan fungsi dan kewenangannya, berarti ada masalah lain yang menjadi akar dari menggejalanya tindakan-tindakan intoleransi, khususnya di Kota Semarang. Pertama, bisa jadi ada individu atau kelompok yang sedang mencari panggung dan memanfaatkan momentum “ziarah spiritual lintas iman” itu sebagai objek penolakan.

“Kedua, cara pertama Sekaligus sebagai sarana untuk membangkitkan sentimen2 primordial yang memang sedang diuji. Sembari berharap ada rembesan “energi” dari kota lain yang tengah menebalkan sentimen tersebut. Ketiga, terputusnya jembatan pemahaman di kalangan umat Islam yang terwadahi dalam pelbagai kelompok,” sambung Tedi.

Jika kita cermati, lanjutnya, mereka yang melakukan penolakan demi penolakan juga ada yang berasal dari kalangan arus utama. Jika secara organisatoris mainline groups ini mewartakan tentang semangat moderatisme, tapi beberapa kader mereka di bawah justru bersikap dan bertindak sebaliknya. Ini yang juga penting menjadi catatan bagi kelompok muslim arus utama. [Cep-@Ceprudin/elsa-ol/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here