“Infantile Faith”; Iman Kekanak-kanakan

0
91
Sumber Gambar: caffepena.blogspot.co.id

Oleh: Tedi Kholiludin

Saya seringkali kehabisan cara ketika tiba-tiba, Najma, panggilan Najma Syafa Fathia Cholil (putri pertama pasangan Ayah Tedi dan Mama Meiga) sudah memegang handphone dan saya ingin memintanya kembali.

Diambil paksa, tidak tega, karena pasti menangis keras. Tapi dibiarkan bukan merupakan sesuatu yang baik bagi anak sekecil itu. Yang dipikirkan oleh saya dan Meiga tentu saja mencari komponen lain untuk ditukar guling.

Meiga agak kreatif biasanya. Dia mendekatkan mainan lain sebagai penggantinya, seperti bahan untuk melukis, sounds book dan lainnya. Tak selalu berhasil memang, tapi Najma kerap beralih perhatian karenanya.

Sementara saya, tak sekreatif dia. “Na mau meh (permen)?” tanya saya bernegosiasi. “Ayah meh,” Najma biasanya segera merespon.

Permen, coklat dan es krim adalah jajanan kesukaannya akhir-akhir ini. Meskipun saya tahu kalau makanan itu tak cukup menyehatkan, namun memegang handphone madlaratnya lebih besar. Intinya, Najma mau untuk tak berhandphone.

Dulu, saat berusia lima atau enam tahun, orang tua saya sering menjanjikan sesuatu jika bisa melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh. Diberikan angpao saat lebaran, dibelikan sepeda dan janji lainnya. Pun saat akan dikhitan. Uangnya, mamah menjanjikan ketika itu, nanti buat beli sepeda.

Latihan Iman

Konteksnya tentu saja sebagai sebuah latihan atau edukasi, yang menurut mereka, sesuatu yang lumrah diberlakukan kepada anak-anak.

Kebanyakan dari kita, saya rasa, melewati pengalaman demikian; melakukan sebuah perbuatan karena dijanjikan sesuatu yang enak, nikmat dan membahagiakan.

Ketika kita bertumbuh dewasa, maka tidak ada lagi janji dan harapan. Mamah tak lagi menjanjikan kepada saya untuk memberikan ini dan itu ketika saat saya melaksanakan puasa satu bulan penuh.

Mamah pun tak lagi menelisik apakah ketika saya masuk ke kamar mandi, ada makanan yang disantap atau air minum yang diteguk. Kewajiban itu sudah melekat pada saya sebagai manusia yang dewasa. Makna dan signifikansi puasa ada di tangan saya.

Agama, atau teks suci dalam agama juga berisi tentang janji-janji dan harapan. Bahkan, dalam catatan lain saya menulis, kalau benteng yang paling kokoh dari agama adalah karena penganutnya masih memungkinkan untuk membangun harapan.

Harapan tentang kehidupan kelak di akhirat yang lebih baik, masuk surga, kekal nan abadi dan seterusnya. Kenapa? Karena agama sendiri menjanjikan untuk terpenuhinya harapan-harapan itu.

Mendamba Surga

Jika ada penganut sebuah agama mendamba surga atau takut karena neraka, saya kira itu sesuatu yang wajar belaka. Lumrah. Karena memang ada jalan menujunya, dimana Tuhan juga menjanjikannya.

Menjadi tidak lumrah ketika jalan menuju Tuhan untuk mendapatkan surga-Nya ditempuh dengan jalan ala anak-anak kecil; berebut, saling sikut, merasa paling benar.

Inilah model iman yang kekanak-kanakan; infantile faith. Istilah ini mungkin digunakan dengan makna berbeda dalam karya lainnya, misalnya Juan Luis Segundo dalam Faith and Ideologies atau Emanuel Swedenborg dalam True Christian Religion.

Tapi yang saya maksud dengan infantile faith ini adalah model beragama yang dorongan terdalamnya adalah mendapatkan kapling surga, takut neraka dan di saat yang sama, menegasikan sesamanya.

Sejatinya, “imortalitas nikmat” (entah ini istilah yang tepat tau tidak) dalam beragama itu tak hanya “kehidupan pasca kehidupan.” Kehidupan (duniawi) itu sendiri sesungguhnya adalah ladang menghadirkan keabadian nikmat.

Bahwa terpatri keyakinan terhadap kehidupan yang kekal di akhir nanti, itu tidak keliru. Tapi kehidupan kekal di akhir itu juga mesti dilewati dengan kebaikan di dunia; fid dunya hasanah dan fil akhirati hasanah.

Imanan Menyelamatkan

Berharap nikmat di kemudian hari sembari menebarkan kebakan kepada sesama, hemat saya menunjukkan level yang berbeda dengan “infantile faith.” Inilah sebentuk model keberimanan yang menyelamatkan; saving faith atau the faith that saves. Lagi-lagi istilah ini juga bisa dikoreksi.

Tapi mungkin ada orang beriman yang dalam praktiknya melampaui model-model di atas. Mereka hanya fokus melakukan kebaikan saja kepada sesama, tanpa terlampaui memedulikan tentang janji surgawi.

Bukan mereka tak percaya, tapi surga dan neraka, pahala dan dosa, itu sepenuhnya otoritas Yang Maha Kuasa.

Bagi mereka yang ada di kuadran ini, pahala dan surga adalah bonus dari perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya kepada sesama dalam bingkai keyakinan pada Yang Transenden.

Sekilas, mungkin mirip-mirip dengan proposisi para penganut humanisme, tapi sesungguhnya ada perbedaan di beberapa titik. Dan yang paling kentara adalah karena mereka masih percaya, yakin dan beriman terhadap imortalitas, kelak.

Kehidupan yang indah di kemudian hari itu, sekali lagi, hanyalah konsekuensi dari apa yang dilakukannya hari ini. Itu pun hak vetonya ada di tangan Yang Mutlak. [Cep]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here