Islam Postliberal sebagai Diskursus Baru

0
89

[Semarang – elsaonline.com] Untuk mengantisipasi agar para calon pendeta tidak ketinggalan perkembangan wacana dalam agama-agama diluar Kristen, Pusat Studi Agama-agama (PSAA) Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Jogjakarta mengadakan Studi Intensif Tentang Islam (SITI) yang khusus menjadikan Islam sebagai topiknya.

Acara tersebut berlangsung selama dua minggu di Wisma UKDW Kaliurang, Jogjakarta. Pesertanya merupakan para calon pendeta yang berkuliah di berbagai perguruan tinggi. Para pendeta kadang ada yang kurang banyak memahami agama selain Kristen khususnya Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia.  “Para calon pendeta sementara ini hanya mengenal Islam melalui kurikulum di perkuliahan pascasarjana saja. Itu pun sangat terbatas karena hanya 2 sks. Dari itu para calon pendeta melalui acara ini dikumpulkan selama 2 minggu untuk diberikan pemahaman mengenai agama yang lain khususnya Islam,” ujar Djaka Soetapa, direktur PSAA, Senin (10/9).

Djaka Soetapa (kiri) dan Tedi Kholiludin

Di UKDW mahasiswa pascasarjana juga tidak hanya dari kalangan umat Kristen, tapi ada juga dari kalangan Islam. Agar para mahasiswa tidak terlibat dalam permusuhan antara Muslim-Kristen maka para calon pendeta diberikan pemahaman mengenai ajaran Islam yang sebenarnya humanis. Kadang ada juga para calon pendeta yang memusuhi mahasiswa Muslim, karena persepsi awalnya orang-orang Muslim cendrung radikal dan suka menindas terhadap non-Muslim. “Kadang ada juga mahasiswa yang tidak suka dengan adanya mahasiswa Muslim di UKDW. Ini saya kira karena kurangnya pemahaman terhadap Islam,” tambah Djaka. Sehingga itu para pemateri dalam acara SITI tersebut ada  beberapa dari kalangan Muslim.

Salah satu pembicara SITI adalah Zuly Qodir yang berbicara mengenai Islam Liberal. Daka juga menjelaskan bahwa sudah lama ia menjalin hubungan dengan akademisi, aktifis bahkan kalangan kiyai dari kalangan Islam. Dalam acara seperti ini biasa diundang untuk menjadi pembicara. “Selama ini yang di undang dari UIN Jogja, Bandung, Jakarta dan Juga dari Semarang. Ada juga dari kalangan kiyai,” papar Djaka. UKDW rutin mengadakan SITI selama satu tahun sekali. Acara itu dilakukan karena perkembangan pemikiran  yang terjadi dalam tubuh Islam selalu dinamis. Dan itu harus dipahami oleh para pendeta.

“Karena Islam itu kan tidak seperti patung, diam begitu saja. Tapi pasti dalam ajaranya selalu ada perkembangan dan dinamis. Dari itu kepada para calon pendeta, kami selau memberikan pemahaman perkembangan dalam teologi Islam. Agar nanti dalam masyarakat tidak gugup ketika berbaur dengan orang-orang Islam,” ungkap Djaka. Berbaur dengan Islam itu merupakan hal yang sudah pasti. Karena dalam masyarakat Jawa khususnya, Islam itu agama  mayoritas. “Jika para pendeta tidak dewasa menyikapinya nantinya menghawatirkan akan terjadi ketegangan yang mengarah pada permusuhan,” pungkas Djaka.

Setelah perbincangan kecil  selesai dengan penyelenggara acara, materi mengenai Islam Postliberal dimulai. Pembicaranya adalah direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Tedi Kholiludin. Tedi sebelum masuk ke materi di awal menjelaskan perpolitikan masa Orde Baru. Karena pada masa itu juga menentukan terjadinya perkembangan pelembagaan Islam dalam ranah Negara. “Pada masa Orde Baru banyak terjadi akomodasi yang sifatnya lebih politis. Negara banyak merangkul para aktifis Islam modernis ke dalam struktur negara. Ada aktifis yang secara personal direkrut untuk menjadi pejabat negara dan juga dimasukan ke dalam partai politik. Tidak hanya itu politisasi Islam pada masa Orde Baru juga ada yang berbentuk regulasi. Misalkan undang-undang Peradilan Agama (PA). Juga akomodasi infrastruktur seperti Bank Muamalat, dan juga pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Ini  adalah contoh dari hasil akomodasi pemerintah untuk merangkul kelompok Muslim pada era 90an,” ungkap Tedi. Yang juga menjadi instrumen untuk merangkul adalah mengenai Undang-undang perkawinan dan juga Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang sangat erat dengan nuansa Islam.

Diskusi tentang wacana Islam Postliberal

Setelah memaparkan mengenai dinamika perpolitikan pada masa Orde Baru, kemudian Tedi memaparkan berbagai corak pemikiran dalam tubuh organisasi masyarakat (Ormas) Islam salah satunya Nahdlatul Ulama (NU). Dalam tubuh NU tidak hanya seragam satu corak pemikiran saja. Melainkan banyak sekali corak pemikiran dari kalangan konservatif hingga liberalis. “Jangan dikira dalam tubuh NU itu hanya ada orang-orang yang pemikiranya liberal. Seperti Masdar F Mas’udi, Said Aqil Siradj, Ulil Abshar atau Zuhairi Misrawi. Dalam tubuh NU juga ada orang-orang yang konservatif. Masih banyak sekali dalam tubuh NU yang pemikiranya sangat konservatif,” papar Tedi.

Dari berbagai corak di atas ada juga sebagian kecil dalam tubuh NU yang gagasanya sudah melampaui sekat, ini kerap disebut dengan Islam Postliberal. Islam Postliberal pertama kali muncul pada November tahun 2011 melalui buku Islam Postliberal. Gagasan itu muncul dari pemikir muda NU yaitu Sumanto al-Qurtuby. “Wacana Islam Postliberal pertama kali dikenalkan oleh pemikir muda NU, Sumanto al-Qurtuby,” jelas Tedi.

Tedi juga mengakui bahwa wacana ini memang belum sempurna. Tapi paling tidak ini sudah turut mewarnai dinamika perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. “Wacana Islam Postliberal disini memang masih banyak sekali kekuranganya. Tapi paling tidak gambaranya begini, ada corak pemikiran Islam, mulai dari Fundamentalisme Islam yang kedua Islam Liberal dan juga Islam Post-Liberal. Nah, disini posisi Islam Postliberal berada. Sudah melampaui Islam liberal. Kekurangan Sumanto dalam menggambarkan Islam Postliberal sama sekali tidak membahas mengenai kultur serta metode yang menopang genre ini,”  jelas Tedi.

Di Indonesia masih sangat kental dengan politik identitas agamanya. Memang sejak dini dalam tubuh Islam sudah di ajarkan mengenai Identitas agama yang itu merupakan Ideologi penguat keimanan seorang anak. “Survei dari LaKIP menjelaskan bahwa 48% anak sekolah sepakat jika gereja-gereja yang ada di Indonesia itu ditutup. Bahkan anak-anak yang jumlahnya 59% itu bersedia jika diajak untuk memerangi orang non-Islam,” terang Tedi.

Dalam posisi seperti ini Islam Indonesia seakan tanpa Identitas tapi juga banyak identitas. Sehingga banyak warna Islam yang masih berbau Arab. Dan ini sering menimbulkan ketidak cocokan dengan budaya Indonesia itu sendiri. “Lalu jika Islam impor itu menciptakan ketidakrukunan, Islam yang seperti apa yang cocok untuk Indonesia? Mestinya, yang harus dikembangkan adalah Islam yang sesuai dengan konteks Indonesia, yakni Islam Indonesia. Islam yang lebih humanis dan mengakomodasi kultur atau budaya asli Indonesia. Kerancuan kerap muncul karena budaya Indonesia dipaksakan diganti dengan budaya Islam-Arab, sehingga terjadi kerancuan,” tambah Tedi.

Lin, salah satu peserta meragukan kontribusi Islam Postiberal. Peserta diskusi tersebut mempertanyakan apa kontribusi Islam Postliberal terhadap perdamaian antar agama. Lin bahkan cenderung mengkritik terutama pertentangan kelompok liberal dan fundamental. Karena belakangan ini internal umat Islam sendiri kerap terjadi perselisihan karena banyaknya aliran pemikiran dalam Islam. “Saya cenderung meragukan kontribusi positif yang dihasilkan dari Islam Postliberal. Sekarang saja dengan adanya Islam Liberal, internal umat Islam sendiri sering terjadi menimbulkan permusuhan. ” ungkap Lin.

Kemudian Tedi mencoba menjelaskan kontribusi Islam Posliberal dalam kancah pemikiran Islam. Memang diskursus Islam Postliberal masih perlu dikritisi. Apalagi bangunan epistemology dan metodologi yang menjadi penopangnya masih sangat lemah. Tetapi setidaknya ini bisa menjadi bangunan alternative untuk menyemarakan diskusi mengenai peta pemikiran Islam kontemporer. (elsa-ol/Ceprudin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here