Kampanye Keragaman Harus Diperkuat

0
50

[Kudus –elsaonline.com] Di era dimana informasi serba terbuka, memang memerlukan filter yang ketat, terutama dalam menyaring hal yang berkaitan dengan agama. masyarakat kerapkali mendapatkan informasi yang bukan berasal dari sumber otoritatif.

Terhadap hal ini, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Walisongo Semarang, Ubbadul Adzkiya, mengatakan bahwa kita sekarang masuk pada era keterbukaan informasi, dengan pengguna internet yang terus mengalami kenaikan sangat pesat setiap tahunnya. “Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, setiap hari muncul 10 website berkonten radikal baru, sehingga kita sebagai pengguna internet harus bijak dan memilah mana yang patut dicerna,” kata Ubed panggilan akrabnya,

Ubed menyampaikan hal tersebut dalam diskusi yang digelar Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) bekerjasama dengan Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol dan Linmas) Propinsi Jawa Tengah, Senin (24/7) kemarin, di Kudus.

Selain itu, imbuh Ubed, media sosial juga hampir menjadi konsumsi wajib masyarakat kita. “95% pengguna internet adalah pengguna media sosial, artinya media sosial adalah alat yang sangat efektif untuk berkampanye,” ujar peneliti di Lembaga Studi Sosial dan Agama tersebut.

Karenanya, alumnus Universitas Gadjah Mada tersebut mengingatkan agar Netizen bisa memanfaatkan ini untuk hal yang positif, tidak untuk menyebar berita, atau informasi yang blm tentu kebenarannya. Atau malah dijadikan sebagai alat untuk propaganda jahat untuk kepentingan tertentu.

Di akhir pembicaraan, pria kelahiran Batang ini mengatakan kalau tantangan kita bersama adalah menjadikan keterbukaan informasi tersebut untuk dimanfaatkan dan mengkampanyekan keragaman serta hal-hal baik yang ada di sekeliling kita.

Ulama Harus Berpihak
Pada bagian lain, Koordinator Bidang Kajian Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA), Khoirul Anwar, menjelaskan bahwa definisi ulama tidak semata-mata orang yang memiliki ilmu, melainkan ada persyaratan lain yaitu memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan atau dalam istilah al-Quran disebut khasyyah, takut kepada Allah.

“Dalam al-Quran disebutkan, innama yakhsyallaha min ‘ibadihil ‘ulama`, hamba Tuhan yang paling takut atau khasyyah adalah para ulama,” jelasnya.

Di tengah menguatnya kelompok-kelompok intoleran, peran ulama memang menjadi sangat signifikan. Pencerahan kepada umat, menjadi kebutuhan yang sangat penting. Idealnya, kategori ulama tak hanya soal ilmu, tetapi keberpihakan. “Disitulah ulama harus menunjukkan keberpihakannya pada nilai kemanusiaan yang ditandai takut pada Tuhan,” Khoirul menegaskan. [T-Kh/001]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here