Di Semarang, Diskursus Kebudayaan Tidak Berkembang

0
109

[Semarang – elsaonline.com] Minggu, 22/7, Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) menggelar Tadarus Budaya sebagai rangkaian diskusi di Bulan Ramadhan. Dihadiri oleh puluhan pegiat kajian di Semarang, diskusi dihelat di Kantor eLSA, Perum Bukit Walisongo Permai. Sembari menikmati malamnya Semarang dari ketinggian, Identitas Budaya Masyarakat Semarang menjadi tema perbincangan.

Peserta diskusi menyimak tuturan pembicara

Hadir sebagai pembicara diskusi, Tubagus P. Svarajati, kritikus seni rupa yang telah puluhan tahun mengamati lalu lintas kesenian masyarakat Semarang. Di awal pengantar diskusi, Direktur eLSA, Tedi Kholiludin mengatakan bahwa kebudayaan Semarangan yang menjadi bahan diskusi malam itu tidak hnaya soal warak ngendhog dan Dugderan tetapi tentu saja kebudayaan yang lebih luas dari itu.

“Dalam beberapa puluh tahun terakhir, saya mengamati kebudayaan di Semarang secara umum. Tetapi saya tidak punya kapasitas untuk berbicara dalam hal yang spesifik. Di tahun-tahun 1970an, seni rupa Semarang itu identik dengan sanggar Raden Saleh. Identik dengan pelukis yang otodidak, tidak belajar secara akademis. Kecuali Gondo Sukoco” kata Tubagus memulai diskusi.

Uniknya, di Semarang saat itu tidak dikenal namanya seni rupa, tapi seni lukis. Padahal tahun 1974 di Jakarta saat itu dikenal ada Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB). Gerakan ini membongkar tatanan modernisme dalam pengertian seni lukis. Jadi orang tua itu dicaci maki oleh GSRB. Karya-karyanya dianggap banal, ada stiker, poster, instalasi ada patung yang tidak “artistik”, ketelanjangan dan lain-lain. Oleh orang-orang tua dianggap bukan seni. Tetapi GSRB ini menjadi cikal bakal dari apa yang sekarang disebut sebagai seni rupa kontemporer Indonesia. Seniman Semarang menamakan dirinya pelukis, kerjanya hanya menulis. Sementara seni rupa, yang pekerjanya disebut perupa, itu menghasilkan karya-karya tiga dimensional seperti instalasi, fotografi, patung dan lainnya yang mix media. Itu menunjukan bahwa mungkin dari sisi pengetahuan Semarang tertinggal, juga dari sisi jejaring.

Menariknya lagi, kata Tubagus, para seniman di Semarang itu belajar secara otodidak. Dugaan dia, karena itulah kawan-kawan di Semarang merasa terkucil. Sampai tahun 1980an seniman di Semarang hanya mengenal seni lukis. Meski di Semarang ada IKIP Negeri (Unnes, red) yang punya jurusan pendidikan seni rupa saat itu, tetapi mereka tidak memberi kontribusi. Mungkin sampai hari ini.

“Saya kira persoalan seni rupa di Semarang itu mencerminkan satu representasi dari apa yang disebut budaya Semarang, tidak jelas mau ke arah mana” kritik Tubagus yang pernah lama bergulat di dunia fotografi. Sampai hari ini, seni rupa kontemporer Semarang itu juga tidak pernah beranjak dari pusat. Pusat ini bisa kita sebut, Bandung, Jogjakarta atau Bali. Jakarta hanya kapitalisasi saja, bukan pusat. Semarang selalu kelewatan. Ini paradoks. Padahal di tahun 1950an, ketika pelukis rakyat yang berafiliasi dengan Lekra itu sangat kuat, Semarang itu menjadi lalu lintas. Seniman dari Surabaya atau Jakarta selalu bertemu di Semarang. Atau seniman dari barat yang mau  ke Bali selalu ke Semarang. Mungkin ini karena sejarah Semarang muncul Komunisme, SI Merah, cikal bakal PKI sebelumnya yang muncul di Semarang.

Tubagus P. Svarajati

Kenapa dalam jangka waktu sedemikian lama, Semarang menjadi tidak menarik? Muncul satu sanggar tapi kemudian hilang. Muncul lagi yang lain, lalu hilang lagi. Terus ada seniman teater yang mengatakan kalau Semarang itu kuburan seni, wilayah yang tidak akan tumbuh kesenian besar. Stigma semacam ini seolah menjadi tuah. Kalau seniman itu tidak keluar dari Semarang, tidak akan jadi duit.

Ini juga menjadi pertanyaan, kenapa seniman dari Semarang tidak pernah menjejakan kakinya di level nasional.  Tubagus menduga itu bisa jadi karena lahan Semarang tidak memungkinkan bergerak di tingkat kesenian. Atau juga bisa jadi karena discoursenya tidak dikembangkan secara sungguh-sungguh. “Atau mungkin karena sifat orang Semarang merasa masing-masing memiliki kekuatan sendiri-sendiri” tambahnya. Sebenarnya ini konsep egaliter, tetapi mungkin kebablasan jadi masing-masing tidak mau kalah. Dan kita tidak pernah mengakui capaian-capaian yang dilakukan oleh pendahulu, sehingga kita bisa ambil hikmahnya, atau meneruskan keberhasilannya. Sehingga pegiat seni di Semarang seolah ingin memulainya dari titik nol, ingin memulai sejarahnya sendiri. “Inilah kira-kira bagi saya membuat kenapa Semarang jejaknya tidak jelas. Karena kita tidak pernah mau mencatat sejarah orang dulu” kritik Tubagus.

Tedi Kholiludin mengatakan kalau melihat konsep kebudayaan pesisir di Jawaa Tengah, mungkin Semarang adalah wilayah yang khas. Semarang itu dibedakan dari Demak ke Timur dan Kendal ke Barat. Seperti daerah yang harus dibedakan dari wilayah pesisir utara lainnya. Semarang ada di wilayah yang tidak merepresentasikan kelompok keagamaan tertentu. Bisa jadi hal ini disebabkan karena sejarah Semarang yang merupakan kota metropolitan yang harus membuka diri terhadap kebudayaan apapun. Karena kelompok etnik atau agama apapun harus bertemu di kota ini.

Tedi menuturkan pada zaman kolonial ada kebijakan yang betul-betul dibatasi. Pendirian gereja hanya dibolehkan di kota-kota besar saja, termasuk Semarang. Jadi betul-betul kota metropolitan. Tetapi menjadi kabur entah apakah karena peserta kompetisi budayanya terlalu banyak sehingga tidak memunculkan kebudayaan yang khas.

Ceprudin, peneliti eLSA mempertanyakan lesunya kebudayaan Semarang. “Apakah Semarang memang betul-betul tidak menarik dari sisi kebudayaannya atau hanya faktor personal senimannya saja”, ujarnya.

Tubagus menjabarkan bahwa di pertengahan abad 18, pemerintahan VOC pindah dari Jepara ke Semarang, karena pelabuhan Jepara terjadi sedimentasi besar-besaran. Semarang kemudian dibangun kereta api, maka Semarang itu menjadi pusat dan sangat kosmopolit. Di Jalan Bojong, itu disebut mirip dengan pinggiran Perancis. Di Kota Lama, ada benteng, gereja memang muncul dari sana. Maka kalau kontestasi itu bisa disebut, jelas itu budaya Eropa dan Kristen. Karenanya, Islam tidak muncul secara masif, padahal secara geopolitik, Pesisir itu wilayah yang mudah masuk Islam, tetapi di Semarang Islam tidak. “Dugaan saya karena kekuatan kapitalistik dan imperialisme. Sampai tahun berikutnya, Cina masuk Semarang setelah pembunuhan besar-besaran tahun 1740 di Batavia. Dengan masuknya Cina yang juga eksodus dari Cina daratan, Cina semakin banyak perdagangan semakin kuat, sehingga tidak memunculkan Islam di Semarang” tambahnya.

Sementara, Ahmad Fauzi pemerhati masalah sosial keagamaan menuturkan bahwa masyarakat Semarang itu seolah-olah ahistoris. “Saya ingin membandingkan Turki dan Jepang” paparnya. Turki sebelum penggulingan Khalifah Utsmani itu sangat religius dan munculah Kemal Ataturk. Ataturk seolah-olah ingin menghilangkan warisan masa lalu. Dan dia betul-betul ingin melakukan westernisasi, yang identik dengan kemajuan. Akhirnya masyarakat Turki mengalami amnesia sejarah. Ingin membangun kebudayaan modern, dengan melupakan masa lalu. Ini berbeda dengan masyarakat Jepang. Jepang itu sebelum Restorasi Meiji mereka sebelumnya sudah memiliki etos dalam Tokugawa Religion melalui tokohnya Ichida Beigan. Mereka membangun kebudayaan modern tanpa melupakan masa lalu. Itulah kesinambungan sejarah. Dan itu Jepang membangun kebudayaan modern, bukan dengan alat atau warisan dari luar. Tetapi dari warisan yang inheren. Kalaupun ada budaya dari luar itu epifenomena saja, namun fundamennya khas Jepang. “Kalau kita ingin membangun kebudayaan, saya rasa warisan itu sangat penting” imbuh Fauzi. Dan warisan itu tidak identik dengan tumpukan benda material yang ada di museum atau lain-lain.

Fauzi mengatakan kalau Semarang itu mungkin pusat tenaga kerja terbesar. Jawa Tengah itu pemasok tenaga kerja yang cukup besar. Ibnu Khaldun pernah memunculkan teori Tribal circulation. Bahwa, Kota itu memang metropolitan, Tetapi ia tidak membangung dirinya sendiri. desa-desa  itulah yang memasok yang menjadi penopang dan benteng. Desa yang ada di sekitar kota menjadi garnisun dan yang paling pokok adalah pemasok bahan materi. Ada ketika orang desa yang harusnya menjadi penopang kota, sementara kota tidak agraris, namun kontrak kerja. Ikatan-ikatannya dibangun atas kontrak kerja, persekutuan kontraktual dan lainnya. Sementara desa dibangun atas dasar kekerabatan atau paguyuban. Jadi desa yang memasok kohesi sosial kota mengalami pengeroposan. Sementara kota tidak punya basis sosial yang kuat. Yang kedua, ada masyarakat desa yang mengalami kejutan budaya saat mereka datang ke kota dan tidak bisa lagi kembali ke desa.

Tubagus menuturkan Semarang menjadi tak beridentitas ini, karena ada proses sekularisasi yang kuat. Agama tidak memberikan ciri. “Dominasi Katolik? saya tidak melihat praksisnya sehari-hari di orang Semarang, juga Islam” tuturnya. Kebudayaan tidak harus digali dari perspektif agama saja tetapi juga dari yang lain, sehingga tidak ada budaya yang dominan.

“Saya jadi teringat rumusan, cara manusia memproduksi kebutuhan dasar itu menentukan kebudayaan masyarakat itu sendiri” kata Fauzi. Jika dilihat dari wilayah pekerjaan masyarakat Semarang, itu sebagian besar buruh. Kekuatan buruh itu yang menguasainya adalah kekuatan-kekuatan kapital. Dan ini tidak kelihatan, karena yang memainkan elit. Negara harus melayani kepentingan yang menaunginya.

Di akhir pembicaraan, Tubagus mengingatkan bahwa konstruk kebudayaan apapun, yang pada awalnya disebut sebagai sub-culture itu pada akhirnya bisa menjadi budaya dominan jika didekati oleh kekuasaan dan kapital. Karena itu tidak menjadi persoalan jika satu saat seseorang bisa makmur dengan discourse yang dikembangkan. (e)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here