Hablum Minallah Laki-laki, Hablum Minannaas Perempuan

0
107
Peserta diskusi Agama Waria
Peserta diskusi Agama Waria
Peserta diskusi Agama Waria

[Semarang –elsaonline.com] Waria adalah mereka yang berjenis kelamin laki-laki, tetapi memiliki kecenderungan perempuan. Bersikap lemah lembut, anggun, seksi dan layaknya seperti perempuan lainnya. Kehidupan sosial waria memang tak selalu mulus. Cibiran datang silih berganti. Diidentikan dengan sikap hidup hura-hura, waria seperti hanya menempati pojok sejarah. Makhluk tak bermoral serta setumpuk stigma ditempelkan padanya.

Jum’at (2/5) Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) menghelat diskusi bertajuk “Agama Waria.” Tujuannya adalah untuk memberikan pemahaman yang utuh tentang kehidupan sosial waria, terutama yang menyangkut religiositasnya. Hadir sebagai pembicara, Silvy Mutiari, Ketua Perhimpunan Waria Semarang  (Perwaris) dan Khoirul Anwar, peneliti eLSA.

“Saya hidup di keluarga yang memiliki religiositas tinggi. Ayah dan ibu guru ngaji,” Silvy mengawali diskusi. Silvy melanjutkan bahwa ia sudah mendapatkan pendidikan agama sejak kecil. Dan pada saat itu pula, ayah dan ibunya menganggap bahwa Silvy adalah laki-laki seutuhnya. “Padahal saya lebih feminin,” lanjut Silvy.

Dalam hal beribadah, dirinya merasa nyaman sebagai laki-laki. Tapi dalam relasi sosial ia nyaman dengan perempuan. “Ya pake sarung, peci dan lain-lain. Tapi kalau ngumpul dan bersosialisasi dengan masyarakat, saya berpakaian perempuan. Hablum minallahnya laki-laki, hablum minannaasnya perempuan,” aku Silvy yang memiliki pengajian rutin tiap malam Jumat di rumahnya, daerah Randusari Semarang.

Ia mencoba mengenali dirinya sebagai perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki. Di sini ada negosiasi diri. Untungnya, masyarakat di mana ia tinggal memahami kondisinya tersebut.

Silvy mengalami titik balik dalam hidupnya yang tak akan ia lupakan. Ia pernah terjun di dunia penuh glamour, hura-hura dan sejenisnya. Ia dapati seorang temannya yang sakit parah. Tak ada satu pun anggota keluarga yang menolong temannya ini. Sampai akhirnya meninggal. “Saya merasa harus menolongnya dengan pengetahuan agama yang saya miliki. Ini seperti menjadi titik balik bagi saya untuk kembali pada agama. Dan utamanya kembali pada keluarga. Alhamdulillah, keluarga menerima saya apa adanya,” tukas Silvy mengenang. “Saya punya target untuk bisa sholat lebih baik, puasa satu bulan penuh. Dan di usia 40 tahun, saya ingin naik haji,” Silvy mencanangkan targetnya.

Pembicara lainnya, Khoirul Anwar menyisir fenomena waria dalam tradisi masyarakat Arab pra Islam termasuk di era Islam. “Peran waria sangat penting terutama pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Mereka hidup sejahtera dan penuh penghormatan,” ungkap Anwar. [baca: Waria dalam Islam: Sosok Bermartabat yang dimuliakan Tuhan]

Dalam diskusi yang diikuti kurang lebih 30 peserta itu, Anwar memaparkan, orang Arab mengagumi waria. Pekerjaan waria saat itu adalah menyanyi dan menghibur terutama dimaksudkan untuk menghilangkan lara dan duka. “Di masyarakat Arab, waria itu sudah ada jadi bukan produk modernitas,” Anwar menjelaskan.

Waria, karena sama dengan manusia lainnya juga punya spiritualitas dan religiusitas. Waria-waria ini selain menyanyi, juga melawak dan membuat puisi. Ada seorang waria bernama Thuwais yang pintar membuat lagu-lagu sendiri dengan mengelaborasi beberapa lirik lagu dari Persi. Thuwais tercatat sebagai orang yang pertama kali menyanyi di Madinah setelah Islam datang, lagu-lagunya dapat menghipnotis penonton. Sementara beberapa nama waria yang populer pada masa pra Islam antara lain Hit, Haram, dan Mati. [elsa-ol/Cahyono-@cahyonoanantato]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here