Damai itu Nyata

0
146
Bentangkan Spanduk: Peserta aksi fun walk “damai itu nyata” bentangkan spanduk bertuliskan “damai itu nyata, aku tahu aku berbeda, tapi aku tahu damai itu nyata” di Jalan Pahlawan, Semarang. Foto: Ceprudin

Peace without justice is an illusion….

Semarang, elsaonline.com – Mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan “damai tanpa keadilan adalah sebuah ilusi”. Presiden ke 4 Indonesia ini menegaskan bahwa damai itu harus disertai dengan keadilan dan tanpa diskriminasi. Singkatnya, damai itu nyata bukan ilusi semata.

Inilah yang menjadi dasar AIESEC Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengadakan kampanye “damai itu nyata”. Mereka mengampanyekan itu dengan fun walk di keriuhan massa Car Free Day (CFD), Jalan Pahlawan Semarang, Minggu 26 November 2017 lalu.

“Orang kerap menganggap bahwa perdamaian itu hanya sebatas tidak adanya perang, kekerasan dan sebagainya. Tapi sebetulnya, perdamaian lebih daripada itu,” kata koordinator aksi ”damai itu nyata” Hanifika Indria Rida, saat ditemui di sela aksi fun walk.

Perdamaian memang bukan sebatas tidak adanya kekerasan dan peperangan semata. Suatu masyarakat yang damai, jika disertai dengan keadilan di dalamnya. “Perdamaian itu sejatinya tentang apa yang ada di dalam batin. Dan yang lebih penting didasarkan atas toleransi,” lanjutnya.

Kegiatan fun walk “damai itu nyata” ini masih dalam rangka peringatan hari perdamaian dan toleransi internasional. Tujuannya supaya masyarakat Kota Semarang khususnya meningkatkan pentingnya perdamaian.

Penolakan Kegiatan

Memang, ini penting mengingat di Kota Semarang akhir-akhir ini kerap diwarnai dengan aksi-aksi penolakan kegiatan keagamaan. Berdasarkan catatan jurnalis elsaonline setidaknya ada lima kasus berkaitan dengan penolakan kegiatan keagamaan.

Di antaranya, penolakan acara Asyuro Syiah, penolakan Pork Pestival, dan penolakan perayaan Cap Go Meh.

“Pesan yang ingin disampaikan kita itu, seperti semuanya tahu, Semarang itu satu kota yang pernuh dengan keberagaman budaya, etnis, dan agama. Sehingga penting untuk terus menghidupkan nilai-nilai toleransi, keadilan, dan perdamaian dalam kehidupan kita sehari-hari,” tandasnya.

AIESEC sendiri merupakan organisasi kepemudaan yang bergerak dalam bidang kepemimpinan. Pada aksi itu, mereka melakukan jalan santai mengitari bundaran Simpang Lima Semarang.

Sembari berjalan, mereka membagi-bagikan bunga mawar putih dengan dilengkapi tulisan kecil ”Tuhan ciptakan perbedaan namun tak ingin perpecahan. Dengan perbedaan diharapkan menjadi kepingan satu. Jadikan Indonesia rumah untuk selalu”.

Sepanjang fun walk mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan ” damai itu nyata, aku tahu aku berbeda, tapi aku tahu damai itu nyata”. Mereka juga membawa atribut lainnya dengan tulisan ”peace, justice, and strong institutions” dan “i stand for peace and tolerance”. [Cep/03]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here