Fenomena Hijrah dan Kontestasi Islam Eksklusif dan Inklusif

0
161
Dr. Syamsul Ma'arif

Oleh: Dr. Syamsul Ma’arif

Fenomena hijrah dan Islam inklusif, terutama dari kalangan anak muda zaman now, menjadi trend dan menarik perhatian. Satu sisi ketertarikan sebagian anak-anak muda yang masuk pada komunitas suka hijrah, justru berasal dari keluarga mampu/kota. Jika ditilik dari geneologi keberagamaan cenderung fundamentalis, literalis, dan mengusung pendekatan purifikasi agama.

Menariknya, ketika berhadapan dengan globalisasi, era penuh kompetisi, mereka justru cenderung tertutup dan reaksioner. Apalagi faktanya, sebagaimana pernyataan seorang sosiolog Muslim, Bassam Tibi, dlm buku The Crisis of Modern Islam (1988), Islam sungguh mengalami keterbelakangan politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan, jika dibandingkan Barat. Wajar jika kemudian stigma yang dimunculkan selalu berhadap-hadapan dengan barat, yang dinggap kafir dan harus dilawan.

Sayangnya, fenomena itu, justru berimbas pada imige yang kurang menguntungkan bagi Islam . Dan memperkuat konsep teoritis yang diusung Watt (Islamic Fundamentalism and modernity, 1988); bahwa mereka hanya menampakkan citra diri dengan wajah Islam ideal dan Islam masa awal.

Celakanya, karakter dan pembentukan identitas Islam yang lebih normatif dan simbolik tersebut. Kemudian ditangkap oleh para politisi dan kapitalis, untuk mendulang suara dan meramaikan pasar. Disinilah awal terjadinya perselingkuhan agama fundamentalis dan politik/pasar.

Idiologi dan simbol-simbol kaum fundamentalis, diangkat dan dipasarkan sedemikian rupa sehingga menjadi barang sajian yang siap dipasarkan. Nah, disebabkan pangsa pasar mereka biasanya kebanyakan hanya bisa diakses oleh masyarakat perkotaan yang dari segi pengetahuan agamanya kurang mendalam. Di samping juga keperluan mempelajari agama secara mudah, simple dan instan. Maka, produk identitas Islam model ini, laris manis dan digandrungi anak-anak muda perkotaan. Wajar jika kemudian lahirlah, apa yang diistilahkan dengan “new islamic movement”. Yaitu generasi muda yang mendadak mengekspresikan ajaran agama secara simbolik syar’i; baju koko, berjenggot, katok cingkrang, poligami, suka hijrah, dll.

Model keberagamaan tekstualis, normatif, dan eksklusif tersebut berbeda dengan generasi lain yang cenderung inklusif. Model keberagamaan yang banyak diusung oleh generasi muda yang notabene banyak berasal dari kaum santri. Kenapa hal ini bisa terjadi? Tiada lain disebabkan akibat kompetensi pengetahuan agama mereka yang mendalam.

Disebabkan luasnya wawasan keagamaan yang multi disiplin bahkan lintas mazhab. Menjadikan paradigma dan model keberagamaan mereka yang lentur, tidak rigid, dan bisa menerima perbedaan.

Tak salah jika ada asumsi, justru para santri itulah yang pertama kali bisa menerima asas Pancasila. Sebut saja KH. Wahid Hasyim dan KH. Masykur sebagai Founding fathers selalu memperjuangkan Pancasila sebagai dasar Negara. Karena dengan mempertimbangkan realitas pluralitas masyarakat Indonesia. Pancasila menurut Kiai Shiddiq dianggap sebagai kalimatun Sawa. Bahkan menurut pernyataan KH. Hasyim Asy’ari, NKRI adalah sah secara fikih.

Kemudian, sampai sekarang komunitas santri sampai sekarang terdepan dalam mengawal dan menjaga NKRI. Bahkan sebagian besar mereka senantiasa mengadvokasi persoalan HAM, menyuarakan keadilan, persamaan gender, dan melawan setiap ketidakadilan. Sebuah karakter yang bertolak belakang dengan model Islam eksklusif yang selalu bersemangat mendirikan negara Islam, bukan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here