Dua Jam di Pesantren Waria

0
78

Roker juga manusia, punya rasa punya hati….. Ini adalah bait lagu yang berjudul “roker juga manusia”. Lagu ini dinyanyikan oleh band yang beraliran ngerok (serius band). Lagu ini terbesit dalam angan saya saat berkunjung ke Pondok-pesantren (Ponpes) Waria di Jogjakarta, beberapa waktu lalu. Ponpes ini tepatnya terletak di Notoyudan, Gedong Tengen, Jogjakarta.

“Waria juga kodrat Allah mas, saya juga tidak menginginkan menjalani hidup menjadi seorang Waria” tutur Maryani sebagai pendiri ponpes waria itu. Mungkin, jika Maryani menjadi musisi bait lagu roker juga manusia akan diganti dengan Waria juga manusia, punya rasa punya hati. Karena mengarungi hidup yang pahit getir (sebagai waria) seperti pengalaman yang dialami Maryani itu bukan jalan yang diinginkan.

Maryani (Pengasuh Pesantren senin-Kamis)

Berbagai pengalaman hidup yang dirasa tidak adil bagi kehidupan dirinya sebagai seorang waria, membuat hatinya tergerak untuk membentuk pondok Waria. “Jadi Waria itu sengsara mas, saya pernah disiksa oleh tentara hampir setengah mati” lanjut Maryani. Sejak pengalaman pahit yang menimpanya itu Maryani merindukan kasih Tuhan. Menurut wanita kelahiran 50 tahun lalu ini mereka juga manusia (Waria) yang membutuhkan bimbingan spiritual religi.

Pandangan sebelah mata dari masyarakat membuat mereka takut untuk mengikuti pengajian-pengajian. Padahal bukankah hal semacam itu kebutuhan setiap individu? Untuk itulah Maryani berinisiatif mendirikan Ponpes Waria untuk membimbing mereka. Tujuannya, mendekatkan diri kepada Allah.

Masyarakat mengapresiasi secara positif kehadiran pondok waria itu. Tentunya kata pelajar tidak selalu dimaknai dengan titel yang tinggi. Melainkan emosional, moral, dan sosialnya yang terpelajar. Untuk mendirikan Ponpes itu ia dibantu oleh Drs. KH. Hamrolie Harun, M.Sc. Nama Senin-kamis itu juga dianjurkan agar para santri ikut puasa Senin-kamis sebagaimana Sunnah Rasulullah SAW.

“Kebetulan ada kiai yang mau mengukup (mengayomi) kami mas” tandas Maryani. Meski namanya Pondok Pesantren Waria, di ponpes ini juga menerima santri dari kalangan Gay, Lesbi dan Transgender. Disamping itu para santri tidak diwajibkan untuk masuk Islam. Karena santrinya dari berbagai agama. Dari itu Maryani mendatangkan tenaga pendidik dari ustadz, pendeta dan pastur.

Jumlah santri di sana mencapai 15 orang. Mereka mendirikan Ponpes itu semata hanya karena untuk ibadah. “Terserah apa kata para ulama yang mengatakan waria itu penyakit, dan ibadahnya diharamkan”. Jika kita nalar tidak mungkin tuhan mengharamkan (melarang) niatan ibadah (pengabdian) umatnya sendiri.

Kegiatan di ponpes Waria tentunya tidak seperti ponpes pada umumnya. Kegiatan ponpes ini dimulai pada Minggu sore diawali dengan shalat magrib. Setelah itu minggu malam sampai senin fajar melaksanakan sholat shubuh. Para santri menjalani kegiatan seperti zikir, shalawat, sholat tahajud dan makan sahur untuk puasa sunnah hari senin. Pada hari senin kegiatan dimulai pukul 08.00 diawali dengan shalat dhuha.

Sepanjang hari diisi dengan kegiatan membaca Al-qur`an, belajar shalat (bagi yang belum bisa). Kemudian senin sore para santri melaksanakan buka bersama. Kegiatan diakhiri dengan shalat isya berjamaah, setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing.

Pondok itu memberikan kebebasan bagi para santrinya. Dalam masalah prifasi aturan pondok tidak membatasi atau mengaturnya. Waria sebagai manusia biasa juga membutuhkan sandang, pangan, dan papan (tempat tinggal). Untuk menycari semua itu para santri dibebaskan. Ada yang ngamen, keluar malam, dan buka salon sekaligus rias pengantin. Jika MUI mengharamkan salon waria, lalu MUI bisa memberi penghidupan apa terhadap mereka, Bukankah jika kita melarang harus juga memberi solusi?

Diskursus eksistensi kehidupan Waria bukan hal yang baru. Tapi kiranya masih juga membutuhkan pikiran yang jernih dalam menyikapinya. Hingga dewasa ini eksistensi Waria masih  dipandang sebelah mata, mereka masih menjadi kaum yang termarginalkan. Waria identik dengan jalanan, dimana kehidupan malam menjurus terhadap kemaksiatan. Bagaimanapun waria tetaplah seorang manusia yang memiliki hati nurani, mereka juga mempunyai kebutuhan spiritual.

Selain kegiatan rutinitas dalam ponpes, para santri juga sering diajak untuk berziarah ke makam-makam para waria yang sudah meninggal. Mereka punya rasa sosial yang sangat tinggi. Waria yang meninggal dunia jarang yang didoakan oleh anggota keluarganya. Hal ini membuat hati para waria terenyuh. Tak jarang ada Waria yang meneteskan air mata saat berziarah. Karena masih ada anggota keluarga mereka yang tidak mengakui mereka (waria) sebagai keluarganya.

Kegiatan berziarah bertujuan agar para santri sadar, bahwa kelak mereka juga akan mengalami hal yang serupa. Sehingga diharapkan muncul niatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Waria yang menjadi santri di Ponpes Senin–Kamis tidak dipungut bayaran sepeserpun. Untuk membiayai kegiatan Ponpes, Maryani menyisihkan sebagian hasilnya merias manten dan salon yang terletak tidak jauh dari Ponpesnya.

Maryani tidak menolak jika ada donatur yang menyumbang untuk Ponpesnya, tapi dia tidak mencari dana. Kenapa dia tidak mencari dana? Dia takut ada orang yang berprasangka buruk terhadapnya, Waria mendirikan Ponpes hanya untuk meminta-minta.

Adanya pro-kontra Ponpes ini menunjukkan bahwa masyarakat kita masih sulit menerima keberadaan Waria dilingkungannya. Bukankah dalam Undang-undang dasar 1945 setiap warga negara berhak memeluk agamanya dan beribadat menurut keyakinannya masing-masing? Apakah hak itu tiba-tiba hilang hanya karena mereka seorang Waria? Biarlah hati nurani kita yang menilai.

Waria sebagai manusia biasa pasti membutuhkan pemenuhan hasrat  biologis yang merupakan hak asasi setiap manusia. Maka, Maryani pernah melakukan nikah sirri dengan seorang laki-laki. Lalu suaminya menikah lagi, karena Maryani memberi kebebasan kepada suaminya. Dengan alasan kasihan karena pernikahannya tidak menghasilkan keturunan.

Sebetulnya, Abdul Muiz Ghazali pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah sudah menggagas pernikahan bagi waria. Tapi niatan ini sekiranya masih banyak ditentang oleh masyarakat. Tantangan ini salah satunya muncul dari kalangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah.

Ahmad Rofiq selaku sekretaris MUI Jawa Tengah menilai gagasan untuk mengadakan pernikahan kaum waria itu terlalu mengada-ada. Karena dalam agama Islam tidak dikenal adanya pernikahan kaum Waria. Gagasan perkawinan waria sama saja sebagai upaya untuk menghidupkan lagi tradisi seperti pada zaman Nabi Luth. (www.tempointeraktif.com 19/5/2010)

Tapi disini kita tidak akan mendiskusikan kembali tentang kejadian pada masa Nabi Luth. Dalam edisi 2005 Justisia sudah menerbitkan Jurnal yang berjudul indahnya kawin sesama jenis. Rasanya jurnal itu sudah cukup untuk kita agar bisa membedakan antara kaum Nabi Luth dengan eksistensi waria dijaman sekarang.

Jika MUI menganggap pernikahan waria itu mengada-ada itu pandangan yang sangat subjektif. Sejatinya, sebelum memberikan komentar tentang waria harus mengetahui dulu bagaimana eksistensi waria di Indonesia. Apalagi komentar itu mewakili lembaga MUI dan berkapasitas sebagai pakar hukum Islam.

Pernikahan waria ada dan nyata di depan kehidupan kita. Maryani sebagai contoh pelakunya. Karena ia tidak ingin selama hidupnya melakukan jina, maka ia mengambil alternatif nikah sirri. Kompleksitas dan bertambah pluralitas kehidupan manusia itu mensyiratkan bahwa kita harus lebih kencang ijtihadnya.

Sebagai penutup, saya mengucapkan selamat kepada bu Maryani yang telah sukses mendirikan pondok-pesantren bagi kaum yang dipandang sebelah oleh masyarakat. Memberi kesempatan bagi mereka untuk beribadah. Dan kami atas nama Justisia mengucapkan terima kasih karena telah menerima kunjungan kami. Dan tak enggan untuk bercerita seputar pondok dan kehidupannya. (Ceprudin/elsa-ol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here