Jejak Gereja di Lereng Muria (3)

0
113
Kyai Ibrahim Tunggul Wulung

[Semarang –elsaonline.com] Di Jepara Tunggul Wulung bertemu dengan Pieter Jansz dari Misi Mennonit Belanda (DZV, Doopsgezinde Zendingsvereeniging). Jansz sendiri baru dua tahun melaksanakan pelayanan pekabaran Injil di daerah itu. Pertemuan dengan Tunggul Wulung dicatat oleh Jansz terjadi pada tanggal 11 Januari 1854. Tunggul Wulung melihat situasi yang berbeda antara di Cumbring (dekat Jepara) dengan Mojowarno ataupun Ngoro. Di dua tempat yang disebut terakhir, Tunggul Wulung menemukan ciri Jawa yang sangat kental. Tetapi hal tersebut tidak ia temukan di Jepara. Jansz terlihat sangat intens berinteraksi dengan orang Eropa yang memiliki tanah sewa jangka panjang yang luas dan dapat mengharuskan orang pribumi yang menghuni tanah tersebut untuk menggarapnya sesuai dengan perintahnya.

Kepada Jansz, Tunggul Wulung mengatakan akan bersedia bekerjasama dalam menginjili wilayah Muria. Tapi, Jansz merasa bahwa Tunggul Wulung masih harus banyak belajar lagi padanya. Ia mensyaratkan waktu satu atau satu setengah tahun lagi kepada Tunggul Wulung sebelum ia benar-benar bisa bekerja dengannya. Terang saja tawaran yang diberikan Jansz ditolak Tunggul Wulung.

Perbedaan visi antara Tunggul Wulung dan Jansz mulai terlihat disini. Bagi Tunggul Wulung, cara Jansz melakukan pelayanan dan pekabaran Injil di perkotaan, kurang begitu tepat. Bagi Tunggul Wulung, pekabaran Injil akan jauh lebih efektif jika dilakukan pada orang-orang di desa ketimbang kota. Masyarakat desa lebih mudah diberi pengertian daripada orang kota. Mereka yang sudah ditobatkan itu harus memisahkan diri dari masyarakatnya, menetap di hutan dan membuka wilayah baru. Ini tentu sesuai dengan apa yang ia amati saat berada di Jawa Timur. Membuka lahan baru sama artinya dengan membangun dunia baru.

Visi Tunggul Wulung beberapa diantaranya bisa dimengerti oleh Jansz. Ia sepakat bahwa orang desa memang lebih polos dan jujur daripada orang kota. Tapi ia kurang bersepakat jika orang Kristen kemudian harus membuka hutan dan tinggal di tempat terpencil. Mereka kemudian berkompromi. Menurut Jansz, cita-cita Tunggul Wulung bisa terpenuhi jika diawali dengan cara mengumpulkan jemaat dengan cara yang teratur, yang selanjutnya diberi bimbingan untuk menggapi cita-citanya tersebut. Dengan adanya desa-desa Kristen, maka desa itu dapat dijadikan sebagai pos untuk mengirim utusan-utusan ke tempat-tempat di dekatnya dalam rangka meluaskan Injil dengan pertolongan Tuhan.

Pada 28 Januari 1854, Tunggul Wulung mengajak Sem Sampir, pembantu Jansz untuk mengadakan pekabaran Injil di Tayu dan sekitarnya. Di sana, Tunggul Wulung bersaksi tentang Yesus Kristus dengan antara lain menjual Kitab Injil Markus dan banyak mendapat peminat antara lain di Mluwang (sekarang disebut Ngluwang) serta Margotuhu.

Eksistensi Tunggul Wulung sebagai penginjil di Tayu ternyata menyisakan persoalan. Selama ini pemerintah tidak mengeluarkan ijin untuk pekerjaan Injil di Kabupaten Pati maupun Kabupaten Juana, kecuali Misi Mennonit di Jepara. Tunggul Wulung tidak jera. Meski ia diancam pejabat pemerintahan kolonial, ia tetap kembali ke Juana pada bulan Mei 1855. Situasi ini, tentu saja ikut memusingkan Jansz. Kepada Tunggul Wulung, Jansz berjanji akan akan memakai Tunggul Wulung sebagai pembantunya asalkan dia bersedia untuk tinggal di rumahnya dan belajar Kekristenan secara lebih mendalam.

Jansz memberikan dua opsi kepada Tunggul Wulung sebelum dia dibaptis. Pertama, ia diberi kesempatan bekerja di suatu desa yang dekat dengan rumah Jansz agar ia bisa mengawasinya. Kedua, Tunggul Wulung dipersilahkan kembali ke Mojowarno, belajar kepada Jellesma. Tunggul Wulung rupanya memilih yang kedua. Ia kembali ke Mojowarno dan dibaptis Jellesma pada Mei 1855 dengan nama baptis Ibrahim. Sehingga nama lengkapnya sekarang Ibrahim Tunggul Wulung.[elsa-ol/TKh-@tedikholiludin]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here