GKI Gereformeerd: Gereja Peninggalan Belanda di Semarang

0
1167

gereja_gereformeerd_semarang[Semarang –elsaonline.com] Bangunan ini cukup unik dan masih kokoh berdiri. Lokasinya pada posisi ujung bukit kecil yang dikelilingi pohon pinus. Sejauh mata memandang, terlihat kawasannya sungguh sejuk dipandang dan sesekali terdengar riuh kicauan burung. Ya, Gereja Gereformeerd Semarang namanya.

Ia berdiri di tanah seluas 5.000 meter persegi. Saat memasukinya, terlihat kesan tempo dulu masih sangat kuat melekat. Dalam gereja yang sanggup menampung 400 jemaat, tampaknya ada bangunan yang cukup menonjol. Komposisinya ternyata satu untuk pastori atau rumah pendeta, kantor Efata dan satunya lagi untuk ruang kebaktian.

Di dalam ruang kebaktian, terlihat semuanya masih menggunakan kayu jati. Kursi untuk jemaat-nya menggunakan rotan. Sandarnya juga menggunakan kayu jati. Ia berderet rapi. Desain altar menggunakan gaya Lutheris atau menonjolkan penyampaian firman Tuhan. “Altar terbuat dari kayu jati, berbentuk melengkung dan di atasnya ada meja kecil untuk tempat alkitab. Namun di Indonesia, gaya altar seperti ini sudah jarang ditemui, tetapi di Belanda masih banyak,” ungkap Pdt Rahmat Paska Rajagukguk, kepada elsaonline, beberapa waktu lalu.

Lebih terperinci lagi, di dalam ruangan terlihat ada kursi majelis gereja. Letaknya di kanan-kiri altar. Di atas tempat majelis ini terdapat 12 patung tangan dengan posisi menengadah. “Tangan-tangan itu menandakan simbol rasul-rasul Yesus yang jumlahnya ada 12 orang,” ujar pendeta ke tujuh di Gereja Gereformeerd ini.

Dalam amatan, di atas pintu masuk, terdapat salib merah. Ya, di atas salib ada lonceng besar yang selalu dibunyikan saat menjelang kebaktian. Menurutnya, pondasi bangunan dari batu. Sistem struktur dinding memikul dan ruangan yang besar bebas dari kolom besar. “Jadi, memang dibuat agak tinggi. Sebab, bentuk bangunan seperti ini menimbulkan kesan hangat, persis seperti rumah-rumah kuno yang bisa ditemui di daerah perkebunan,” beber lulusan seminari Malang.

Sementara atapnya terlihat berbentuk segitiga yang dilengkapi menara kecil di bagian depan. Selain itu, bentuk jendela dan ventilasi ramping, tinggi, tidak lebar dan besar seperti bangunan lain ciri khas Belanda. Dinding ruang bagian dalam dilapisi dengan panil-panil kayu. “Panel-panel itu hanya berfungsi sebagai hiasan interior seperti halnya dengan rumah-rumah kolonial,” terang ayah tiga anak itu.

Kru elsaonline berpose di depan Gereja Gereformeerd
Kru elsaonline berpose di depan Gereja Gereformeerd

Menurut Rahmat, konstruksi atap menggunakan rangka kayu jati dengan bahan penutup atap dari sirap. Bentuk atap adalah pelana bersilangan dengan transformasi dan terdapat menara. Karena bangunan mempunyai gaya kolonial, maka tidak terdapat teritisan. “Karena itu, di sini tidak terdapat serambi. Entrance memiliki pintu berdaun ganda dengan panel berupa kayu jati yang tebal dan berbentuk melengkung. Karena itu, penerangan dapat masuk ke bangunan secara langsung melalui jendela dan lubang-lubang. Jendela-jendela terbuat dari kayu jati,” ujarnya.

Meskipun demikian, tampaknya bangunan rumah pendeta ada dibagian belakang. Bentuk dan strukturnya tidak jauh berbeda dengan gerejanya. Hanya saja, pada balkon dipasang tenda untuk pelindung panas dan hujan yang masuk ke ruang tamu. Penutup atap dari genting. “Nama sebenarnya dari Gereja ini adalah Gereja Gereformeerd atau Gereja Ngaglik yang pembangunannya diprakarsai Pendeta Smith pada tahun 1928. Pada mulanya bangunan asli hanya gereja itu sendiri dan bangunan rumah pendeta yang ada dibelakangnya,” akunya.

Terkait rekam jejak pembangunan gereja ini, kata Rahmat, merupakan hasil rancangan Oyen Van J Th sekitar tahun 1935. Penambahan berupa gedung efata yang digunakan sebagai tempat pertemuan. Awal berdirinya, gereja ini tidak hanya diperuntukkan untuk orang-orang Belandaa. Tetapi juga umat Kristiani dari suku Jawa, Manado, Ambon dan Tionghoa. Maklum, orang-orang pribumi ada yang sudah menjadi pengikut ajaran Kristen karena menjadi pembantu atau karyawan pengusaha Belanda.

Selain itu, sudah banyak pula orang Belanda yang melakukan pengabaran injil. Tentu saja, ini tak lepas dari sebagai wilayah pesisir di mana akulturasi mejadikan Semarang melting pot budaya dan agama paling kondusif sejak zaman penjajahan Belanda.

Dalam sejarah perkembangannya, gereja yang terletak di Jalan Dr Sutomo No 24 Kota Semarang ini sempat mengalami pasang surut. Pada masa pendudukan Jepang sekitar 1943, Konsulen (pendeta utusan) yakni Ds de Jong dan keluarganya harus hidup di kamp tahanan. Setelah perang dunia dua berakhir, sekitar 1946, Ds Van Eyk yang juga warga negara Belanda menjadi konsulen. “Namun, ia hanya empat tahun melayani di Gereformeerd dan diganti Ds Vlijm kemudian Ds Eoosjen hingga pertengan 1961. Selama 15 tahun, gereja Gereformeerd lebih banyak menerima bantuan pendeta Konsulen. Akhirnya, pada 14 Juni 1961, Ds Ran King Hien diteguhkan sebagai pendeta gereja tersebut,” ujarnya.

Meski daerah sekitar sangat ramai, lalu lalang kendaraan seolah tiada henti berada di kompleks Gereja Gereformeerd tampak sangat nyaman dan menyenangkan. Di sini, semuanya serba bersih dan terawat. Jadi, tidak rugi mampir sebentar ke gereja ini untuk sekadar berdoa bagi umat Kristiani. Atau, melepas lelah lalu mengambil beberapa gambar. [elsa-ol/Munif-@MunifBams]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here