“Family Factor”: Membaca Pikiran Eberstadt tentang Agama dan Keluarga

0
88
Sumber Gambar: probisnis.net/kompasiana

Oleh: Tedi Kholiludin

Beberapa hari lalu, Mas Ulil Abshar Abdalla mengenalkan kepada saya sebuah buku karya Mary Eberstadt; Has the West Really Lost God: A New Theory of Secularizaton.

Mary Tedeschi Eberstadt, nama lengkapnya. Ia adalah Senior Research Fellow di the Faith & Reason Institute, dan senior fellow di the Ethics and Public Policy Center Washington, DC serta beberapa lembaga lainnya.

Saya hanya membaca satu chapter saja dari bukunya Eberstadt diatas. Tapi, penjelasan Mas Ulil saya kira menggenapi bacaan saya terhadap chapter tersebut. Saya coba mengaitkannya dengan buku-buku yang dirujuk Eberstadt serta karya Eberstadt yang memiliki tema sama.

Argumentasi pokok dari buku tersebut bisa dicermati dari kalimat berikut; “(This book’s) argument, in brief, is that the Western record suggests that family decline is not merely a consequence of religious decline, as conventional thinking has understood that relationship. It also is plausible -and, I will argue, appears to be true- that family decline in turn helps to power religious decline.”

Bagi Eberstadt, menurunnya peran keluarga tidak hanya berdampak pada kosongnya gereja, tetapi juga menurunnya otoritas agama.

Minat Beragama

Salah satu sejarawan Inggris, Hugh McLeod dan Werner Ustorf, menunjukkan tentang menurunnya “minat beragama” di negara-negara barat dan fenomena sekularisasi. Ada tiga jalan dimana keduanya menjelaskan fenomena ini.

Pertama, dalam amatannya, massa bukan berasal dari Pencerahan. Kedua, elit pada abad 18 lebih memilih untuk menjadi Kristen yang rasional ketimbang ateis. Ketiga, ada fakta bahwa pada awal abad 19 muncul kecenderungan bangkitnya kelompok Kristen Konservatif.

Elaborasi McLeod dan Ustorf dalam The Decline of Christendom in Western Europe, 1750–2000, kata Eberstadt, menyisakan lubang tentang “terusirnya Tuhan” oleh Pencerahan.

Selama ini banyak kalangan mengasumsikan bahwa sekularisme menyebabkan agama kehilangan perannya di ruang publik. Mereka yang mampu menyelesaikan persoalan dengan rasionya, bukan tidak mungkin adalah individu atau kelompok yang tak terlampau membutuhkan agama.

Sehingga, jika asumsi ini benar maka orang yang memiliki pendidikan tinggi, relatif tidak lagi membutuhkan agama. Sementara, jika terjadi sebaliknya (orang yang kurang terdidik), maka ia akan memerlukan agama.

Situasi ini, lagi-lagi kata Eberstadt, merupakan gagasan kausal tentang sekularisme yang selalu digaungkan.

Namun, situasinya tidak selalu demikian. Sebuah penelitian kepada penganut Mormon menunjukkan keadaan yang sebaliknya, baik dari sisi pendidikan maupun ekonomi.

Studi yang dilakukan tahun 2011 itu berkesimpulan bahwa pendidikan dan tingkat kesejahteraan tidak ada kaitannya dengan kepercayaan.

Jika begitu, lalu apa sebab utama yang menjadikan kemunduran agama di Barat?

Kemunduran Agama

Saya telah mengutip bagian yang penting dari tesis “kemunduran agama”nya Eberstadt di atas. Baginya, bukan karena kemunduran agama yang menyebabkan kemunduran keluarga. Tetapi justru karena institusi keluarga yang rapuhlah yang jadi lantaran kenapa fenomena kemunduran agama itu ditemukan.

Sebagian besar percakapan tentang sekularisasi kerap mengabaikan peran keluarga dalam pembentukan nilai religiusitas atau melihat kemunduran agama sebagai akibat dari sekularisasi.

Orang-orang tak lagi percaya Tuhan, lalu tak lagi berkeluarga. Eberstadt kemudian merubah pola relasi ini. Hubungan antara iman dan keluarga, tulis Eberstadt, sangatlah multdimensional.

“Faith and family are the invisible double helix of society—two spirals that when linked to one another can effectively reproduce, but whose strength and momentum depend on one another,” kata Eberstadt.

Iman dan keluarga itu laiknya dua spiral masyarakat yang ketika satu dengan lainnya terhubung, maka akan dapat berkembang efektif, tetapi kekuatan dan momentumnya sangat tergantung satu dengan yang lain.

Melahirkan misalnya. Bagi Eberstadt, momen itu adalah sebuah keajaiban yang dialami orang tua. Dalam bahasa dia, melahirkan itu adalah “momen of communion” dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya dan bayi itu sendiri.

Family Factor

Apa yang terjadi di dalam keluarga menjadi sesuatu yang supernatural. Inilah keluarga yang dalam batas-batas tertentu sejatinya menentang kematian. Anggota keluarga mungkin akan mati, tetapi gen, nama, marga serta kenangan, akan terus hidup.

Eberstadt menyebutnya sebagai “family factor.” Buku tersebut tak hanya membedah tentang keluarga saja sesungguhnya, tetapi juga menyinggung soal welfare state, dan juga teologi liberal yang menjadi kausa kenapa gereja banyak yang melompong di Barat.

Hanya saja, saya tertarik dengan elaborasinya soal “faktor keluarga” ini yang relatif baru, setidaknya bagi saya. Ia mencontohkan Perancis dan Skandinavia sebagai negara-negara yang “kehilangan Tuhan.” Itu semuanya terjadi karena tidak kokohnya formasi keluarga.

Setelah saya cermati, gagasan Eberstadt dalam Has the West Really Lost God: A New Theory of Secularizaton rupanya bertaut dengan ide yang sefrekuensi dalam karya sebelumnya, Home-Alone America: The Hidden Toll of Day Care, Behavioral Drug, and Other Parent Substitutes.

Dulu, sepulang sekolah, anak-anak disambut pelukan hangat oleh ibunya di muka pintu. Sang ibu yang memantau makanan mereka, mencegah kenakalan hanya dengan kehadirannya serta menyediakan jaring pengaman emosional dasar.

Kebanyakan anak juga tinggal dengan ayah biologis mereka, yang kehadirannya menyediakan sebuah perlindungan, termasuk pengawasan.

Tapi hari ini, situasinya berbeda. Peran domestik orang tua diserahkan kepada orang lain. Anak-anak dititipkan ke tempat penitipan, ditinggalkan di depan televisi atau internet, atau sering kali tinggal di rumah sendirian.

Inilah potret keluarga yang formasinya tidak kuat dan diduga menjadi sebab mundurnya agama.

Orang mungkin akan menilai tulisan Eberstadt ini sebagai suara kelompok konservatif atau tradisionalis. Tapi bagi saya, tidak keliru jika kita mengambil saripati darinya. Toh, tradisionalis-modern bukanlah kategori tentang benar-salah. [Cep]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here