“Impian Saya, Mendirikan Pesantren Waria”

0
117
Rully Malay (kanan)
Rully Malay (kanan)
Rully Malay (kanan)

[Yogyakarta –elsaonline.com] “Saya punya mimpi, satu waktu pengajian ini tak hanya berlangsung Senin dan Kamis saja, tapi tiap hari. Seperti pesantren pada umumnya.” Agak mencengangkan mungkin bagi sebagian orang kalau tahu bahwa pengharapan itu muncul dari seorang waria.

Jika selama ini waria didentikan dengan gaya hidup dandan, jalanan dan urakan, kesan itu mungkin agak berubah saat anda terlibat dalam obrolan dengan waria yang satu ini. Namanya Rully Malay. Waria kelahiran Bone ini tak ragu menyebut kalau membuat pesantren untuk waria adalah cita-citanya.

Usaha itu tentu bukan tanpa perhitungan. Selama ini, bersama karibnya (alm) Maryani pernah mengelola pesantren khusus waria di Notoyudan, Gedong Tengen, Jogjakarta. Di pesantren itu, kata waria kelahiran 1960 waria dikenalkan dengan ilmu laiknya yang diajarkan di Pesantren. “Pengenalan tentang shalat, membaca al-Qur’an dan terjemahannya serta lain-lain, seperti di pesantren pada umumnya,” ungkap Rully kepada elsaonline, 3/4 lalu. (Baca: Dua Jam di Pesantren Waria)

Hingga tahun 2012, pesantren Senin dan Kamis yang ia kelola dengan (alm) Maryani disesaki sekitar 50-an santri waria. “Sekarang sudah mulai sepi,” sambung Rully. Ia tak menyangkal bahwa minat waria dalam menjalankan ritus-ritus agama sangatlah besar. Banyak yang sholatnya rajin, termasuk dalam mengeluarkan zakat fitrah. “Kami langsung menyalurkan zakat ke masyarakat terdekat, sehingga relasi sosialnya berjalan dengan sangat baik,” tutur alumnus Jurusan Musik Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu.

Rully menambahkan, dari 340an jumlah waria di Kota Yogyakarta, 70 persen diantaranya adalah muslim. Mereka membutuhkan penenang saat kalut melanda. “Saya masuk ke komunitas itu sekitar tahun 1993. Jadi relatif baru sebenarnya. Disana, saya menemukan beberapa teman waria yang punya spiritualitas. Sebelum ramadhan, kami seringkali silaturahmi ke beberapa pesantren di Jawa Timur. Kami sengaja berpakaian biasa dan tak memakai kerudung. Dan selalu kami katakan kepada santri dan seluruh yang ada di pesantren bahwa kami adalah waria. Kami sampaikan kepada yang ada disana bahwa niat kami hanya ingin belajar dan tidak bermaksud untuk mengganggu kenyamanan belajar teman-teman,” terang Rully panjang lebar.

Aktivis di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Kebaya ini kerap melakukan perjalanan ke banyak tempat, Kalimantan, Sulawesi termasuk ke kampung halamannya di Bone. Disana, kawan-kawannya dikenalkan dengan adat dan sejarah Bissu. “Paling tidak, kami belajar tentang sesuatu yang empirik untuk meningkatkan wawasan bahwa ibadah itu tidak hanya yang bisa dilihat,” ujar Rully, yang pernah bekerja sebagai guru.

Memang diakuinya, hingga kini ia belum banyak berelasi dengan kyai-kyai meski ada beberapa ustadz yang sering mengampu di pesantrennya dulu. “Di pesantren, kita juga biasa membicarakan tentang hal-hal yang terkait langsung dengan kelompok kami di daerah lain, seperti kekerasan dan lainnya,” terang Rully.

Saat ditanya soal kekhawatiran akan adanya ancaman dari kelompok-kelompok yang belum memahami eksistensinya, Rully menjawab bahwa ketakutan itu pernah ada. “Awalnya sempat ada ketakutan dari ancaman muslim radikal, tapi sampai sekarang jalan secara baik-baik. Ustadz kami kebanyakan dari Nahdlatul Ulama dan sangat baik kepada kami,” kata Rully.

“Sebetulnya kami punya mimpi agar pengajian itu tak hanya Senin dan Kamis. Dulu pernah dicoba pengajian hingga Jumat. Siangnya mereka melakukan aktivitas, bikin kolak terus dijual di jalan Malioboro, lalu malam ada di pondok. Apalagi penerimaan masyarakat sekitar juga baik sekali,” harap Rully.

Di akhir pembicaraan, Rully berkisah tentang pelaksanaan Sholat Jumat bagi waria saat masih di pesantren Senin dan Kamis. Ia menyuruh semua yang tinggal di pesantren itu sholat di mesjid. “Teman-teman yang nyaman pakai sarung silahkan bergabung dengan jamaah yang lainnya. Sementara yang nyaman pakai mukena silahkan sholat jumat di barisan lain yang biasa digunakan untuk jamaah perempuan di mesjid,”katanya. [elsa-ol/T-Kh-@tedikholiludin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here