Cerita Abu Hapsin Tentang Sumanto

0
1444
Leymah Roberta Gbowee (kiri) dan penulis (kanan)

[Semarang –elsaonline.com] Namanya guru dengan muridnya, mesti ada yang selalu dikenang. Abu Hapsin, selaku dosen IAIN Walisongo pun demikian. Dalam setiap perjumpaan dengan para aktifis kampus ia selau bercerita soal mahasiswanya.

Dihadapan puluhan aktifis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan LPM Justisia Fakultas Syariah, Abu bercerita kenangan manis bersama salah satu mahasiswanya, Sumanto Al-Qurtubi. Sumanto, adalah mahasiswa yang amat fenomenal di IAIN, yang pernyataan serta tulisannya kerap menuai pro dan kontra.

“Saya selau berpesan, tolong sebebas apapun dalam berfikir, tapi sikap harus selalu sopan,” pesan Abu, ditengah perbincangan hangat halal bi halal, Rabu (6/8) malam. Ia berkata demikian menyinggung pemikiran seorang mahasiswanya, Sumanto yang membuatnya terkesan selama menjadi pengajarnya.

“Dalam pemikiran itu bebas, selama itu dalam masa pencarian jati diri. Sumanto saja yang dulu sangat liberal dalam berfikir sekarang sudah menemukan jati dirinya,” tukasnya, sembari menghidupkan sebatang rokok yang digenggamnya.

Dulu Sumanto merupakan aktifis yang gigih. Terkenal dengan nakalnya dalam berfikir. Bahkan sempat meninggalkan sholat karena pengaruh pemikirannya dalam mempelajari ilmu pengetahuan, keadilan dan kebenaran. Namun, masa itu sudah dilewatinya, kini ia kembali kepada kehidupan santri. Bulan ini, Sumanto berangkat ke Saudi Arabia untuk mengajar di King Fahd University.

Dikisahkan Abu, semasa Sumanto masih menjadi santri juga kerap memenangi lomba ceramah dan suaranya terkenal bagus. Hingga dalam perjalanan akhirnya dalam mencari kebenaran menemui titik keilmuan.

Pamit Solat

Sembari menyeruput teh hangat, pria Kelahiran Kuningan Jawa Barat ini mengenang pertama kalinya perjumpaan dengan Sumanto. Kala itu, Sumanto baru pulang dari Amerika karena ada libur kuliah. Seperti biasa, ketika Sumanto pulang ke Indonesia pasti menemui gurunya semasa di IAIN, Abu Hapsin.

Dikisahkan, perjumpaan dua maestro Justisia itu pada waktu sore hari selepas solat ashar. Karena rasa kangen dan rindu waktu tak terasa sudah sampai maghrib. Abu dalam penuturannya, sudah sadar jika waktu sudah masuk solat magrib. Namun ketika itu ia tak mendahului mengajak solat.

Hingga menjelang akhir waktu maghrib, mereka masih ngobrol. Namun belum ada yang mendahului mengajak solat. Namun ternyata Sumanto lebih dulu mengajaknya. ”Mas Abu, saya pamit maghrib dulu ya. Ini sudah mau akhir,” kata Abu, menirukan Sumanto yang ketika itu pamitan untuk solat.

Sebelum masuk ke perbincangan, Abu menanyakan kabar para mahasiswa. Hal itu, menjadi ciri khas dia saat bertemu dengan para aktivis kampus. “Gimana, ada kabar terbaru apa dengan Justisia dan PMII?” sapa Abu, yang juga ketua PWNU Jateng itu.

Para mahasiswa, dengan disambut sapaan yang ramah dari tuan rumah, menjadikan perbincangan tak canggung. Dengan begitu, dialog menjadi cair tanpa ada sekat mahasiswa dan dosen. Suasana silaturahmi bersama halal bi halal itu menjadi sangat riang.

”Bagi mahasiswa sekarang untuk bisa bertahan hidup cukup mudah. Meskipun dari rumah tak mendapat kiriman, media sudah terbuka lebar untuk menerima tulisan mahasiswa. Dan itu honornya lumayan untuk nyambung hidup. Beda dengan masa saya dulu ketika menjadi mahasiswa, media terbatas,” ungkapnya.

Dengan muka tersenyum-senyum, ia mengenang semasa menjadi mahasiswa ketika tulisannya masuk di koran. ”Ketika tulisan saya masuk koran, seperti biasa untuk makan-makan teman-teman habis. Tapi itu ada rasa bangga, karena bisa njajani temen-temen,” kenangnya. [elsa-ol/Cep-@Ceprudin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here