Ini Jawaban Cagub-Cawagub Jateng Saat Ditanya Isu Sosial dan Agama

0
151
Dua Pasangan Calon: Dua pasangan Cagub-Cawagub Jateng, Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimoen dan Sudirman Said-Ida Fauziah pada debat terbuka putaran pertama Jumat 20 April 2018. Foto: Ceprudin

Pada debat terbuka Pilgub Jawa Tengah putaran pertama, ada sesi tanya jawab pertanyaan dari Panelis. Panelis menyiapkan empat pertanyaan yang salah satunya menyangkut isu keagamaan dan sosial budaya.

Simak jawaban kedua pasangan Cagub-Cawagub Jateng ini. Apakah menurut masyarakat Jawa Tengah, jawaban kedua pasangan calon nyambung dengan pertanyaan moderator? Jika nyambung, apakah sekiranya jawaban Cagub-Cawagub ini sudah tepat untuk mengatasi potensi konflik berlatar belakang sosial keagamaan di Jateng?

Moderator:

Data kasus kekerasan atas nama agama di tahun 2012 ada 17 kasus, 2013 6 kasus, 2014 10 kasus, 2015 14 kasus, dan 2016 20 kasus. Ini diambil dari data eLSA atau Lembaga Studi Sosial dan Agam. Jawa Tengah merupakan provinsi dengan kebudayaan yang beragam. Ada Keraton, Badegan, Banyumasan, Pesisiran, Sedulur Sikep dan lain-lain yang merupakan modal sosial yang dapat dikembangkan.

Pertanyaannya: Bagaimana strategi kebudayaan dalam perspektif sosial budaya yang akan bapak-bapak (sebagai Cagub-Cawagub Jateng) lakukan untuk mengatasi berbagai potensi perpecahan (fundamentalisme radikal dan fundamentalisme sekuler) yang akhir-akhir ini meningkat secara eskalasif dan eksesif?

Jawaban Cagub-Cawagub nomor urut 1 (Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Maimoen)

Ganjar Pranowo: Ada enam eks karesidenan dan mereka punya pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan persoalan. Dan itulah yang kemudian kita bisa melakukan pendekatan, kita coba dalam Musrembang, kita yang datang pada mereka. Maka ada satu kata sebagai lembaga demokrasi paling bagus yang dimiliki Indonesia namanya ”guyub, rembugan”. Rembugan adalah cara menyelesaikan persoalan yang ada di sana.

Kedua, pelibatan Majelis Ulama Indonesia (MUI), pelibatan forum umat beragama yang berkumpul, Forkompimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) itu kita lakukan untuk melakukan pencegahan-pencegahan agar radikalisme tidak terjadi. Maka mereka kita ajak berbicara langsung mengambil keputusan dan itulah yang mereka merasa di uwongke (dimanusiakan) ikut menentukan. Maka cara ini untuk mencegah agar radikalisme itu tidak terjadi. Bahkan kekerasan. Kita ajak dialog, ayok rembugan karo gumbernure (mari rembugan dengan gubernurnya).

Jawaban Cagub-Cawagub nomor urut 2 (Sudirman Said dan Ida Fauziyah)

Sudirman Said: Saya ingin mengingatkan kepada pendukung Paslon nomor urut dua, tunjukan budaya Jawa Tengah. Santun-Religius. Saya berkali-kali difitnah, dibilang antek Yahudi, dibilang ikut segala macem, itu yah. Tapi sebetulnya, tapi sebetulnya pemimpin musti di tengah, menjangkau semuanya. Kalau bisa menjangkau semua dengan adil, menyentuh semua dengan adil, maka semua ekstrimitas itu bisa kita redam, gitu.

Dan resikonya memang kita sering di curigai. Karena katanya kalau kita jalan di tengah itu, oleh yang kiri disebut di kanan, oleh yang kanan disebut di kiri. Tapi itulah fungsi pemimpin, menjangkau semuanya, merajut persatuan.

Ida Fauziyah: Semangat yang harus dibangun di antara warga Jawa Tengah adalah semangat untuk cinta kepada tanah air. Ini menjadi kunci bagaimana, menyatukan perbedaan.

Tanggapan balik dari Paslon nomor urut 1 (Ganjar Pranowo dan Taj Yasin Maimoen)

Ganjar Pranowo: Ya, jadi saya melanjutkan, bahwa pendidikan karakter menjadi sesuatu yang penting. Kita libatkan perguruan tinggi, jadi kalau (ada informasi) perguruan tinggi tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan di Jawa Tengah, itu hoax, itu hoax. Maka kemudian, kita ajak, budayawan masuk, mereka kita ajak terlibat, maka itulah cara kita membangun, menambah literasi pada mereka.

Sehingga mereka mengerti bahwa di Jawa Tengah itu bentengnya Pancasila, bentengnya Bhineka Tunggal Ika, yang kemudian kita bisa mendorong mereka untuk peduli dan mengerti Kebhinekaan itu.
Taj Yasin: Maka dari itu, Insya Allah kami akan membikin perpustakaan yang berbasis di pesantren untuk menyatukan visi misi menjaga NKRI kedepan. Selain itu Insya Allah, kalau literasi itu ada di lingkungan pesantren, Insya Allah kita akan mengantarkan keberagaman Islam yang rahmatan lil ’alamin.

Tanggapan balik dari Paslon nomor urut 2 (Sudirman Said dan Ida Fauziah)

Sudirman Said: Sebetulnya Jawa Tengah ini seperti tempat menyatunya banyak sekali warna, dan karena itu ada dua hal. Yang pertama melestarikan yang sudah ada, warisan sejarah semua agama besar (agama besar?), berkembang di sini (Jawa Tengah) semua budaya-budaya besar berkembang di sini. Karena itu, pemimpin sekali lagi harus bisa menjaga warisan itu nguri-uri warisan budaya.

Yang kedepan kita harus mengambil nilai-nilai baik itu. Kejujuran, gotong royong, sopan santun, itu adalah bagian dari nilai kita di Jawa Tengah. Dan kalau itu dikerjakan oleh pemimpin menjadi sikap keteladanan, maka Insya Allah lingkungan akan adem, akan tenang dan sekali lagi tekanannya adalah pada keteladanan pemimpin.

Ida Fauziyah: Ada bahasa santri, “al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik). Jadi budaya yang baik kita teruskan. [Cep/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here