Gereja Mormon di Indonesia dan Pergulatan Membangun Identitas (bagian 1)

0
74
Gereja Mormon di Utah, Amerika. [Foto: civilized.life]

Bangunannya terawat rapi dan bersih. Posisinya persis di tengah Kota Semarang. Tiap hari, tak akan ada banyak orang yang terlihat disana, kecuali pada hari minggu. Di Semarang yang termasuk bagian dari Distrik Surakarta, Gereja Mormon atau yang nama resminya Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (OSZA) berdiri tegak di tengah pusat keramaian. Tepatnya di Jalan A. Yani 30 Semarang, persis di kawasan Simpang Lima yang menjadi jantung hilir mudik masyarakat. Menarik untuk mencermati fenomena aliran ini, karena banyak yang mengatakan bahwa sekte ini sudah bukan lagi Kristen, meski di saat yang sama mereka percaya pada Yesus Kristus.

Gereja Mormon Semarang[/caption]Posisi gereja di tengah kota Semarang itu terkait dengan perkembangan gereja Mormon yang pada umumnya selalu berkembang dari tengah kota. Meski begitu, jemaat Gereja Mormon kebanyakan berasal dari daerah pinggiran. Daerah sekitar gereja malah tidak ada yang menjadi jemaat. Konsep pembangunan gereja ini selalu mengacu kepada pembangunan gereja pusat di Amerika Serikat. Bahkan arsiteknyapun dari Amerika.

Gereja Mormon masuk ke Semarang sekitar tahun 1970-an. Sebelum menetap secara permanen di Jl. A. Yani 30, gereja ini berpindah dua kali yakni daerah Pekunden dan Jalan Lontar. Presiden Cabang Semarang, Mardiyono mengatakan kalau ia sendiri datang ke Semarang itu tahun 1991 setelah sebelumnya bergereja di Surabaya. Saat kali pertama bergereja di Semarang, bangunan gereja masih biasa, tidak bagus seperti sekarang ini. Semua pengurus di Gereja Mormon tidak dibayar. Mereka menjalankan kepengurusan selama 5 tahun. Kalau dirasa masih sanggup atau dipilih lagi. Semua pemimpin dari Cabang, penasehat I dan I, sekretaris pelaksana cabang dan juru tulis keuangan cabang, bekerja bersama untuk melakukan pelayanan yang dilakukan semuanya pada hari minggu.

Perkembangan Mormon di Indonesia, bisa dikatakan tidaklah sepesat di Amerika atau negara-negara dengan tingkat kebebasan sipil yang tinggi seperti Eropa. Elder Andressen salah seorang missionaris yang bertugas di Semarang (hingga 2008) menuturkan bahwa itu terjadi, salah satunya karena banyak aturan yang berpretensi membatasi gerak para misionaris. “Itu disebabkan salah satunya dalam peraturan tentang pembatasan bantuan keagamaan dari luar negeri,” katanya dalam sebuah percakapan.

Tak hanya karena banyaknya peraturan, Gereja Mormon menjadi terjepit karena mereka memiliki problem dalam internal Kekristenan. Gereja Mormon seringkali dianggap sebagai Gereja Sesat, Gereja Setan atau sebutan miring lainnya. Mereka yang tidak memahami secara mendalam kelompok ini, menisbatkan pada perilaku segelintir penganut Mormon ekstrem yang masih mempraktekan poligami. Pengalaman itu juga disampaikan Presiden Gereja Mormon Semarang 2008, Mardiyono.

Kitab Mormon
Dalam bahasa Inggris nama gereja ini adalah The Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints dan disingkat LDS. Nama “Mormon” yang diberikan kepada kelompok ini berkaitan dengan kitab lain di samping Alkitab, yaitu Kitab Mormon (The Book of Mormon).

Mormon adalah salah satu kelompok yang sangat cepat berkembang pada abad ke-20 dan ke-21 ini. Pengaruh mereka sangat terasa di AS, dalam bidang politik, pendidikan dan kebudayaan. Misalnya Stephen Covey yang terkenal dengan bukunya 7 Habits of Highly Effective People juga paduan suara Mormon Tabernacle.

Doktrin kunci yang menjadi identitas Gereja Mormon sebenarnya cukup banyak. Selain Kitab Mormon, konsep Kenabian (Joseph Smith) dan Pemulihan Gereja Yesus Kristus dari masa kemurtadan adalah dua ajaran yang cukup krusial dalam tradisi Gereja Mormon. Seperti halnya Kekristenan pada umumnya, ajaran Mormon juga memahami bahwa Yesus Kristus adalah pusat dari segala yang dilakukan manusia. Di Gereja Mormon, Yesus Kristus dan korban tebusan adalah pusatnya. Selain itu fokus dari ajaran Gereja Mormon juga berkisar dalam masalah keluarga. Bagi mereka, keluarga merupakan tempat yang paling kudus di atas bumi ini. Hubungan keluarga bukan saja sesuatu yang kebetulan atau berlangsung dalam waktu sebentar. Setelah kehidupan ini, keluarga tidak menjadi teman yang akrab di surga saja, tetapi kita tetap sebagai unit keluarga, seperti halnya kehidupan dunia.

Dalam sebuah pernyataannya, Presiden Gereja ke-15 Gordon B. Hinckley mengatakan kalau keluarga ditetapkan oleh Allah. Pernikahan antara pria dan wanita adalah mutlak bagi rencana kekal-Nya. Hinckley menyampaikan pesan tersebut pada pada pertemuan Lembaga Pertolongan Umum di Salt Lake City, Utah, 23 September 1995. Kata Hinckley, anak-anak berhak dilahirkan dalam ikatan perkawinan dan untuk dibesarkan oleh seorang ayah dan serang ibu yang menghormati perjanjian pernikahan dengan kesetiaan mutlak. Lanjut Hinckley, pecahnya keluarga akan mendatangkan bencana kepada perseorangan, masyarakat dan bangsa, bencana yang dinubuatkan oleh para nabi zaman dahulu dan zaman modern.

Saat ini Gereja Mormon dipimpin oleh Boyd K. Packer. Dalam Gereja Mormon meski seorang Nabi meninggal, Gereja ini tidak berhenti sama sekali. Gereja ini berlangsung karena selalu ada lagi nabi yang dipanggil oleh Allah sebagai kasihnya. Jadi untuk mengerti kenapa Packer menjadi seorang nabi, karena dia tidak memanggil dirinya sebagai nabi. Tetapi dia dipanggil melalui wahyu untuk menjadi nabi.

Kalau ada nabi di atas bumi, berarti sekarang disebut sebagai masa kelegaan. Dan pada masa kelegaan di zaman akhir ini, Joseph Smith merupakan nabi yang pertama. Tetapi dia adalah nabi yang sama seperti Musa, Nuh dan juga Adam. Dan itu seperti yang bisa dibaca di Amos 3:7 ”Sungguh, Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusanNya kepada hamba-hambaNya, para nabi”.

Yang dipahami adalah bahwa Allah akan memimpin anakNya di atas bumi ini, Dia mengasihi setiap saat melalui seorang Nabi. Manusia tidak dapat berjalan dengan Dia di atas bumi ini sendiri. Manusia harus berjalan dengan iman. Dia tidak akan meninggalkan manusia berjalan sendiri. Dia akan meninggalkan umat manusia dengan seorang wakil, puteraNya, Yesus Kristus. Proses itu telah dimulai sejak dari Adam. Dalam perjalanan tersebut, Adam tidak memanggil dirinya tetapi Ia dipanggil oleh Allah dan diberi kuasa Imamat.

Kuasa imamat adalah kuasa untuk bertindak dalam nama Allah. Dan itu diberikan hanya kepada pria yang layak. Kuasa Imamat itu adalah kuasa untuk melakukan tata cara Injil seperti pembaptisan, memberitahukan karunia Roh Kudus dan untuk mengajar asas-asas Injil. Kalau ada nabi, berarti ada wahyu yang hidup dan kuasa untuk melaksanakan itu. Dengan begitu, kelayakan Gereja bisa dilindungi, serta perintah bisa diberitahukan. Manusia bisa memakai hak pilih mereka yang datang dari Bapak Surgawi dan ia tidak akan memaksa manusia. Kadang-kadang manusia menolak para Nabi. Sewaktu mereka menolak Nabi, Allah menarik kuasanya dari bumi. Untuk masa dimana Nabi atau kuasa itu tidak ada, disitulah disebut sebagai masa kemurtadan.

Tetapi Allah mengasihi manusia, Dia akan memberi tanganNya kepada manusia. Dia akan memberi manusia para Nabi. Jadi, setelah manusia jatuh pada masa kemurtadan, Allah memanggil nabi untuk memulihkan segalanya, seperti Nuh. Ia dipanggil untuk memulihkan segalanya. Dia diberi kuasa yang sama. Lalu manusia menolak Nuh jatuh pada masa kemurtadan. Tetapi Allah kemudian memanggil Abraham, Musa untuk memulihkan lagi.

Seorang nabi, yang paling penting adalah karena dipanggil oleh Allah. Dia harus layak, rendah hati, penuh kasih, memiliki sifat seperti Kristus dan itu tidak berbeda dari kita semua. Sebenarnya, kapasitas itu bisa dimiliki siapa saja dan tidak berbeda dari manusia lainnya. Para Nabi datang dari latar belakang bermacam-macam, bisa petani, dokter, ahli hukum, guru sekolah dan siapapun. Mereka dipanggil oleh Allah dengan wewenang dan kuasa lebih tinggi.

Dalam doktrin Gereja Mormon, Joseph Smith yang kemudian memegang kunci kenabian itu. Jika dibandingkan, tiga dari agama besar dunia, Yahudi, Kristen dan Islam, memulai risalat kewahyuannya dengan keajaiban-keajaiban, perjalanan Israel dari Mesir, Kebangkitan Yesus Kristus dan penerimaan wahyu oleh Nabi Muhammad. Seperti halnya Kekristenan, Mormon mendasarkan imannya pada keajaiban-keajaiban yang ada dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Tetapi kemudian mereka meyakini bahwa Tuhan juga berkarya melalui nabi-Nya pada abad 19.

Smith dilahirkan pada 1805 di Sharon, Vermont. Dia tinggal di New York dalam sebuah keluarganya sangat religius, ada yang ikut di Metodis, dan gereja lainnya. mereka sering membaca Alkitab bersama, berdoa dan lainnya. Pada usia 14 tahun, Smith kuatir akan ketenteraman jiwanya. Dia melihat ada banyak gereja, masuk ke satu gereja, ada yang kurang cocok dengan hatinya, lalu masuk lagi ke gereja yang lain. Di gereja tersebut ia menemukan kutipan ayat yang sama tetapi dengan penafsiran yang jauh berbeda. Yang bisa menghancurkan keyakinan tentang gereja mana yang benar di atas bumi ini. Ia mempelajari tentang satu Tuhan, satu iman dan satu baptisan, tetapi tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan atas firman itu.

Tetapi pada suatu hari ia membaca Yakobus 1:5 ”Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit-, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Kalau membaca itu dalam kebingungan, maka pasti akan melakukannya”.

Joseph Smith membaca ayat itu dan memutuskan untuk bertanya kepada Tuhan. Pada suatu hari di musim semi 1820 dia pergi dari rumah ke sebuah hutan kecil di dekat rumahnya. Dan untuk kali pertama dalam kehidupan, ia berlutut dan dengan suara, lalu bertanya pada Allah Bapa, ”Gereja mana yang benar?” Sewaktu Smith mulai berdoa, ia mengalami sesuatu yang luar biasa yang indah yang disebut hikmat. Joseph Smith melihat Bapa Surgawi dan Yesus Kristus dan ia mengatakan pengalamannya, ”Aku melihat tepat di atas kepalaku, suatu tiang cahaya yang lebih terang dari pada sinar matahari, yang perlahan-lahan turun sampai mengenai diriku. Ketika cahaya itu berhenti di atas diriku, aku melihat dua orang yang terang dan kemuliaanNya tidak dapat dilukiskan, yang berdiri di atas diriku di udara. Salah seorang dari Mereka berkata kepadaku, dengan memanggil namaku dan mengatakan sambil menunjuk kepada yang lain: Inilah Putra-Ku yang Kukasihi. Dengarkanlah Dia!’ (Joseph Smith, 16-17)

Tedi Kholiludin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here