Ini Sosok Pengantin yang Sedekah ke Tujuh Rumah Ibadah

0
164
Wihara: Seorang Penganut Kepercayaan Sapta Darma hendak parkir di depan Wihara Vidyasasana Dusun Candi, Desa Candi Garon, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Foto: Ceprudin

Pitu-Pitulungan, Welas-Kawelasan….

Ungaran, elsaonline.com – Masih ingat dengan cerita seorang calon pengantin yang membagikan uang ke tujuh rumah ibadah? Ia ternyata anak seorang bakul sayur di Dukuh Candi, Desa Candi Garon, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang. Ibunya bernama Tri Utami dan sepasang pengantin itu Ida Khoirunnisa yang menikah dengan Otnial Purniawan.

Ibu dan Anak: Tri Utami (kanan) dan Ida Khoirunnisa (kiri). Tri adalah ibu dari Ida Khoirunnisa yang bagi-bagi uang ke tujuh rumah ibadah yang berbeda agama dan kepercayaan sebelum melangsungkan akad nikah. Foto: Ceprudin
Pitu-Pitulungan, Welas-Kawelasan (tujuh-pertolongan, sebelas-dikasihani),” tutur Tri Utami, mengawali penjelasan mengapa ia memberi sedekah kepada tujuh rumah ibadah milik umat berbeda agama dan kepercayaan itu.

Saat ditemui di kediamannya 4 Novermber 2017 lalu, Tri didampingi anaknya Ida Khoirunnisa. Ibu dan anak itu bercerita kompak perihal tujuh amplop dan jumlah nominal uang yang di sedekahkan. Keluarga pengantin yang menikah pada 24 April 2017 itu bersedekah hanya sebatas ingin hidupnya aman dan saling welas asih.

“(ketika tahu diberitakan elsaonline.com) Terharu. Terus (saya) nangis, to. Ceritane sakdurunge niku (ceritanya sebelum itu) satu bulan sebelum menikah kami dapat ancaman. Itu teror lewat sms hanphone. Jam satu malam, telpon dan tidak ada suaranya, terus jam dua malam sms, terus jam empat pagi sms lagi” terangnya.

Semangat Kerukunan

Berawal dari teror itu suami beserta keluarganya kemudian berinisiatif untuk bersedekah ke masjid, mushola, wihara, dan sanggar Penganut Kepercayaan Sapta Darma. Tri sekeluarga percaya, jika berbuat amal kebaikan akan ada balasan yang baik pula dalam kehidupan.

“Satu, kalau kita mati kan meninggalkan amal budi (baik). Kalau amal budi kan dibawa mati, gitu. Kedua, (kalau menuruti) kebutuhan kita sebanyak-banyaknya kan tidak cukup, karena itu harus nabung sedikit-sedikit buat di akhirat. Jadi kita hidup itu harus meninggalkan amal budi, meskipun sepucuk kuku,” terangnya.

Mengapa sedekah itu harus diberikan kepada rumah ibadah yang berbeda-beda agama dan kepercayaan? Tri menilai, semua rumah ibadah, semua agama dan penganutnya itu baik.

”Bagi saya, rumah ibadah atau agama apa pun itu semua baik, yang tidak baik itu kan orangnya. Agama apa pun itu menunjukan kebenaran, istilahe kan begitu, semua agama kan bagus. Yang tidak bagus kan biasanya orangnya. Jadi menurut saya semangat kerukunan antar umat beragama gitu,” jelas Tri, ditimpali anak semata wayangnya Ida.

Tri sadar betul bahwa dalam bermasyarakat tidak bisa hidup sendirian. Sebagai kodrat mahluk sosial, semua orang pasti membutuhkan orang lain. Sementara di Dusun Candi, warga masyarakatnya tak hanya beragama Islam. Namun ada juga yang menganut Agama Kirsten, Budha, dan Penganut Kepercayaan Sapta Darma.

”Kalau istilah jawa, nopo-nopo njih di sengkuyung sanak sedulur (apa-apa kan dibantu bareng-bareng oleh sanak saudara). Tiang mriki, sanak sedulur kan mboten Islam thok (orang disini kan sanak saudara, tetangga bukan Islam saja, ya ada Budha, Kristen dan Warga Sapta Darma),” terangnya.

Dirukuni, Wajib Ngerukuni

Dalam kehidupan sehari-hari, Tri dengan masyarakat sekitar sangat dekat. Ketika ia punya pekerjaan di sawah, warga sekitarlah yang membantu menggarap sawahnya. Mulai dari mengolah lahan hingga memanen. Sehingga itu, setiap orang harus rukun terhadap siapa pun.

Sak umpama kulo njih nandur teng sawah, njih podo ngewang. Sing ngewangi kan mboten Islam thok, kan. (seumpama saya nandur di sawah, (yang berlainan agama itu) ya pada membantu, bukan yang agamanya Islam saja). Awake dhewe dirukuni, awake dhewe wajib ngerukuni (kita dirukuni, maka kita wajib merukuni), nek istilahe jawa ngoten tho (kalau istilah jawa kan begitu kan),” tambah ibu berambut pendek ini.

Ibu yang sehari-hari menjadi penadah sayuran dari para petani itu berpedoman, dalam bersedekah tidak harus pada umat yang seagama. Dalam nandur kebaikan, kepada siapa saja harus sama rata.

Kulo kan Islam, jadi mboten kudu maringi dana mung tiang Islam thok. (saya kan orang Islam, jadi tidak harus memberi hanya sama orang Islam saja). Kan umur kita tidak tahu, terus seumpama besok itu dipundut kalih sing kuoso kan raketang sitik ninggal amal budi ngoten (dipanggil sama yang maha kuasa, meskipun sedikit ninggal amal kebaikan). Nek amal budi kan dibawa mati. Uang seberapa banyak pun tidak dibawa mati,” lanjutnya.

Sebagai tambahan informasi, warga Dusun Candi, Desa Candi Garon terdapat 230 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sekitar 350 orang. Warga yang beragama Islam sekitar 100 KK lebih, menganut agama Budha sebanyak 60 KK, menganut Kepercayaan Sapta Darma sebanyak 35 kk, dan menganut agama Kristen sebanyak 20 KK.

Agama dan Kepercayaan

Sementara warga di Satu Desa Candi Garon terdapat sekitar 850 KK dengan sekitar 3000 jiwa dari enam dusun. Dari jumlah itu, mayoritas menganut agama Islam, Budha, Kristen, Penganut Kepercayaan Sapta Darma, Kepercayaan Ngesti Kasampurnan, dan menganut agama Katolik.

Sementara rumah ibadah yang ada di Desa Candi Garon, enam masjid, lima gereja, empat wihara, dan satu Sanggar Penganut Kepercayaan Sapta Darma. Sanggar hanya ada di Dusun Candi.

Ditemui terpisah, Kepala Dusun Candi, Desa Candi Garon, Eko Sugianto mengatakan, penduduk Desa Candi Garon memang sangat beragam. Warga Desa Garon itu ada yang menganut Agama Islam, Budha, Kristen, Katolik, dan Kepercayaan Sapta Darma. Termasuk di Dusun Candi tersebut.

Eko mengakui memang tidak mudah mewujudkan kerukunan di masyarakat yang beragam latar belakang agama dan kepercayaan itu. Sebagai perangkat desa, ia bersama teman-temannya berusaha sebisa mungkin untuk tidak berlaku memihak. Supaya tidak menimbulkan diskriminasi.

Tidak Diskriminasi

”Kalau selama aparat itu tidak melakukan diskriminasi (ya akan rukun). Aparat itu di tengah-tengah dan yang namanya aparat kan tidak memihak, Mas. Ya kita harus bisa menempatkan diri, Mas. Misal, saya ini kan orang Muslim maka kalau ada kegiatan di luar Muslim ya kita harus mengikuti juga tho, Mas,” tukasnya.

”Yang namanya juga hanya kegiatan. Kalau ritualnya kita memang masing-masing, tapi kalau kegiatan harus kita ikuti, karena kita perangkat desa. Jadi kan kesaannya ya, kalau saya seorang Kadus, ya tidak hanya ngadusi satu golongan (kalau kades ya tidak hanya ngadesi satu golongan),” lanjutnya.

Meskipun kondisi Dusun Candi sangat rukun, bukan berarti tak ada konflik sama sekali. Dalam menyelesaikannya, Eko bersama dengan perangkat desa selau berhati-hati dalam menanggapi setiap aduan dari masyarakat.

”(Ya ini teknis saja kalau ada kasus) kita temui, kita kondisikan. Misalnya (ada kasus), yang kita temui dari sepihak dulu, ya biasanya saya memberi solusi, seperti ini, sementara ya sudah jangan bertemu dulu, karena kalau ketemu langsung belum tentu omongan ini dan itu pasti benar, biar nanti saya dan perangkat desa yang memastikan,” tandasnya. [Cep/003]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here