Di Semarang, Hubungan Antar Agama Tak Jadi Masalah

0
157

IMG_7640[Semarang –elsaonline.com] Pengasuh Pondok Pesantren al-Islah Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, KH Amin Budi Harjono bercerita agak panjang soal bagaimana kisah hubungan antar agama di Kota Semarang.

Menurutnya, hubungan agama di kota ini tidak mengalami banyak masalah. Terlebih, adanya gesekan yang menggunakan dalih agama tidak banyak muncul, jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Tengah.

“Saya sudah sering berinteraksi dengan pemuka antar agama. Di Semarang ini, saya yakin tidak pernah ada masalah antar agama. Tidak pernah ada catatan untuk itu, tidak ada,” kata Kiai Budi di sela-sela menghadiri penahbisan imamat Romo Budi Purnomo di Gereja Gang Pinggir Semarang, beberapa waktu lalu.

Menurut Kiai Budi, hubungan antar agama tidak perlu dipersoalkan, karena menyangkut dinamika sosial bermasyarakat. Dia berprinsip, untuk bisa menghormati sesama makhluk ciptaan manusia, tak terkecuali kepada pemeluk agama lain.

Di Kota Semarang ini, lanjutnya, hubungan antar agama tercermin dari cara seseorang memakan sesuatu. Di kota ini, makanan yang disantap sangat berpengatuh bagi pola pikir dan tindakan seorang.

Selain makanan, keberadaan tumbuh-tumbuhan yang beragam itu juga menjadi filosofi keberagamaan. Musik yang beragam corak dan warna itu juga tidak bisa menyekat orang yang beragama.

“Alam itu mengajarkan keragaman, bukan keseragaman. Jadi, kalau ada orang yang ingin keseragaman berarti dia tidak paham itu keragaman. Makanan itu juga mencerminkan perilaku seorang. Begitu juga dengan tumbuhnya tumbuhan yang beragam, serta musik (orkestra) yang tak kenal sekat agama. Semuanya ada maknanya bagi hubungan antar agama,” tambahnya.

Untuk itulah, pada prinsipnya ketika berhubungan dengan siapapun harus dilandasi dengan sikap kebersamaan bahwa manusia itu sama di mata Tuhan. Tidak ada perbedaan Tuhan ketika mencipakan manusia. “Memahaminya harus didasari pada ujung dari kita berbuat, semua didasari atas kehendak Tuhan bahwa manusia itu sama,” paparnya. [elsa-ol/Nurdin-@nazaristik]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here