Gereja Mormon di Indonesia dan Pergulatan Membangun Identitas (bagian 2)

0
65
Gereja Mormon di Nevada. [Foto: ldssmile.com]

Sebelum masa reformasi, jemaat Gereja Mormon sudah eksis, meski dengan pelbagai tantangan. Sejauh ini informasi mengenai kebijakan pemerintah yang secara eksplisit menyesatkan atau membatasi Mormon memang belum pernah ada. Berbeda dengan Mormon, pelarangan terhadap Saksi-saksi Yehova sangat tegas dilakukan pemerintah. Hal itu termaktub dalam Surat Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor Kep-129/JA/12/1976 tentang Pelarangan terhadap Ajaran/Perkumpulan Siswa-siswa Alkitab/Saksi-saksi Yehova.

Untuk kasus Mormon, barangkali lebih tepat dikatakan bahwa mereka diberi ruang yang sangat terbatas. Pembatasan terhadap kelompok keagamaan kecil, saat itu mendapat sorotan luar biasa, termasuk dari dunia internasional.

Saat KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, pelarangan terhadap aktivitas kelompok keagamaan minoritas seperi halnya Saksi-saksi Yehova dicabut. Jemaat Gereja Mormon mendapat imbas dari sikap demokratis dan pluralis Gus Dur. Keleluasaan untuk melakukan misi menjadi kembali terbuka. Yang paling mencolok adalah ketika Gus Dur secara resmi mengundang Presiden Mormon saat itu, Gordon B. Hinckley ke Indonesia.

Gereja Mormon pertama kali dikenal sebagai sebuah yayasan di negara Indonesia pada tahun 1969, tetapi Misi Indonesia Jakarta belum secara resmi dibentuk sampai tahun 1975. Dalam rujukan lain disebutkan kalau gereja Mormon msuk ke Indonesia melalui enam misionarisnya pada tanggal 5 Januari 1970. “Mereka kemudian berhasil membaptis petobat pertama pada tangggal 29 Maret 1970” tulis Jan Aritonang dalam Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja. Izin resmi yang didapatkan sebagai organisasi keagamaan resmi di Indonesia pada 11 Agustus 1970.

Dari tahun 1980 sampai 2001 misi tersebut hanya didukung oleh misionaris setempat dan pasangan senior misionaris asing bidang kemanusiaan yang melayani di bawah organisasi LDS Charities. Pada tahun 1987 Gereja menerima pengakuan resmi dari pemerintah Indonesia sebagai sebuah kesatuan Gereja yang terpisah dari yayasan yang sebelumnya dibentuk. Pada bulan Januari tahun 2000 Presiden Gereja, Gordon B. Hinckley, mengunjungi Indonesia atas undangan Presiden Abdurrahman Wahid. Tahun berikutnya misionaris asing diizinkan kembali melayani di negara Indonesia bersama para misionaris setempat.

Saat ini Misi Indonesia Jakarta terdiri dari 23 cabang di bawah 3 distrik. Sebagian besar cabang-cabang ini berada di pulau Jawa, dengan satu cabang di kota Medan di pulau Sumatra dan satu cabang lagi di kota Manado di pulau Sulawesi. Para misionaris melayani di semua cabang. Juga, ada 7 pasang misionaris senior yang ditugaskan untuk membantu proyek-proyek kemanusiaan serta program pelayanan lainnya melalui “LDS Charities”, membantu di kantor misi, dan memberi dukungan pada cabang-cabang setempat.

Dalam Majalah Liahona, Edisi Oktober 2007 dijelaskan, sejak Juli 2007 sampai sekarang, Presiden Ross H. dan Sister B. Heidi Marchant dari Wilayah Holiday Salt Lake City memimpin sebagai presiden misi dan istri. Sebelum panggilannya sebagai presiden misi, Presiden Marchant telah bekerja selama 32 tahun untuk Farmers Insurance dalam menangani klaim-klaim kematian dan luka serius yang diakibatkan karena kecelakaan berkendaraan. Ia juga telah bekerja sebagai seorang pelobi bagi Badan Pembuat Undang-Undang Utah (Utah Legislature) dan Departemen Asuransi di negara bagian Utah. Sebagai seorang pemuda, ia menerima panggilan misinya ke Misi Singapura tetapi tidak lama setelah itu nama misinya diubah menjadi Misi Asia Tenggara.

Setelah melayani beberapa bulan di Singapura, dia dikirim untuk melayani di Indonesia. Penatua Ezra Taft Benson telah mendedikasikan Indonesia bagi pekerjaan misi beberapa bulan sebelumnya. Presiden Marchant tiba di Indonesia pada tahun 1970 dan melayani di kota Jakarta, Bandung, dan Bogor. Pengalamannya di Gereja mencakup sebagai sekretaris cabang, penasihat dalam keuskupan, juru tulis cabang, guru Pratama, dan presiden misi wilayah. Ia dilahirkan dan dibesarkan di Salt Lake City, Utah, dan lulus dari University of Utah pada jurusan keuangan. Ia bertemu Sister Marchant di sebuah pernikahan dan sepuluh bulan kemudian mereka menikah di Bait Suci Salt Lake. Mereka adalah orang tua dari delapan anak – 4 putra dan 4 putri. Semua putra dan seorang putri mereka telah melayani misi penuh-waktu – semuanya melayani di misi yang berbahasa Spanyol. Mereka memiliki 9 cucu.

Sister Marchant juga dilahirkan di Salt Lake City, Utah, menghadiri University of Utah dan lulus dengan gelar di bidang Medical Technology, serta pernah melayani sebagai pekerja sejarah keluarga, sekretaris Lembaga Pertolongan wilayah, presiden Pratama lingkungan, penasihat dalam presidensi Lembaga Pertolongan, dan pemimpin pelayanan kasih Lembaga Pertolongan. Setelah anak-anak mereka lahir, Sister Marchant bekerja satu malam setiap minggu pada bank darah di Rumah Sakit LDS, tetapi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membesarkan anak-anak mereka dan menciptakan suasana yang baik di dalam keluarga mereka.

Dari Juli 2004 hingga Juni 2007, presiden misi yang memimpin adalah Presiden Dean C. Jensen. Ia dan istrinya, Margaret Jean Jensen, adalah anggota dari Wilayah Mesa Arizona Salt River. Sebelum panggilan mereka sebagai presiden misi dan istri, mereka telah melayani bersama di Jakarta, Indonesia; Oaxaca, Mexico; dan Jameson, Missouri. Sewaktu muda, Presiden Jensen melayani sebagai misionaris di Misi Northern Indian. Pengalaman di Gereja dari Presiden Jensen termasuk sebagai jurutulis wilayah, sekretaris pelaksana wilayah, presiden Remaja Putra wilayah, anggota dewan tinggi, uskup dan pembina pramuka. Ia lulus dengan gelar BS di Business Administration dari Universitas Nevada, Las Vegas dan menjalankan perusahaan konstruksi pribadinya selama 30 tahun membangun rumah-rumah tinggal, gedung-gedung komersial/industri dan restoran-restoran. Ia dilahirkan pada tanggal 14 Juli 1946 di Boise, Idaho dengan orang tua Weldon Tolman dan Roma Condie Jensen. Ia dan Sister Jensen dinikahkan di Bait Suci Mesa pada tahun 1967. Mereka adalah orang tua dari 7 anak dan memiliki 13 cucu.

Selain pelayanan mereka sebagai misionaris, Sister Jensen pernah melayani sebagai penasihat di presidensi Remaja Putri wilayah, misionaris wilayah, presiden Lembaga Pertolongan lingkungan, presiden Remaja Putri dan guru Ajaran Injil. Sister Jensen dilahirkan di Safford, Arizona dengan orang tua Grover Lamro dan Margaret Elaine Russell Hoopes.

Berbeda halnya dengan perkembangan di Amerika, Gereja Mormon di Indonesia terganjal pelbagai macam kebijakan pemerintah, terutama pada masa orde baru. Tiga regulasi negara yang cukup membuat gerak misionaris Gereja Mormon menjadi sangat terbatas adalah Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 70 tahun 1978 tentang Pedoman Penyiaran Agama, Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 77 tahun 1978 tentang Bantuan Luar Negeri Kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia dan Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1979 tentang tatacara pelaksanaan penyiaran agama dan bantuan luar negeri kepada lembaga keagamaan di Indonesia.

Terlepas dari pelbagai kebijakan yang agam mempersempit ruang gereka para misionaris (asing), Gereja Mormon di Indonesia masih terus berkarya nyata dalam wilayah sosial. Salah satunya adalah pemberian bantuan untuk korban lumpur lapindo Sidoarjo pada 19 Mei 2007. Bahkan dalam kesempatan itu mereka tidak canggung untuk bekerjasama dengan pihak lain dri komunitas lintas agama. Dalam upaya untuk membantu korban lumpur lapindo Gereja Mormon bekerja sama dengan pengurus Nahdlatul Ulama setempat. Kepedulian terhadap korban bencana alam mereka tunjukan juga saat terjadi tragedi tsunami di Aceh tahun 2004. Melalui program Islamic Relief dan Adventist Development and Relief Agency mereka membangun sekolah, melatih guru mengembangkan kurikulum dan lainnya. (Liahona, Juli 2006).

Pergulatan Membangun Identitas
Jika dilihat secara umum, pada dasarnya pergulatan keagamaan sekte Mormon tidaklah jauh berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Hampir semua identitas sosial yang melekat pada kelompok Mormon pada umumnya, juga ada pada jemaat Mormon di Semarang. Sudah barang pasti bangunan identitas itu sangat terkait erat dengan kokohnya doktrin yang diformulasikan sejak awal mula gereja ini berdiri. Disini, peran Joseph Smith sebagai figur sentral dalam Gereja Mormon sudah pasti menjadi sangat vital.

Saat ini Gereja Mormon berkembang sangat pesat di seluruh dunia. Salah satu penyebabnya ialah karena setiap orang Mormon dengan sukarela dan penuh Iman bersedia melayani Gereja mereka selama dua tahun dalam masa hidup mereka sebagai misionaris dan juga sebagai para pelayan di Gereja. Mereka dengan sukarela bersedia diutus kemanapun juga di segala penjuru dunia untuk menyebarkan ajaran-ajaran Mormon. Kehidupan mereka juga tampaknya sangat terpuji: mereka diwajibkan untuk menjauhkan diri dari alkohol dan segala jenis minuman keras lainnya, rokok dan bahkan juga kopi dan teh. Mereka dihimbau membayar persepuluhan dan persembahan uang lainnya sesuai dengan perintah Allah demi kepentingan pembangunan Gereja juga kepentingan kemanusiaan lainnya. Mereka dihimbau untuk taat sepenuhnya kepada pemimpin-pemimpin mereka karena mereka percaya bahwa para pemimpin mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah sendiri.

Dari data yang didapat hanya ada satu kali ancaman yang sepertinya akan mengarah pada tindakan anarkis yang dialami oleh Gereja Mormon di Semarang seperti yang tertera dalam Laporan Amerika Serikat Tentang Pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Indonesia Tahun 1997 Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang dikeluarkan oleh Biro Demokrasi, Hak Asasi, dan Perburuhan pada 30 Januari 1998. Di halaman 36 laporan tersebut tertulis, “…Dalam laporan Selama bulan Februari, bertepatan dengan bulan suci Ramadan, banyak gereja di seluruh negeri kabarnya mendapat ancaman lewat telepon dan fax tentang akan adanya penghancuran di tanggal-tanggal tertentu. Meskipun terjadi pembakaran dan penyerangan gereja selama bulan itu, ancaman serangan luas itu tidak menjadi kenyataan. Akan tetapi ancaman itu menimbulkan rasa takut di kalangan umat Kristen. Sumber-sumber di Medan melaporkan bahwa penduduk setempat, dalam salah satu kasus dengan bantuan tentara, menjaga gereja-gereja dalam masa-masa itu. Sebuah gereja Katolik di Bandung, sebuah Gereja Mormon di Semarang, dan beberapa gereja di Jakarta, mendapat ancaman”.

Secara sosiologis, ketegangan antara gerakan keagamaan baru dan sistem sosial keagamaan yang telah mapan, bukanlah barang baru. Cerita mengenai relasi antara ekspresi keberagamaan dan keteraturan sosial, heresi dan ortodoksi ada sepanjang sejarah manusia. Identitas Mormon sebagai gereja sesat, karenanya bisa dipahami sebagai bagian dari ekspresi ketegangan itu. Kekristenan awal mulanya diwarnai oleh konflik yang berakhir dengan eksekusi Yesus oleh penguasa Roma setelah ia melakukan protes atas ketidakadilan.

Kalau dianalisis, bangunan identitas Mormon, sama halnya perkembangan sekte-sekte keagamaan, menjadi sesuatu yang sangat menarik. Apalagi jika dikaitkan dengan kebebasan menafsirkan Alkitab yang sangat terbuka dalam Kekristenan. Menurut John Titaley, Guru Besar Ilmu Teologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, kemunculan-kemunculan sekte dalam Kekristenan itu, secara teologis, bisa jadi karena tawaran janji tentang imbalan surgawi yang mendapatkan porsi luar biasa dalam teologi sekte-sekte tersebut. Di saat yang sama ada banyak orang yang membutuhkan spiritualitas dengan bentuk seperti itu.

Terhadap relasinya dengan negara, ada pandangan menarik dari Gereja Mormon terhadap konstitusi Amerika, seperti yang dikutip oleh W. Cole Durham dan Nathan B. Oman dalam ”A Century of Mormon Theory and Practice in Church-State Relations: Constancy Amidst Change”. Pandangan itu sesungguhnya terkait dengan ide mengenai otonomi beragama.

Rodney Stark, sosiolog agama kenamaan dalam The Rise of Mormonism, memprediksikan jumlah dari penganut Mormon dengan menggunakan perkiraan maksimal dan minimal. Menurut Stark, jumlah pemeluk Mormon pada tahun 2000 sudah mencapai 10.435.551 dengan perkiraan tinggi (rata-rata perkembangan 50%) dan 7.837.208 jika menggunakan perkiraan rendah (rata-rata perkembangan 30%). Stark kemudian memprediksi, kalau jumlah itu akan semakin bertambah seiring dengan perkembangan dan sikap hidup anggota Mormon memiliki etos kerja tinggi. Pada tahun 2080 (dengan perkiraan tinggi) penganut Mormon akan mencapai 267.452.000 dan 63.939.000 dengan perkiraan rendah.

Stark menuturkan bahwa sekularisasi dan modernisasi menjadi salah satu faktor mengapa Mormon begitu leluasa berkembang. Selain itu perkembangan gereja Mormon yang pesat di Amerika juga diakibatkan oleh beberapa faktor doktrinal yang kemudian berkembang menjadi kekuatan yang menjangkar. Pertama, konservasi modal kultural. Keberhasilan gerakan keagamaan baru, kata Stark salah satunya diakibatkan oleh keberhasilan menjaga kesinambungan budaya yang dipadukan dengan iman konvensional. Kedua, kekuatan gerakan keagamaan juga dipengaruhi oleh doktrinnya yang non-empirik. Ini bisa dilihat dari beberapa doktrin Mormon yang hampir kesemuanya ada dalam non-empirik. Ketiga, Mormonisme berkembang karena ia menjaga perilaku, atau lebih tepatnya mereka menjaga etika dan moralitas.

Dua Catatan Akhir
Dilihat dari pergulatan Mormon di Indonesia, tergambar bahwa masalah utama yang pernah mendera mereka adalah negara melalui regulasi-regulasinya. Di lain pihak Kekristenan juga masih belum bisa menerima sepenuhnya kehadiran mereka. Tentu saja persoalan ada dalam relativitas kebenaran doktriner yang mereka anut. Pendek kata, intisari dari survey singkat terhadap Gereja Mormon ini menghasilkan beberapa catatan pokok.

Pertama, perkembangan kelompok-kelompok keagamaan baru dalam lingkungan agama-agama besar menjadi sebuah fakta yang tidak bisa terhindarkan. Perkembangan Mormon karenanya bisa dilihat dari perspektif ini. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menyikapi aliran-aliran tersebut secara bijak. Inilah yang terlihat ddalam kasus Mormon. Betapapun Mormon memiliki penafsiran yang cukup berbeda tajam dengan mainline churches, sejauh yang penulis temukan di lapangan, tidak ada tindakan anarkhis terhadap penganut kelompok ini. Kondisi semacam ini penting untuk digarisbawahi.

Kedua, dalam dinamika kehidupan keagamaan di Indonesia, tantangan yang dihadapi kelompok-kelompok keagamaan baru seperti halnya Mormon sungguh tidak ringan. Melihat pergolakan kehidupan keagamaan yang telah berlangsung sejak 1960-1970an di Indonesia, tantangan yang dihadapi oleh Gereja Mormon sesungguhnya berakar pada empat pokok persoalan. Pertama, bagaimana mereka berelasi dengan negara. Kedua, bagaimana strategi yang mesti ditancapkan dan dibangun untuk bisa hidup akur dengan denominasi yang lain. Ketiga, melanjutkan karya nyata seperti yang telah mereka lakukan melakui LDS Charitiesnya. Keempat, bagaimana mereka berkompromi dengan kondisi sosial dan budaya masyararakat Indonesia.

Tedi Kholiludin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here