Islam di Indonesia dan Pesona Kebudayaannya

0
72
Foto: http://grade6religioncurrentevents.wikispaces.com/file/view/Indonesia_Islam.jpg/137654735/Indonesia_Islam.jpg

Oleh: Tedi Kholiludin

Kekayaan bangsa Indonesia salah satunya terletak pada kemampuannya mendialogkan “yang sakral” dan “yang profan.” Nyaris tak ada kegiatan keagamaan apapun yang tak memiliki sentuhan kebudayaan. Sulit menemukan ibadah atau ritual keagamaan yang terpisah dari misi kebudayaan. Dalam kegiatan kegamaan apapun pesona kebudayaan mesti ada dan menyembul dalam nadi keberagamaan bangsa Indonesia.

Sebelum Puasa ada tradisi dugderan di Kota Semarang. Ada juga tradisi ruwahan, nyekar, padusan dan lain-lain. Saat berpuasa ada tradisi membangunkan sahur, posonan di pesantren dan lainnya. Jelang lebaran, mereka yang bekerja di luar kampung halaman menjalani ritual mudik.

Bagi umat Islam yang berada di perantauan, mudik (pulang kampung) barangkali telah menjadi agenda merupakan rutin tahunan yang sulit dilewatkan. Tidak saja karena mudik menjadi sarana untuk berlibur pasca menjalankan rutinitas, tetapi lebih dari itu, mudik bisa juga dijadikan ajang untuk berefleksi, bersilaturahmi serta mengevaluasi kerja selama setahun. Bisa juga dikatakan mudik menjadi reuni untuk menemukan kembali keakraban, in group feeling, beserta ketulusan merawat ulang status dan posisi manusia sebagai makhluk. Bahkan, saat ini mudik tidak hanya milik orang Islam, tetapi telah menjadi hajatan besar bangsa Indonesia selain pemilu.

Cukup sampai disitu? Belum. Saat Idul Fitri, umat Islam Indonesia membumbuinya dengan pelbagai ritus kebudayaan lainnya seperti halal bihalal serta lebaran ketupat.

Pesona kebudayaan keberislaman di Indonesia seperti terus menubuh. Memang ada tantangan dari kelompok purifikatif. Tapi secara umum, tradisi yang menempel dalam kehidupan umat Islam Indonesia terlihat semakin menguat. Ini tentu tak lepas dari sifat kebudayaan masyarakat Indonesia yang sangat dinamis nan akomodatif.

Kelenturan budaya inilah yang membuat kita bisa hidup toleran, saling berdampingan satu dengan lainnya meski berbeda agama ataupun suku. Bahwa ada riak di beberapa tempat, itu memang bagian dari fakta. Tapi, kebanyakan kasus yang terjadi lebih karena disebabkan tidak tegasnya pemerintah dalam menegakkan aturan hukum.

Situasi di Timur Tengah membuat miris. Konflik antar negara, yang kemudian dibalut agama, terus menerus terjadi. Korban terus berjatuhan di Gaza. Israel dan Palestina (atau lebih tepatnya HAMAS) tak jua mau mereda. Anak-anak, perempuan dan masyarakat sipil tak berdosa menjadi korban. Seruan dunia internasional agar pertempuran segera diakhiri, sepertinya tak mau diindahkan. Yang terjadi, rudal dan mesiu menghantam fasilitas publik. Tragedi yang nyata-nyata mengiris nurani kemanusiaan kita.

Kejadian lain yang sangat mencederai rasa kemanusiaan adalah kelompok teror Islamic State Iraq and Syria (ISIS). Di Mosul, kota di Irak yang sudah mereka kuasai, kelompok ini melakukan pemaksaan untuk berpindah agama. Umat Kristen dipaksa untuk pindah agama. Jika tidak mereka, harus keluar dari negara tersebut. Gereja-gereja juga dihancurkan. Tak hanya itu, mereka juga menghancurkan makam Nabi Yunus.

Bukan tidak mungkin banyaknya konflik salah satunya diakibatkan oleh gap budaya serta ketimpangan sosial serta ekonomi. Ketidakmampuan menjadikan budaya sebagai titik pijak bersama berakibat konflik.

Panorama keberislaman di Indonesia juga bukan tidak mungkin ada dalam situasi demikian jika ada penundukan agama terhadap kebudayaan. Menganggap bahwa budaya itu sesuatu yang kafir dan tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, pada gilirannya akan membuat seseorang jatuh pada fanatisme dan bahkan fundamentalisme.

Islam bukan produk monolitik, tetapi Islam adalah mozaik dan sangat ramah terhadap ekspresi lokal masyarakatnya. Upaya memberangus tradisi lokal, justru akan membuat wajah Islam menjadi bertambah angker. Karena ada hegemoni tradisi dalam hal ini. Padahal Islam sangat menghargai local wisdom (kearifan lokal), yang justru bisa menjadi instrumen untuk membangun imperium Islam yang inklusif dan toleran.

Dan tradisi itu sendiri merupakan khazanah kebudayaan Islam yang sangat berharga. Watak Islam yang elastis inilah yang ditunjukan Nabi Muhammad pada saat mengibarkan panji Islam sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan tiran dan hegemonik. Nabi Muhammad tidak secara serampangan merontokan tradisi bangsa Arab saat itu. Secara gradual, Muhammad memberikan warna teologis dalam setiap tradisinya. Strategi inilah yang membuat lama kelamaan Islam dapat diterima oleh masyarakat Arab.

Ini menunjukan bahwa Islam adalah agama yang lahir dari hasil dialektika antara kehendak Tuhan dan kebudayaan manusia. Ada yang partikular dan ada yang universal. Meskipun demikian ini bukan berarti kita tidak menghormati satu tradisi yang telah memoles tampilan Islam, tetapi tentu akan lebih baik jika tradisi yang telah memberikan kontribusi bagi peradaban Islam itu dibaca kembali dengan menggunakan perspektif kekinian. Karena bagaimanapun juga perubahan waktu dan tempat membuat kita perlu memperbaharui cara pandang terhadap agama, tanpa menghilangkan semangat dan nilai moral yang dikandungnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here