Independensi Media di Semarang Diragukan

0
75
Triyanto Triwikromo, salah satu pembicara seminar.

[Semarang – elsaonline.com] Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang merasa independensi media massa yang terbit di Semarang semakin mengkhawatirkan. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh AJI  terhadap media massa yang terbit di Semarang. Sampel yang diambil dalam penelitian ini yaitu Suara Merdeka, Wawasan, Jawa Pos Radar Semarang, Koran Sindo edisi Jateng dan Tribun Jateng.

Dari pemberitakan yang disajikan oleh media massa tersebut, topik berita antara hukum dan politik lebih banyak politik, hukum 29% dan politik 71 %. Sedangkan jenis beritanya lebih banyak hard news 96%, soft newsnya 4 % dan editorial 0%.

Adapun dalam memeperoleh berita, kebanyakan wartawan mendapatkan berita dengan cara wawancara dengan prosentase sebanyak 84,3%, observasi 2,1 % sedangkan penggabungan keduanya 13,4 %. Dari bahan ini bisa diambil kesimpulan bahwa media massa yang ada di Semarang pantas apabila menerima himbauan moral agar menjalankan independensinya.

“Kalau berbicara tentang media, posisi media massa ini adalah jurnalistik suci, namun ada juga untuk industri kapitalisme, sehingga ini tidak menutup kemungkinan terjadi intervensi di ranah pemberitaan”, kata Rofiuddin, Sekretari AJI Kota Semarang pada acara Seminar Partisipasi Publik Mendorong Independensi Media Massa Lokal, di Hotek Pandanaran (20/1).

Ia menambahkan bahwa jurnalis dalam memberitakan harus paham dengan apa yang diberikan karena intervensi ini tidak hanya lahir dari jurnalis, namun juga dari narasumber dan bahkan pihak redaktur pun dapat melakukan hal tersebut.

Senada dengan Rofiudin, menurut Arif Zulkifli, Pimpinan Redaksi Majalah Tempo masalah independensi media massa ini menjadi isu yang besar di dunia jurnalis. Menurutnya, persoalan ini sebenarnya persoalan personal, bukan kelompok dalam redaksi media massa.

“Independensi media ini persoalan yang besar dalam jurnalistik, namun ini persoalan personal bukan kelompok yang berakibat pada tercorengnya media massa”, jelas Zulkifli yang dihadirkan untuk menjadi pembicara pada seminar tersebut.

Untuk meminimalisir intervensi yang ada di dapur redaksi, menurut Zulkifli  sikap keterbukaan di dalam media massa tersebut harus selalu ditananamkan. Serta kesadaran masing-masing yang terlibat dalam keredaksian, untuk menunjukkan bahwa media massa tidak dintervensi pihak tertentu. Selain itu, Arif juga menambahkan bahwa masyarakat umum selaku konsumen  media massa harus kritis terhadap berita-berita yang dipublikasikan media. [elsa-ol/Wahib]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here