Definisi Geografis Agama

0
158

Oleh: Tedi Kholiludin

Tidak cukup banyak pengkaji agama yang menjadikan metafora-metafora geografis sebagai penjelas idenya. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Thomas A. Tweed. Teori agama yang dielaborasi oleh Tweed memiliki relevansi dengan studi-studi geografi agama, terutama dalam sudut pandang tempat dan ruang yang ditilik dari sisi simbolik-metaforik.

Tweed menulis sebuah buku untuk menjelaskan tentang apa yang ia maksud mengenai agama dengan menggunakan metafora spasial, “Crossing and Dwelling: a Theory of Religion.” Cerita tentang bagaimana sebuah konteks ia teoritisasikan, bermula ketika Tweed mengikuti Hari Perayaan Bunda Amal Kasih (Our Lady of Charity) yang diselenggarakan oleh umat Katolik Kuba di Miami pada 8 September 1993. Ia adalah simbol bersama bagi ratusan orang Kuba yang telah mengubah lanskap budaya Miami setelah Fidel Castro berkuasa pada tahun 1959.

Para migran dari Kuba itu datang dengan harapan baru, sekaligus tentu saja tidak pernah membuat memori mereka terputus dengan keluarga yang ditinggalkan. Tweed mencari teori agama yang memahami kehidupan keagamaan para imigran transnasional serta mengkaji tiga tema; gerakan, relasi, dan posisi (movement, relation, and position). Bagi Tweed, agama itu tidak sekadar dinamis, tapi juga relasional.

Tweed mendefinisikan agama sebagai pertemuan arus budaya-organik yang mengintensifkan kegembiraan dan menghadapi penderitaan dengan memanfaatkan kekuatan human (manusia) dan suprahuman untuk membuat rumah dan melewati batas-batas.

Pengertian ini membawa dua jenis metafora dalam memahami apa itu agama dan apa yang dilakukannya, yakni metafora spasial (dwelling dan crossing) serta metafora aquatik (confluences dan flow). Metafora spasial menandakan bahwa berbicara agama berarti tentang usaha mencari tempat tinggal sekaligus bergerak melintasi ruang. Metafora aquatik soal agama bukanlah tentang substansi yang direifikasi, tetapi proses yang kompleks.

Kunci dari teori agama Tweed ada pada frase “…make homes and cross boundaries.” Inilah tentang dwelling dan crossing, tempat tinggal atau kediaman dan persimpangan. Dwelling dan crossing ini yang berbicara banyak tentang fungsi agama untuk memanfaatkan kekuatan manusia dan supra-manusia untuk mengintensifkan kebahagiaan dan melawan penderitaan.

Karenanya, Tweed mengajukan definisi yang lebih ‘geografis’ tentang agama. Baginya, agama adalah praktik-praktik spasial (spatial practices). Dua orang laki-laki dan perempuan yang beragama selalu ada dalam proses pemetaan lanskap simbolis dan membangun tempat tinggal simbolis (symbolic dwelling) dimana mereka memiliki ruang dan menemukan tempatnya sendiri.

Agama kemudian menempatkan wanita dan laki-laki di medan alami dan ruang sosial. Kekuatan supranatural dilibatkan sebagai alat justifikasi dan menentukan lokasi sosial; kamu masuk sebagai bagian dari kasta tertentu; kamu adalah budak dan Tuhan mengamininya.

Selain sebagai penentu lokasi, agama juga menandai tempat. Misalnya; lepas sandal saat masuk area suci; jangan bepergian jauh saat Sabbath; di gunung ini, para dewa bersemayam. Agama juga berperan dalam membangun identitas kolektif. Identitas ini yang membedakan antara “kita” dan “mereka.” Umat Islam dilarang makan daging babi, boleh melakukan ini, tapi jangan melakukan itu, dan seterusnya.

Tak hanya berbicara tentang tempat-tempat sakral di dunia, agama juga melakukan penjelajahan terhadap dunia surgawi dan wilayah “bawah tanah.” Ketika kamu meninggal, setelah menjalani hidup dengan benar dan meninggal sempurna, kamu akan pergi ke tempatmu. Kamu akan tinggal di rumah Bapa di sorga.

Berbarengan dengan penjelasan agama sebagai dwelling, Tweed menegaskan agama sebagai dari sisi pelampauan terhadap batas-batas. Pendatang dan pemukim, sama-sama banyaknya dalam agama. Perlintasan (crossing) adalah praktek spasial lain dalam agama. Ada peluang terjadinya gerak melintasi terrestrial, korporil dan kosmik.

Perjalanan agama melintasi batas terrestrial, bisa kita pahami laiknya mereka yang melewati medan alami dan ruang sosial di luar atau seberang rumah. Sementara melewati batas korporil sebagaimana agama memperbaiki perhatian mereka pada batas-batas eksistensi yang menubuh. Dan perlintasan kosmik dalam pengertian seperti yang dibayangkan manusia saleh dan melewati cakrawala akhir kehidupan. Agama melewati batas kehidupan yang diwujudkan.

Ibadah haji di Mekkah bisa kita jadikan contoh bagaimana agama itu ada dalam dualitas dwelling dan crossing itu. Perjalanan menuju Makkah merupakan sebuah penziarahan yang dikonstruksi sebagai ibadah. Perintah untuk melakukannya, secara eksklusif diwajibkan kepada umat Islam. Karena ini merupakan kewajiban, maka siapapun yang melaksanakannya berharap mendapatkan nutrisi spiritual disana.

Namun, agama tidak hanya tentang batas, tetapi juga bagaimana melampauinya. Pengalaman mereka yang melakukan ibadah haji di Makkah adalah cerita tentang dua moda yang tampaknya seperti bertentangan; Makkah sendiri sebagai sentrum kekuatan spiritual yang tetap di satu sisi, tetapi di sisi lain, pengalaman berhaji bisa dikategorikan sebagai pergerakan melintasi batas sosial, nasional, alam dan etnis serta gender. Perjuangan melakukan perlintasan itu menjadi penting dilakukan untuk mendapatkan makna haji yang sesungguhnya. (Corrigan: 2009)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here