Ini Cerita Alumni Rohis yang Pernah Ikut Pengajian Khilafah

0
944
Memberi Materi: Anggota Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Abdul Moqsith Ghazali memberikan materi pada lokakarya guru PAI untuk penanggulangan intoleransi dan radikalisme dari sekolah di Hotel Amanda-Hills, Bandungan, Kabupaten Semarang, Selasa, (19/12/17) sore. Foto: Ceprudin

Ungaran, elsaonline.com – Seorang alumni rohis dari salah satu SMA di Kabupaten Pemalang, FR, mengungkap pengalamannya saat menjadi rohis. Bukan sekadar aktif, perempuan yang kini sudah masuk perguruan tinggi ini, bahkan pernah menjadi pengurus.

Mahasiswi semester tiga ini bercerita saat pertama kali berkenalan dengan beberapa pengurus rohis dulu di sekolahnya. Saat itu, semua siswa yang baru selesai masa orientasi diarahkan untuk mengikuti pengajian rohis.

”Saya berminat gabung dengan rohis karena mata pelajaran agama di sekolah hanya dua jam. Sedangkan kita membutuhkan tambahan ilmu agama,” katanya, pada lokakarya guru PAI untuk penanggulangan intoleransi dan radikalisme dari sekolah di Hotel Amanda-Hills, Bandungan, Kabupaten Semarang, Selasa, (19/12/17) sore.

”Akhirnya saya bergabung dengan rohis. Pada tahapannya, saya harus mengikuti tes tulis, wawancara dan seterusnya. Di rohis itu ada bidangnya masing-masing. Saya di bagian jurnalistik, ada juga bidang kajian dan lainnya,” lanjut Fauzia, sapaan akrabnya.

Remaja berkacamata ini menyampaikan, rohis di setiap sekolah mempunyai program kerja mingguan, bulanan, dan tahunan. ”Salah satu program mingguannya itu ada mentoring (liqo). Mentoring itu setiap minggunya diisi materi dari seorang ustad dari luar sekolah,” terangnya.

Mentoring

Usai mendapatkan materi dari seorang ustad, setiap rohis wajib melakukan mentoring kepada anggota rohis baru. ”Nanti satu senior itu dibagi-bagi tugasnya. Misal saya hanya mengampu kelas sepuluh A saja. Jadi, sebelum memberikan mentoring ke anggota baru, senior itu diberikan bekal terlebih dahulu oleh ustad atau ustadah itu dari luar,” jelasnya.

Pada mulanya, lanjut Fauzia, materi yang diajarkan rohis di sekolah tak ada yang berbeda. Seperti sejarah peradaban Islam, fiqh, dan muamalah. Namun seiring berjalannya waktu, ustadah (dari luar sekolah) ini sering mengajak rohis-rohis untuk mengikuti sebuah pengajian di salah satu masjid.

Ia awalnya menolak. Namun karena ajakan itu berulang-ulang, ia merasa tak enak. Akhirnya, ia pun ikut. ”Waktu itu yang datang, pesertanya kebanyakan kerudungnya lebar. Disitu disampaikan materi tentang agama. Disitu juga diputarkan video, kebetulan waktu itu suaranya tidak terlalu jelas,” terangnya.

“Tapi gambar videonya jelas, ada anak-anak kecil, perempuan-perempuan bercadar memegang bendera tulisan arab yang sedang demo di jalan. Sempat juga ngomongkan tentang khilafah disitu. Setelah kegiatan itu, saya seperti terkena doktrin,” jelasnya.

Kerudung Lebar

Doktrin apa yang dimaksud Fauzia? Ia merasa, usai mengikuti pengajian ada semacam keharusan untuk mengenakan kerudung besar seperti kebanyakan jamaah pengajian lainnya. Atas itu, ia pun meminta uang kepada orang tuanya untuk membeli kerudung yang ia inginkan.

”Saya pulang-pulang ngomong ke mama saya, ‘mah minta uang dong buat beli kerudung gede’. Lalu mama saya jawab, ’hah kamu habis kegiatan apa, ngapain pakai kerudung gede?’. Saya jawab ‘habis mengikuti pengajian’. Langsung ibu saya melarang ikut pengajian itu lagi,” katanya.

Selain bercerita tentang pengalamannya, ia juga bercerita tentang senior dan teman-temannya yang aktif di rohis. Suatu ketika pernah ada kejadian menggemparkan di sekolahnya. Dimana seorang Ketua Umum Rohis mendadak hilang ingatan setelah mengikuti beberapa pengajian yang diarahkan ustadnya.

”Setelah ada kejadian yang menimpa kaka kelas saya, yang hilang ingatan, rohis tidak boleh lagi mengundang ustad dari luar. Ceritanya, senior saya ini mengikuti kegiatan-kegiatan pengajian. Tapi setelah itu anaknya sering melamun dan menyendiri. Ketika ditanya kenapa, jawabnya ‘karena orang yang ada di sekelilingnya itu orang-orang yang penuh dosa,” paparnya.

Hilang Ingatan

Menurut cerita yang berkembang diinternal rohis kala itu, senior yang hilang ingatan ini seperti diintimidasi. ”Karena senior saya ini terus diajak untuk pengajian majelis oleh seseorang, laki-laki dan terus dideketi. Jadi yang radikal itu aslinya bukan rohis, tapi ustad atau pengajian diluar sekolah,” tandasnya.

Pada kesempatan itu hadir sebagai narasumber Abdul Moqsith Ghazali. Anggota Komisi Kerukunan Antar Umat Beragama MUI Pusat ini menyampaikan pentingnya penguatan kapasitas guru agama di sekolah.

”Peran guru agama ini luar biasa. Sangat penting untuk dikuatkan. Rohis-rohis ini sekarang pintar-pintar. Mereka bahkan tidak sedikit yang hafal Quran. Karena itu guru agama harus bisa mengikuti tantangan dan perkembangan yang ada sekarang,” tandasnya. [Cep/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here