Etos Kerja dan Hubungannya dengan Pemahaman Agama

0
31

Peresensi: M. Maulana Ali

Karya M. Luthfi Malik ini berasal dari disertasi yang dipertahankannya pada Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia tahun 2010. Luthfi tertarik meneliti perekonomian di masyarakat Gu-Lakudo Sulawesi Tenggara karena mempunyai proses perekonomian yang menarik. Daerah asal orang Gu-Lakudo di Muna merupakan daerah pesisir yang sangat tandus, berbatu kapur, dan gersang, namun pada akhirnya mengalami pembaharuan pada keagamaan, kebudayaan, dan pastinya perekonomian.

Sebelum mereka melakukan migrasi untuk mengembangkan perekonomiannya, masyarakat Gu-Lakudo hanya berkonsentrasi untuk bertahan hidup (subsisten) dari hasil laut. Keadaan alam tidak mendukung untuk mengembangkan pertanian dan perkebunan yang dapat menghasilkan serta menjadi nilai ekonomis.

Ada dua alasan yang menyebabkan masyarakat Gu-Lakudo hanya berkonsentrasi untuk bertahan hidup dari hasil laut sebagai “nelayan tradisional.” Pertama, kondisi alam yang tandus, gersang, dan tidak memungkinkan untuk bercocok tanam. Kedua, mereka belum memiliki etos ekonomi dan pengetahuan dagang berorientasi pasar.

Dalam buku berjudul ‘Etos Kerja, Pasar, dan Masjid’ ini menarasikan seorang pembaharu yang mempunyai andil cukup besar terhadap berkembangnya kebudayaan, keberagamaan, dan perekonomian masyarakat Gu-Lakudo. Namanya Abdul Syukur. Ia adalah seorang pedagang yang selalu berlayar dari pulau ke pulau untuk menjual dagangannya, kebetulan pembaharu ini juga sebagai ulama yang pernah mempelajari Islam di Makkah selama lima tahun. Ia memiliki pemikiran ke-Islaman yang ‘transformatif’.

Berkembangnya perekonomian, kebudayaan, keagamaan masyarakat Gu-Lakudo berawal sejak tahun 1938. Kedatangan Abdul Syukur ke daerah Gu-Lakudo untuk pertama kali itu tidak untuk menetap di sana, tapi hanya hanya untuk kunjungan biasa atau dalam konsepsi Islam disebut dengan ‘silaturrahmi’. Dari kedatangan itu kemudian Abdul Syukur menyaksikan realitas sosio-ekonomi, budaya, dan keagamaan orang Gu-Lakudo yang masih mempercayai “animism.”’.

Dari perjumpaan pertama itu, Abdul Syukur menyaksikan dengan jelas perekonomian masyarakat Gu-Lakudo yang subsisten dan realitas keberagamaan yang demikian agaknya menjadi pertimbangan Abdul Syukur untuk memulai gerakan pembaharuan agama pada masyarakat Gu-Lakudo, yang salah satunya adalah meningkatkan perekonomian masyarakat Gu-Lakudo.

Pada pertengahan tahun 1942, seperti yang diketahui, bala tentara Jepang menyerbu kemudian menduduki Nusantara. Adanya kejadian itu, pemerintah Jepang memaksa ‘bangsa’ Indonesia termasuk para Ulama untuk mendukung militer pemerintah Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Karena para Ulama yang salah satunya Abdul Syukur menolak untuk mendukung militer pemerintah Jepang kemudian Abdul Syukur menyelamatkan diri dengan memilih menetap di Gu-Lakudo, dengan pertimbangan masyarakat Gu-Lakudo memerlukan pendmpingan untuk kehidupan yang lebih baik.

Pada saat inilah, Abdul Syukur mulai menetap dan memulai gerakan pembaharuan agama. Asal letak geografis asal orang-orang Gu-Lakudo yang berada di pesisir pantai Teluk Bau. Daerah tersebut memang terpencil, namun akses perdagangan dan pelayaran cukup banyak, sehingga Abdul Syukur memulai untuk membantu perekenomian masyarakat Gu-Lakudo melalui pemuda-pemuda asal Gu-Lakudo untuk dilibatkan dalam pelayaran dan perdagangan.

Pelibatan para pemuda itu termasuk ‘penetrasi’ dalam proses rekayasa sosio-budaya, dengan melibatkan agen-agen masyarakat, Abdul Syukur berharap agar kehidupan masyarakat Gu-Lakudo dapat lebih baik. Gerakan yang digunakan Abdul Syukur untuk membantu masyarakat Gu-Lakudo adalah pembaharuan agama dan pembaharuan ekonomi perdagangan.

Ada upaya untuk penguatan modal spiritual-keagamaan orang Gu-Lakudo yang dilakukan Abdul Syukur mulai kedatangan keduanya pada tahun 1942 itu. Abdul Syukur mengajarkan Islam transformatif dan bernuansa pembaharuan untuk ‘membebaskan’ masyarakat Gu-Lakudo dari agama leluhur sekaligus membentuk etos ekonomi pergagangan untuk jangka panjang.

Konstruksi Sosial; Pasar dan Masjid
Sebelum kedatangan Abdul Syukur di Gu-Lakudo, masyarakat setempat memahami fungsi masjid hanya sebagai tempat ibadah formal sekaligus tempat melaksanakan ritus-ritus keagamaan saja. Seiring berjalannya waktu, Abdul Syukur mampu memberi pemahaman yang lebih luas tentang fungsi masjid. Abdul Syukur memberi gambaran terhadap korelasi antara masjid dan pasar untuk meningkatkan perekonomian serta cara meletakkan nilai-nilai ke-Islaman terhadap proses perdagangan.

Pada proses ini, kemudian masyarakat Gu-Lakudo mampu memahami fungsi pasar dan masjid. Sebelumnya masjid hanya difungsikan sebagai tempat ibadah formal, dan pasar hanya difungsikan sebagai tempat perdagangan, setelah itu fungsi masjid dan pasar berubah. Masjid selain digunakan sebagai tempat ibadah juga sebagai institusi sosial-keagamaan, termasuk perekonomian.

Masyarakat Gu-Lakudo berdakwah melalui berdagang di pasar, serta selain ibadah formal dan melaksanakan ritus-ritus keagamaan, mereka juga menggunakan masjid sebagai tempat hubungan-hubungan sosial berlangsung, yang memungkinkan untuk saling bertemu dan berlanjut pada perdagangan di luar masjid.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here