Dialog, Jalan Untuk Perdamaian

0
31

Oleh: Ceprudin

Isu mengenai seputar agama dan keyakinan dalam kehidupan sosial masyarakat memang amat sensitif. Bak bola api dalam sekam, sesekali tertiup angin, api akan berkobar. Kerap kali kita menyaksikan berbagai aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Tak jarang suatu kelompok mengklaim bahwa keyakinan kelompoknyalah yang pali benar. Sehingga keyakinan kelompok agamanyalah yang dianggap paling benar.

Berangkat dari anggapan bahwa keyakinan-agamanya yang paling benar maka ajaran yang lain patut diluruskan. Dengan cara apa pun kelompok yang fanatik, merasa kelompoknya paling sesuai dengan kehendak Tuhan, kemudian merasa punya tanggung jawab untuk membenarkan. Paham keagamaan yang demikian kerap menimbulkan ketegangan horisontal di masyarakat.

Negeri kita adalah negri yang majemuk, kayak akan budaya dan perbedaan. Bukan hanya perbedaan dalam memilih agama semata. Namun dalam satu agama juga banyak sekali terjadi perbedaan. Entah itu perbedaan imam madzhab atau “imam” politik. Belum lagi jika kita hidup berdampingan dengan kelompok penghayat kepercayaan. Maka Indonesia akan terasa amat kaya dengan budaya.

Tapi ironisnya dengan adanya perbedaan cenderung mengakibatkan mengarah kepada tindakan yang kurang arif di masyarakat. Mengingat Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan plural, antisipasi tindakan sepihak dan cendrung anarkis harus di antisipasi sedini mungkin. Realita sosial yang plural merupakan sebuah keniscayaan, dari itu bangsa ini harus semakin dewasa dalam menyikapinya.

Seringkali persaudaraan umat bumi pertiwi ini menjadi pecah persaudaraanya dikarenakan tidak dewasa dalam menyikapi orang lain, golongan lain, aliran lain, bahkan agama lain dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketidakdewasaan dalam menyikapi perbedaan kerap kali menjadi pemicu konflik yang berjung pada tindak kekerasan antar agama ataupun keyakinan. Lebih jelasnya bisa kita lihat tindak terorisme yang dalam dua pecan ini marak diperbincangkan. Seputar konflik antar agama dan internal umat beragama selalu saja muncul di Indonesia dan rasanya tak kunjung juga selesai dalam penangananya. Termasuk juga tindak terorisme. Pelaku, jaringan dan pendonornya juga  selalu saja mengalami perkembangan baru.

Mengenai aksi intoleransi, baru-baru ini terulang kembali di Semarang. Aksi sepihak ini dilakukan oleh sekelompok aliran dalam agama Islam. Kekerasan tersebut berupa pengeroyokan terhadap imam sholat terjadi di dalam Masjid Nurul Hikmah di Jalan Kedungmundu Raya tepatnya Kampung Karanggawang Baru No. 1 RT 4 RW 6 Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Usai memimpin sholat magrib, Minggu (12/2), Ahmad Chumaidi, dikeroyok dua pria berjenggot. Padahal waktu itu masih dalam posisi membaca kalimat tahlil (berdzikir). Selain dua orang pelaku, empat orang pria berjenggot lainnya ikut mencaci maki imam tersebut dengan umpatan kata-kata kotor, di mimbar mesjid. Buntut dari kasus ini, pelaku pengeroyokan harus berurusan dengan pengadilan.

Ketegangan antar keyakinan, kelompok, agama, nampaknya tak akan pernah surut. Selama perbedaan itu ada, penulis kira prasangka-prasangka tidak baik terhadap ajaran yang lain akan selalu ada. Ketidaktahuan terhadap agama atau keyakinan yang lain kerap mengakibatkan orang terjebak dalam kesalahpahaman. Hal demikian biasanya berujung kepada aksi saling menjelekan antar sesama kelompok agama.

Karena itu, kita semua (tidak hanya pemerintah) paling tidak sebagai warga negara yang baik, patuh terhadap aturan. Dimana harus tetap saling menjaga ketertiban demi kedamaian. Aksi terkait dengan pengeroyokan imam, itu merupakan salah satu bentuk ketidakpatuhan terhadap hukum yang mestinya selalu kita junjung tinggi.

Kejadian ini semestinya bisa diantisipasi sejak dini. Sehingga tindakan anarkis tidak mungkin terulang dan terus terulang kembali. Penulis kira itu bukan hanya semata pengeroyokan yang terjadi secara spontanitas. Melainkan itu ada unsur yang mendukung. Sebagaimana dikethui, bahwa antara pelaku dan korban memang sejak awal sudah ada ketegangan yang berkepanjangan.

Usut punya usut, ternyata memang jama’ah dalam mesjid tersebut ternyata ada dua aliran yang memang itu berlainan keyakinan, bahkan boleh dibilang bertolak belakang. Sehingga ketika sholat sama-sama menggunakan mesjid masing-masing ingin “menguasai” tempat tersebut sehingga terjadi semacam perang dingin antara dua kelompok (yang kedunya sama-sama punya masa).

Akhirnya puncak ketegangan itu meletus ketika imam tersebut hendak dimintai microphone-nya oleh salah satu jama’ah sehingga terjadi rebutan microphon. Jika para jama’ah yang lain tanggap akan hal demikian, seharunya jauh-jauh sebelum terjadi kekerasan, sudah melaporka kepada pihak yang berwenang untuk menyelesaikan konflik dingin tersebut.

Sehingga aparat bisa melakukan kordinasi dengan ulama setempat dengan jalan musyawarah. Disana kemudian kedua belah pihak harus saling terbuka tanpa harus ada yang ditutupi karena itu yang menimbulkan emosi tersulut, karena terpendam.

Dalam keadaan demikian, nampaknya kita dan satu sama lain harus mampu menciptakan dialog yang sehat antar sesama agama, keyakinan bahkan suatu aliran kepercayaan. Dengan dialog paling tidak satu sama lain bisa memahami perbedaan-perbedaan yang ada. Ketegangan, prasangka tidak baik dalam suatu dialog bisa diskusikan bersama. Tentu, dialog yang sehat akan tercipat jika dengan niatan yang sehat pula.

(Tulisan ini telah dimuat di Harian Jateng Pos)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here