Empu-Sugar on The The Weaver’s Chair; Sebuah Resistensi bukan Sekadar Inspirasi

Oleh: Fadli Rais (Peneliti eLSA)

Film “Empu-Sugar on The The Weaver’s Chair” mengisahkan perempuan yang memiliki spirit dalam kehidupan sehari-hari tanpa perlu menggeserkan posisi laki-laki. Diperankan oleh Annisa Hertami (Sutringah), Tiara Arianggi (Yati), Putry Moruk (Maria). Sutringah sebagai tokoh perempuan dari Banyumas, Yati dari Kelaten dam Maria dari Kefamenanu, NTT.

Perjuangan Sutringah menjadi tulang punggung keluarga pasca suaminya yang bekerja sebagai penderes nira kelapa (bahan pembuatan gula batu) jatuh dari atas pohon kelapa. Di posisi itu, Sutringah yang hidup di daerah Desa Cilongok-Banyumas tak segan melakukan pekerjaan demi kelangsungan hidup.

Perdebatan Sutringah dengan ibunya menjadi pukulan telak. Sutringah tak menyangka, orang yang ia hormati selama ini menghardik suaminya hanya karena berprofesi sebagai “tukang nderes”. Naas baginya, sepulang dari rumah ibunya, suaminya jatuh dari pohon kelapa. Ia terpukul, suaminya berbaring saban hari di kasur dan rentenir saban minggu sekali “silaturahmi” kerumahnya.

“Jangan kerja di luar, kamu jadi pengaduk gula saja,” bentak suaminya yang tengah berbaring.

Sutringah mendengarkan sembari memikirkan minggu depan ia sudah berjanji akan membayar utang. Bukan perkara mudah baginya di tengah lilitan lintah darat dan kondisi suami yang sudah tak bisa melakukan pekerjaan saban hari.

Meski awalnya bekerja di pabrik dengan Rani, namun ujungnya hanya upah. Sutringah akhirnya memilih untuk meneruskan pekerjaan sang suami. Ia pun meminta sang suami untuk menggantikan dirinya mengaduk gula.

“Aku yang memanjat, kamu yang mengaduk ya,” ujarnya sambil meneteskan air mata.

Tak sampai disitu, film ini juga menggambarkan Yati sebagai sosok yang tangguh secara mental dan psikis. Perempuan Klaten yang notabene difabel membuktikan kepada khalayak bahwa “learning by doing” menjadi bukti. Tenun luriknya menjadi jawaban atas pesimisme sosial yang diciptakan dari lingkaran eksternal dan internal dalam hidupnya.

Yati sempat mencoba peruntungan masuk ke dunia industri. Ia melamar dengan keahlian desainer. Namun, gayung tak bersambut dengan nasib. Keahliannya hanya dianggap sebelah mata. Menjadi penenun pabrikan lah ia ditempatkan oleh supervisornya. Alasannya sederhana, perusahaan menggunakan jenjang pengabdian dalam menempatkan karyawan pada posisi yang lebih tinggi.

Yati tak tinggal diam. Berdebat dengan atas. Memilih keluar dari perusahaan dan membuktikan bahwa dengan keahlian desainer. Seorang wanita sekaligus difabel itu bisa membuktikan kepada lingkarang eksternalnya.

Terakhir, Maria berjuang melestarikan tenun Biboki yang menjadi ciri khas Kefamenanu. Tekad Maria juga tak mudah, musababnya tanah tempat beraktifitas bersama teman-temanya justru tengah disengketakan.

Tantangan dalam kesetaraan gender berupa hak, tradisi serta kekuatan hidup bagi setiap pemeran film ini tidak lah mudah. Ketiganya mencari titik temu “gender dan budaya lokal” sebagai jalan keluar. Film yang diambil dari temuan GEF SGP Indonesia dan Teras Mitra saat melakukan pendampingan wirausaha berbasis komunitas.

Film yang disutradarai oleh Harvan Agustriansyah, amat penting untuk di bahas. Kita faham bersama cara berfikir masyarakat secara mayoritas tentang pria yang memiliki dampak penting bagi kehidupan sehari-hari. Kisah-kisah perempuan yang ditampilkan pada scence dengan durasi 60 menit itu, mengajak penonton pada satu titik “mubaddalah” — meminjam istilah Faqih Abdul Kodir — dalam pengelola sumber daya alam.

Perempuan dalam film kolaborasi GEF SGP, Terasmitra dan Impro Visual Storyteller mengajak perempuan tidak segera mengundurkan diri dari peran yang melemahkan posisinya, sekalipun respon yang dibuat dengan cara sederhana tanpa berpikir mengubah peran laki-laki.

Jika film ini disandarkan pada pengalaman James C. Scoot dalam bukunya “Perlawanan Kaum Tani dan Moral Ekonomi Petani “ mengungkapkan bahwa petani-petani melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang koorporat salah satunya dengan cara menggerutu. Menurut penulis, selemah-lemah iman dalam melakukan perlawan kepada “oligarki” apa yang disampaikan oleh James C. Scoot.

Bagaimana para ibu-bu petani di daerah Malaysia melakukan perlawan di setiap hari dengan cara “nggerundel” dari satu tempat lain. Ia sedang mendakwahkan resitensi dari objek satu ke objek lainnya. Sehingga perlawanan itu akan istikomah berjalan tanpa ada “benturan fisik”.

Sebagaimana di film garapan Harvan yang lebih banyak digeneralisir perempuan bekerja dianggap inspiratif. Justru bekerjanya seorang perempuan adalah salah satu cara keluar dari domestifikasi yang dipupuk secara simultan, sehingga resistensi terhadap patriarki sedikit demi sedikit akan luntur. Film yang menunjukkan “lokalitas” pun menggambarkan bahwa asumsi domestifikasi perempuan sebagai nilai lokal dan laki-laki berperan di segala lini justru menjadi alarm. Kultur yang itu sudah ada di daerah-daerah bukan impor dari Barat.

Menarik film Empu-Sugar on The The Weaver’s Chair untuk dilihat tidak sekedar “inspiratif” semata. Sebab ia akan akan menelurkan spirit gerakan perempuan lokal. Mari kita diskusikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *