Indonesia, Negara (Tidak) Plural

0
82
Sumber: pewresearch.org
Sumber: pewresearch.org
Sumber: pewresearch.org

[Semarang -elsaonline.com] 4 April 2014, Pew Research merilis laporan mengenai indeks keragaman agama (Religious Diversity Index/RDI) di seluruh dunia. Mereka memfokuskan diri pada persebaran beberapa jenis agama. Yang pertama adalah agama-agama dunia yakni, Buddha, Kristen (Protestan dan Katolik), Hindu, Islam dan Yahudi. Agama-agama ini dipeluk oleh kurang lebih ¾ popluasi masyarakat dunia. Berikutnya adalah mereka yang tak berafiliasi pada satu agamapun (the religiously unaffiliated). Penganut agnostik atau ateis masuk dalam kategori ini. Berikutnya adalah pemeluk agama-agaa tradisional termasuk penganut agama-agama tradisional Afrika, Cina, Australia dan lain-lain. Yang terakhir adalah agama-agama lainnya seperti Baha’i, Jainisme, Shinto, Sikh, Tao, Tenrikyo, dan Zoroastrianisme.

Pew membagi empat rangking negara dengan indeks yang berbeda. Negara dengan skor 7.0 ke atas masuk dalam kategori “very high” alias area dengan tingkat keragaman sangat tinggi. Sementara negara yang memiliki skor dari 5.3 hingga 6.9 masuk kategori “high.” Negara di antara 3.1 sampai 5 dikategorikan “moderate.” Terakhir adalah negara dengan kategori “low”.

Indeks keragaman agama merupakan satu versi dari Herfindahl-Hirschman Index, yang biasa digunakan dalam studi lingkungan dan bisnis untuk mengukur tingkat keragaman lingkungan atau konsentrasi pasar. Dalam indeks keragaman agama, semakin tinggi skor sebuah negara, maka semakin tinggi pula tingkat keragamannya.

12 negara teridentifikasi sebagai wilayah dengan tingkat keragaman sangat tinggi. 6 diantaranya ada di daerah Asia Pasifik, Singapore, Taiwan, Vietnam, Korea Selatan, China and Hong Kong. Sementara 5 negara ada di Afrika Sub-Sahara; Guinea-Bissau, Togo, Pantai Gading, Benin dan Mozambik dan  satu negara di Amerika Latin, Suriname. Tidak ada negara di Eropa, Amerika Utara dan Timur Tengah atau Afrika Utara yang memiliki keragaman agama tinggi menurut studi ini. Dan diantara 12 negara yang masuk kategori keragaman “sangat tinggi” itu, Singapura adalah negara dengan skor sangat tinggi, 9.0.

Di negara yang berpenduduk 5.090.000 pada tahun 2010 itu, komposisi penduduknya sangat merata. Kristen berjumlah, 18,2%, Islam 14,3%, Tak berafiliasi, 16,4%, Hindu, 5,2%, Buddha 33,9%, Folk Religion 2,3%, Agama-agama Lain, 9,7% dan Yahudi < 0.1%.

Indonesia?

Kita selalu mentahbiskan Indonesia sebagai negara dengan tingkat pluralitas tinggi. Rujukannya ada banyak agama di sini. Tak hanya agama, tapi juga etnis dan bahasa. Keragaman itu kemudian digenapkan oleh semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Tapi, berdasarkan survey Pew, keragaman Indonesia sebenarnya ada di level rendah (low). Skornya, 2.6. Tahun 2010, Pemeluk Kristen berjumlah 9,9%, Islam 87,2%, Tak berafiliasi < 0.1%, Hindu 1,7%, Buddha 0,7%, Buddha 0,3%, Agama-agama Lokal 0,1% dan Yahudi < 0.1% dari 239.870.000 jumlah penduduk Indonesia.

Saya ingin memberikan beberapa catatan tambahan dengan merujuk dalam survey Pew ini. Pertama adalah soal keragaman internal. Di beberapa negara dengan porsi komunitas muslim terbesar, Pew memang melakukan generalisasi terhadap madzhab-madzhab yang ada dalam Islam seperti Sunni dan Syiah. Kedua, soal generalisasi terhadap Folk Religions. Dalam konteks ini yang mungkin perlu ada spektrum diperluas. Bila berbicara tentang agama-agama tradisional, maka ada keragaman disana. Tidak hanya folks religions sebagai bagian yang satu.

Hemat saya, jika di Singapura pluralitas itu karena komposisi yang hampir merata di agama-agama dunia, maka Indonesia sesungguhnya juga plural dari sisi komposisi internal penganut agama lokal. Di tiap sudut wilayah, selalu ada agama yang bersumber dari kearifan masyarakatnya. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here