Jejak Gereja di Lereng Muria (2)

0
280
Makam Pieter Jansz di Kauyuapu-Kudus (Sumber: http://www.panoramio.com/photo/52199046)

Makam Pieter Jansz di Kauyuapu-Kudus (Sumber: http://www.panoramio.com/photo/52199046)
Makam Pieter Jansz di Kauyuapu-Kudus (Sumber: http://www.panoramio.com/photo/52199046)
[Jepara –elsaonline.com] Pieter Jansz merupakan misionaris Belanda yang sangat penting dalam sejarah Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ). Ia adalah misionaris Doopsgezind atau biasa disebut aliran Mennonite. Penginjil lainnya adalah Missionaris Hervormd bernama W. Hoezoo yang menetap di Semarang tapi sering berkunjung ke Kudus. Kelahiran GITJ seringkali merujuk pada baptisan pertama saat Hari Paskah yang diselenggarakan di daerah Jepara yang dipimpin Pieter Jansz pada 16 April 1854.

Tanggal 30 Mei 1940, 12 jemaat yang menjadi cikal bakal GITJ berkumpul di Kelet, Jepara dan memutuskan mendirikan suatu sinode bernama Pateonggilanipoen para Pasamoewan Kristen Tata Indjil ing wengkon Kaboepaten Koedoes, Pati, Djepara (Persatuan Jemaat Kristen Tata Injil di Kabupaten Kudus, Pati dan Jepara).

Meski dilahirkan sebagai gereja Mennonit, GITJ tidak menggunakan nama Mennonit. Dugaan kuat adalah karena di dalam gereja ini ada unsur gereja “Kristen Jowo” Tunggul Wulung dan Gereja Hervormd Kayuapu. Dalam tubuh gereja ini, darah Jawa sangat kental mengalir. Mereka lebih suka menyebut dirinya sebagai Kristen Jowo untuk membedakannya dengan “Kristen Londo” (pengikut Kristen Belanda, Missionaris dan sejenisnya). Cara-cara Kristen Londo, menurut Tunggul Wulung masih dianggap terpengaruh oleh Kebudayaan Belanda. Sementara, Tunggul Wulung suka mengaitkan harapan kedatangan Yesus Kristus dengan harapan masyarakat Jawa akan kedatangan Ratu Adil.

Alasan lain, mengapa Mennonit tidak muncul sebagai nama gereja adalah berkaitan dengan penyerahan jemaat misi dari Misi Hervormd Belanda (NZG) di Kayuapu-Kudus (serta cabangnya di Ngalapan-Juana) pada tahun 1898. Sejak saat itulah Gereja Misi Mennonit mencakup tiga aliran, (i) jemaat-jemaat yang didirikan oleh misionaris Mennonit sendiri, (ii) kelompok Kristen Jowo di daerah Muria dan (iii) jemaat Misi Hervormd di Kayuapu dengan cabangnya. Dari sini menjadi jelas, bahwa Gereja Misi Mennonit atau Gereja Jawa Muria atau GITJ ini tidak semata-mata hasil usaha penginjilan Misi Mennonit tetapi memiliki tiga akar.

Ibrahim Tunggul Wulung atau yang biasa disapa Tunggul Wulung merupakan bapak gereja GITJ yang silsilahnya masih sangat sulit untuk dilacak. Sumber yang didapat saat ini lebih merupakan penuturan lisan. Meskipun tidak ada data tertulis atau dokumentasi resmi tentang karir Tunggul Wulung, tentu saja bukan berarti ini menjadi alasan untuk menolak segala bentuk penuturan yang bersifat lisan.

Sukoco dan Lawrence Yoder dalam “Tata Injil di Bumi Muria: Sejarah Gereja Injili di Tanah Jawa” mencoba mengumpulkan sejarah lisan tentang siapa Tunggul Wulung, bagaimana ia kemudian menjadi Kristen serta relasinya dengan Misi Mennonit. Tunggul Wulung memiliki asal-usul dari istana Pura Mangkunegaran, Solo. Nama kecilnya adalah Raden Tondo. Lengkapnya Raden Tondokusumo. R. Tondo dilahirkan kurang lebih tahun 1800 sebagai anak bangsawan Mangkunegaran dari isteri selir.

Saat dewasa, ia bekerja di Kediri dalam Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda dengan nama Raden Mas Demang Padmodirdjo. Tunggul Wulung terlibat dalam perjuangan Pangeran Diponegoro tahun 1825-1830 yang dikenal sebagai Perang Jawa. Patahnya perjuangan Diponegoro menyebabkan Tunggul Wulung meninggalkan pekerjaan, membaur dengan masyarakat kecil. Ia pindah ke Ngalapan-Juwana yang dirasakan lebih aman, dan berganti nama menjadi Amat Dullah atau Ngabdullah.

Sebagaimana umumnya masyarakat Jawa, Tunggul Wulung juga aktif menggumuli ngelmu. Tahun 1854, di hadapan Pieter Jansz di Jepara, Tunggul Wulung mengaku bisa bertobat dan dengan sungguh-sungguh mencari Injil keselamatan itu karena kesaksian seorang Kristen Jawa yang berasal dari pertapaan di Gunung Celering di sebelah utara Gunung Muria. Perjumpaan inilah yang dimungkinkan mendorong Tunggul Wulung untuk lebih mendalami Kekristenan dengan mencarinya pada orang lain yang lebih mengetahui dibanding pertapa dari Celering itu.

Tunggul Wulung kemudian bertemu dengan seorang Indo-Eropa, C. L Coolen di Ngoro. Coolen memiliki tanah luas yang disewanya dan mengembangkan sebuah desa Kristen Jawa disitu. Disitulah Tunggul Wulung menyerap ciri kekristenan Jawa yang ia pegang. Namun, ia merasa harus belajar lebih banyak Kekristenan. Ia kemudian pergi ke Mojowarno menemui J.E. Jellesma, utusan Perhimpunan Misionaris Nederland (NZG).

Kepada Jellesma, Tunggul Wulung belajar selama dua bulan tentang Kekristenan. Ia belajar soal Hukum Sepuluh, Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami. Dengan sangat yakin, kepada Jellesma Tunggul Wulung meminta untuk ikut mengabarkan Injil. Tunggul Wulung kemudian ikut melakukan perjalanan dari Kediri, Kepanjen, Banyumas, Kudus, Rembang dan sekitarnya. Tahun 1854, Tunggul Wulung diminta oleh Sem Mampir, pembantu misionaris di Jepara, untuk mengabarkan Injil di Jepara dan sekitarnya. [elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here