Islam Ramah di Karimun Jawa

0
330
KH. A'wani (kiri) dan KH. Zamzam Zamroni
KH. A'wani (kiri) dan KH. Zamzam Zamroni
KH. A’wani (kiri) dan KH. Hisyam Zamroni

[Jepara –elsaonline.com] Karimun Jawa, tempat wisata alam di Jawa Tengah yang sangat indah memiliki penduduk beragam suku. Ada Jawa, Madura, Bugis, dan yang lainnya. Begitu juga dengan agama yang dianutnya. Namun mayoritas penduduk pulau yang secara administrasi mengikuti Kabupaten Jepara ini memeluk Islam ala ahlis sunnah wal jama’ah. “Dalam berjam’iyyah masyarakat Karimun Jawa mengikuti NU (Nahdlatul Ulama),” tutur KH. Nashrullah Huda, Sekretaris Pengurus Wilayah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Senin (13/5).

Asal usul nama Karimun Jawa sendiri ada banyak pendapat, menurut Gus Nashrul, sapaan akrab KH. Nashrullah Huda, Karimun berasal dari bahasa Jawa kremun-kremun yang memiliki arti terlihat kecil dari jarak jauh. Penamaan ini berkaitan erat dengan kehadiran penyebar Islam di Karimun Jawa, yaitu Syaikh Amir Hasan, putra Sunan Kudus. Ketika Syaikh Amir yang dikemudian hari dikenal dengan Syaikh Nyamplungan ini menginjakkan kaki ke Jepara melihat ada pulau yang terlihat sangat kecil dari jarak mata memandang. Dalam bahasa jawa dinamakan dengan “kremun-kremun”. Dari sinilah kemudian pulau ini diberi nama Karimun Jawa yang berarti pulau yang terlihat kecil dari Jawa.

Berbeda dengan pendapat ini KH. Hisyam Zamroni, Wakil Rois Syuriyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Karimun Jawa menyampaikan Karimun berasal dari bahasa Arab yang berarti kemuliaan. Pendapat ini juga berkelindan dengan sejarah penyebaran Islam di pulau yang kini menjadi sasaran turis. “Karimun diambil dari bahasa Arab, Karimun Jawa artinya Jawa yang mulia. Jadi orang jawa yang belum berkunjung ke Karimun Jawa belum mulia,” katanya dengan senyum.

Kendati Karimun Jawa menjadi tempat singgah wisatawan baik dari dalam maupun luar Negeri tapi penduduk Karimun Jawa yang beragama Islam tetap mempertahankan tradisi keislamannya. Sikap umat Islam Karimun Jawa sangat toleran dan menerima keragaman budaya dan agama. “Ini karena penduduk Karimun Jawa 99,9 persen beragama Islam ahlus sunnah wal jama’ah,” tegas Gus Zam, sapaan akrab KH. Hisyam Zamroni.

Sampai saat ini penduduk muslim Karimun Jawa masih sangat kental dengan tradisi-tradisi keislamannya, bahkan sebagaimana penulis saksikan setiap kali menjelang maghrib ada beberapa anak kecil mengenakan sarung, peci, dan berbaju koko pergi bersama-sama menuju mushalla. Di Mushalla mereka mengikuti shalat berjamaah dan mengaji al-Quran.

Tradisi keislaman khas warga nahdliyin juga sangat berakar urat di tempat ini, manaqiban, tahlilan, diba’an, ziarah kubur, dan yang lainnya. Bahkan bacaan manaqib bagi penduduk Karimun Jawa tidak hanya sebagai ritual bacaan dalam acara tasyakuran dan pengajian tapi juga dibaca saat nelayan mendapatkan ikan lumba-lumba yang mati.

“Kekentalan NU di sini luar biasa, tahlilan, manaqiban, bahkan di sini kulturalnya kalau ada nelayan beranjang atau njaring dan ada ikan lumba-lumba masuk maka nelayan akan mengadakan manaqiban. Kenapa? Bagi nelayan lumba-lumba itu teman manusia, sehingga apabila mati maka harus didoakan,” paparnya. [elsa-ol/KA-@khoirulanwar_88]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here