Gerakan-gerakan Keagamaan Baru

0
489

Oleh: Tedi Kholiludin

Salah satu dampak dari modernisme adalah berbondong-bondongnya masyarakat untuk mengobati dahaga spiritualnya. Cara yang ditempuh pun bermacam-macam. Misalnya meditasi. Tawaran ini bagi beberapa kalangan memang memberikan kenyamanan di tengah hiruk pikuk mesin industri yang saban hari menggerung.

Biasanya, sekat agama dan keyakinan terlampaui melalui model refleksi-refleksi tertentu. Ada ketenangan yang memancar. Mereka yang berasal dari pelbagai keyakinan dan agama, bisa bersatu dalam hening. Spiritualitas model ini sangat bermanfaat untuk menjadi jembatan pemersatu dalam alam yang sangat pluralistik ini. Ini adalah bagian dari gerakan keagamaan baru yang sejatinya adalah fenomena yang menarik diamati.

Model meditasi yang bergerak melampaui batas keyakinan menggejala terutama di negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Sebut saja misalnya tradisi Yoga yang dikembangkan dalam Happy Holy Organization, International Sivananda Yoga dan Vedanta Society. Atau sebut misalnya Maharishi Mahesh Yoga dimana grup The Beattles adalah salah satu anggota kelompok tersebut. Maharishi menawarkan apa yang disebut sebagai meditasi transendental (transcendental meditation) yang populir pada tahun 1975 dengan setengah juta anggota yang tergabung di dalamnya.

International Society for Krishna Consciousness (ISKCON) juga pernah menjadi buah bibir kalangan gerakan keagamaan. Didirikan oleh A.C. Bhaktivedanta pada 1966, ISKCON berkembang pesat di San Fransisco sekitar tahun 1970. Mereka mengklaim memiliki 10.000 anggota. Bhaktivedanta percaya bahwa dunia ini sudah berada di akhir tahun Kali Yuga, putaran akhir dari empat putaran millenium.

Dalam disiplin sosiologi agama, ada beberapa istilah yang kerap digunakan untuk menunjukkan gejala gerakan keagamaan ini. Hamilton (1995, 193) menyebut beberapa diantaranya yakni sekte dan kultus.

Ernst Troeltsch, mengikuti Max Webber, adalah orang yang cukup serius mengamati perkembangan sekte. Troeltsch melihat karakteristik dan asal usul sekte kaitannya dengan gereja. Sama halnya dengan Webber, Troeltsch pun menganggap kalau sekte berkembang beriringan dengan berkembangnya Gereja.

Secara sosiologis, sekte memiliki kecenderungan untuk keluar dari doktrin mapan keagamaan. dan mereka merupakan organ yang memisahkan diri dari organisasi “keagamaan tradisional”. Sekte menolak klaim gereja untuk mengontrol rahmat Tuhan melalui sakramen-sakramen dan bukan menekankan nilai religius kehidupan sehari-hari dan hubungan pribadi.

Anggota sekte tertentu terkadang ikut menyerang peran gereja dalam membantu negara dan dalam memajukan kepentingan, karena mereka melihat itu semua adalah praktek dari suatu kelas yang dominan. Mereka cenderung menyerang apa yang mereka lihat sebagai ketidakadilan. Troeltsch melihat sekte sebagian besar adalah gerakan protes.

Sementara apa yang disebut kultus, tentu saja memiliki beberapa perbedaan dengan sekte, meski juga sama-sama memiliki corak sebagai devian. Kultus sepenuhnya adalah gerakan-gerakan baru yang tidak perpecahan dari organisasi keagamaan awalnya. Jadi kultus itu tradisi agama lama dengan kemasan baru.

Dalam perkembangannya, ada tiga proses gerakan kultus. Pertama, psychopathology. Model ini menggambarkan bahwa mental illness dapat membebaskan individu dari pemahaman konvensional dan dapat memungkinkan banyak kreativitas. Kedua entrepreneurial. Kultus model ini tidak jauh berbeda seperti halnya bisnis. Kultus ini diciptakan oleh individu yang memiliki ketajaman membaca hasrat beragama kebanyakan orang. Ketiga, subculture-evolution. Hamilton, mengutip Stark dan Bainbridge juga menyebut model ini sebagai kultus keberagamaan atau religious cults.

Yang khas dari model ”spiritualitas lintas-iman” adalah pelampauannya terhadap batas-batas iman. Mereka merupakan gerakan para-agama dalam dunia yang begitu kuat cengkeraman individualistiknya. Spiritual ini seperti sebuah semangat baru (baca: new age) yang menjadi anti tesis dari sekularisasi. Spiritual lintas agama melalui meditasi adalah bagian dari gerakan-gerakan keberagaman baru (New Religious Movements/NRMs).

Thomas Luckmann (1967: 113) menyebut fenomena seperti halnya spiritualitas model ini sebagai invisible religion. ”Agama tak nampak” ini menawarkan tema-tema otonomi individual, ekspresi diri, etos mobilitas, seksualitas dan familisme, serta sejumlah topik lain. Mereka mengklaim beberapa status “sakral” dalam budaya modern tapi tidak secara eksplisit diatur oleh tradisi keagamaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here