Datang ke Rembang, Sri Hartini Ingin Tahu Kondisi Lapangan

Direktur Jenderal Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Sri Hartini (kerudung putih) saat melakukan mediasi bersama Kepala Dinas  Kebudayaan Pariwisata  Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang. Foto: Abdus Salam
Direktur Jenderal Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Sri Hartini (kerudung putih) saat melakukan mediasi bersama Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang. Foto: Abdus Salam
[Rembang-elsaonline.com] Pasca terjadinya pembakaran Sanggar Candi Busono milik penganut kepercayaan Sapta Darma di Dukuh Blando, Desa Plawangan, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, pada Selasa 10 Nopember 2015, Direktur Jenderal Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Sri Hartini terus memonitoring perkembangannya.

Sri Hartini juga terjun langsung untuk melihat langsung kondisi terkini. Dalam kesempatan tersebut, Wigati bersama rombongan Eny Haryanti yang mewakili Kesbangpolinmas Provinsi Jawa Tengah menemui Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Dinbudparpora) Kabupaten Rembang, Sunarto.

Hartini menjelaskan, maksud kunjungannya ke Kabupaten Rembang untuk melihat langsung situasi dan kondisi masyarakat sekitar, sekaligus melihat perkembangan setelah diadakannya mediasi yang difasilitasi Pemerintah Kabupatern Rembang. Disampaikan, karena sebelumya dirinya juga sudah menerima surat terutama dari ketua Sapta Darma Rembang yang juga sekaligus menjadi korban, Sutrisno.

“Sejak kejadian itu kami memantau terus, karena kami juga mempunyai kewajiban untuk memberikan perlindungan, dan kami sudah mendapatkan laporan sudah ada mediasi oleh pemerintah setempat dan hasilnya sudah dikirimkan kepada kami,” jelasnya dalam pertemuan di Aula Dinbudparpora, Kamis (19/11) pagi.

Dalam forum tersebut hadir pula dari Presidium Sapta Darma Pusat, Nain Puryono, Srati Darma Pusat, Wardana dan beberapa perwakilan tokoh penghayat kepercayaan di Jawa Tengah.

Sebelum menuju ke lokasi pengrusakan sanggar di Kecamatan Kragan, Sri Hartini bersama rombongan sengaja bertemu dengan Kadin Dinbudparpora Kabupaten Rembang, untuk bertamu dan silaturrahim. Selain itu juga ingin melakukan dialog bagaimana tindak lanjut pemerintah kabupaten dalam menyelesaikan kasus pengrusakan sanggar tersebut.

“Itu Pak, kami kesini untuk mencari solusi yang terbaik itu bagaimana, pasti jangan sampai dari masyarakat kita yang intoleransinya masih luar biasa di Rembang ini, khususnya di daerah sekitar kejadian,” bebernya.

Sementara itu, Kadinbudparpora Kabupaten Rembang menerima baik kedatangan Dirjen Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi beserta rombongan.

Dalam membuka forum, Kadinbudparpora Kabupaten Rembang, Sunarto menyampaikan kesepakatan damai sudah diberikan pada waktu media yang di fasilitasi Asissten satu Bupati Rembang. Menurutnya, kedua belah pihak sudah sepakat tidak akan menutut ke jalur hukum dan sudah menandatangi kesepakatan yang diberikan.

“Intermezonya Pak Kapolres, pada dasarnya sama-sama salahnya yang artinya yang pihak Sapta Darma harusnya kalau sekiranya masyarakat belum bisa itu ya dirembung dulu, atau bagaimana, kan begitu, tuhu-tahu sudah membangun sanggar itu. Terus yang pihak masyarakat kan tidak searogan, itu intermezonya sehingga pada akhirnya kedua belah pihak bisa saling menerima karena banyak pihak memberikan itu,” ujarnya dalam forum tersebut.

Sunarto menambahkan, untuk proses kelanjutan setelah mediasi itu diserahkan ke Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika). Jadi, kata dia, sejauh mana untuk melihat kondisinya disarankan untuk menemui pihak Muspika.

“Seandainya menghendaki kesana ya kita ke Pak Camat saja, karena saya kawatir kalau nantinya terjun ke lokasi, saya kawatir kalau kehadiran kita ada salah satu pihak merasa di lindungi, diewangi lah bahasa Jawane, sehingga kalau memang mau ke lokasi biar bersama pak Camat nanti biar petunjukknya biar Muspika lah dan pak Kapolsek,” pintanya.

Setelah memberikan saran, Sunarto tiba-tiba menghentikan perbincangan dalam forum, dan bergegas ingin keluar dan tidak mau melanjutkan forum tersebut. Karena dirinya takut kalau nanti ada permasalahan dirinya dijadikan penyebab kesalahan.

“Ibu, ini saya mohon maaf ya, terus terang Dinas kami terkait yang lain dan sebagainya tidak bisa memfasilitasi, permasalahannya monggo karena penanganan ini sudah ditangani oleh Pemkab, meskinya diskusi semacam ini bukan di sini, Bu. Permasalahannya kalau ini nanti jadi masalah saya yang kena, Bu. Jadi, mohon maaf, jika ini jadi masalah saya dianggap memfasilitasi karena ada orang yang tahu saya ada disini,” jelasnya.

Sebelum keluar dari ruangan, Sunarto memberikan ijin dan mempersilahkan kepada rombongan kalau ingin melakukan kunjungan ke lokasi kejadian (Sanggar Candi Busono) di Kecamatan Kragan.

“Sekali lagi, saya tidak berani kalau memfasilitasi ini nanti kalau ada sesuatunya saya yang kena semuanya. Jadi, kalau mau ke Kragan monggo kesana,” pintanya.

Setelah Sunarto keluar dari ruangan, forum yang tujuannya ingin mendapatkan hasil yang baik dari kedua belah pihak akhirnya tidak menghasilkan apa-apa. Forumpun akhirnya berhenti di kolong meja dengan hasil nol. [elsa-ol/@AbdusSalamPutra-Salam/003]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *