Kaligrafi Itu Seni, Tak Memiliki Agama

0
20
Sumanto (berkacamata) saat berdiskusi dengan para peneliti eLSA. [Foto: Cep]

Sumanto (berkacamata) saat berdiskusi dengan para peneliti eLSA. [Foto: Cep]
Sumanto (berkacamata) saat berdiskusi dengan para peneliti eLSA. [Foto: Cep]
[Semarang –elsaonline.com] Kaligrafi itu murni seni, keindahan karya goresan tangan. Kaligrafi tidak beragama, juga bukan milik salah satu agama. Setidaknya itulah kesimpulan penulis atas cerita Profesor di King Fahd University for Petroleum and Mineral, Arab Saudi, Sumanto Al-Qurtuby.

”Mahasiswa saya ada yang ahli kaligrafi. Kemudian saya undang ke kantor saya untuk presentasi soal kaligrafi. Saya tanya apakah kaligrafi hanya ada dalam tradisi Islam. Ternyata kaligrafi itu ada di semua agama. Lengkap dengan masing-masing aliran juga,” cerita Pendiri Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang ini saat disambangi di kediamannya, Sabtu, (16/7/16).

Cerita soal kaligrafi itu muncul dalam perbincangan mengalir antara Sumanto ini bersama para juniornya yang bergabung di eLSA. Sembari mengobrol hangat, para punggawa eLSA membawa beberapa buku terbaru Prof. Sumanto yang sudah dipesan banyak calon pembeli. Para pemesan itu meminta untuk dibubuhi tanda tangan dan tak jarang yang ingin ditambahi pesan.

”Kang, ada beberapa pemesan yang minta dibubuhi tanda tangan. Ada juga pemesan yang sedang dalam kondisi hamil. Orangnya minta, dalam buku itu dibubuhi tanda tangan, serta doa untuk orang hamil,” terang Manajer Pemasaran Buku eLSA, M. Zainal Mawahib, sembari menyodorkan beberapa buku untuk ditanda tangani Prof Sumanto.

Karena Prof. Sumanto sadar bahwa ia tak ahli dalam menulis Arab (alih-alih kaligrafi-mungkin), akhirnya ia meminta supaya M Zainal Mawahib yang menulisnya. Sementara doa itu ia yang membacakan. Mawahib, akhirnya menuliskan penggalan ayat doa untuk orang hamil itu dalam buku pemesan, lengkap disertai dengan terjemahnya.

”Tulisan kamu rapih sekali, Hib. Seperti tulisan cetakan,” nilai Prof. Sumanto, kepada tulisan tangan Mawahib. ”Di eLSA itu ada beberapa yang pandai menulis Arab. Ada Mawahib, ada juga Khoirul Anwar, editor naskah penerbit eLSA. Mereka bagus kalau buat tulisan tangan Arab,” sambung Ketua Yayasan, eLSA , Tedi Kholiludin.

Wahabi Ditertawakan
Dari obroal inilah kemudian nyambung dengan pembahasan kaligrafi yang juga berkembang di kampusnya di Saudi. Banyak yang diceritakan Prof. Sumanto soal kultur Saudi, Islam, dan Indonesia. Termasuk soal penganut ideologi Wahabi yang tidak senang dengan kampusnya, disana.

”Kampus saya satu satunya yang semuanya menggunakan Bahasa Inggris. Ibaratnya kampus saya itu untuk mentraining mahasiswa yang bersifat ’keduniawian’lah. Jadi (Kampus King Fahd University for Mineral and Petroleum) itu ndak ada yang kewahabi-wahabian. (Wahabisme) Disana bahkan ditertawakan,” terangnya.

Sumanto membeberkan bahwa pusat kelompok wahabi dan gerakannya disana. ”Kampus saya itu berdiri langsung di bawah Raja Saudi. Dan Rajanya itu tak peduli soal ideologi wahabi,” terangnya. ”Berarti Rajanya itu sejatinya egaliter, Prof,” tanya salah satu pengurus eLSA. ”Ya tentu, sangat modern,” sambung Prof. Sumanto.

Menurutnya, kelompok Wahabi di Saudi berpusat di Kota Buraydah. ”Disana itu pusatnya kelompok-kelompok ekstrim-salafi lah. Nah, oleh mereka kampus saya dianggap memodernisasi Saudi, makanya tidak senang. Tapi harus diketahui, banyak juga di Saudi kelompok kelompok yang fleksibel (-moderat). Mereka tidak memamsakan keyakinannya kepada orang lain,” tandasnya. [elsa-ol/Cep-@ceprudin/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here