Kartun Harus Membangun Kecerdasan

0
124
Budayawan Prie GS (berdiri) turut hadir dalam diskusi Charlie Hebdo dan KebebasanBerekspresi. [Foto: Munif]

Budayawan Prie GS (berdiri) turut hadir dalam diskusi Charlie Hebdo dan  KebebasanBerekspresi. [Foto: Munif]
Budayawan Prie GS (berdiri) turut hadir dalam diskusi Charlie Hebdo dan KebebasanBerekspresi. [Foto: Munif]
[Semarang –elsaonline.com] Kasus penyerangan terhadap redaktur majalah Charlie Hebdo di Perancis diyakini tidak akan berimbas ke Indonesia. Pendapat itu disampaikan salah satu kartunis senior Indonesia, Pramono R Pramoedjo, dalam diskusi membedah kasus Charlie Hebdo di Semarang, Kamis (15/1/2015).

Pramoedja mengatakan, kasus penyerangan Charlie Hebdo seharusnya menjadi tolok ukur kehidupan pers di Indonesia. Pers sudah semestinya diberi kebebasan, namun media harus bisa bertanggung jawab.

“Kalau terbitan teralu berani hingga diserang bisa dilihat dari beragam hal. Biasanya media yang membangun isu-isu kontroversial berkaitan oplah,” kata Pramono, Kamis kemarin.

Sebagai seorang pekerja seni, dia mengakui bahwa karikatur mempunyai dimensi magis. Ia mampu menarik orang, membuat tertawa hingga membakar gedung.

“Tapi, kalau mengkritik dan membuat gambar Nabi Muhammad itu sangat tidak etis. Karikatur tidak sekadar menggambar. Ia punya makna, tujuan, membangun kecerdasan,” kata kartunis Sinar Harapan ini didampingi kartunis Tabloid Cempaka, Abdullah Ibnu Thalkah.

Berdasarkan penelusurannya, majalah Charlie Hebdo adalah majalah mingguan yang oplahnya terbatas. Ketika menerbitkan karya yang sensasional, oplah majalah itu cenderung meningkat tajam. Meski begitu, dia minta agar insan pers di Indonesia tak perlu ketakutan. Kebebasan era reformasi di Indonesia bisa lebih dinikmati karena dilindungi konstitusi. Dia menilai, ketakutan justru akan membelenggu mereka dalam hal berkreasi.

Kritik yang sama disampaikan pengamat komunikasi media dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Triyono Lukmantoro. Kontroversi karya majalah Cherlie Hebdo memang membuat panas pihak lain.

“Semua agama itu dikritik. Charlie Hebdo sebetulnya tidak perlu melakukan hal tersebut. Ngakunya sayap kiri, tapi tindakannya sayap kanan,” kata dosen Undip ini.

Dia berpendapat, perlu bagi media massa untuk bisa menghormati kebebasan yang dimilikinya. Kebebasan memang menjadi ruh media massa, tapi juga harus bisa memahami kebebasan orang lain. “Apakah membuat kartun seenak-enaknya? Ingat, ada kebebasan eksistensial dan kebebasan sosial,” terang pria yang akrab disapa TL tersebut.

Untuk itulah, kartun yang tergambar dalam sebuah karya media harus mempunyai etika. “Kartun harus punya etika. Harus punya kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

Direktur Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang, Tedi Kholiludin menguraikan, peran pemahaman keagamaan turut menjadi pemicu mudahnya penggunaan jalan kekerasan, termasuk penyerangan terhadap kantor majalah Charlie Hebdo tersebut. Berdasarkan catatannya, banyak kasus kekerasan di Indonesia dilatarbelakangi oleh pemahaman agama yang sempit dan cenderung literalistik. Mereka yang melihat idolanya dijelek-jelekkan merasa tersinggung. Jalan yang cenderung mudah ditempuh adalah dengan tindak kekerasan.

Di Indonesia, kata Tedi, penggunaan delik agama dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sangat potensial menghambat kebebasan berpikir. “Kasus The Jakarta Post, menjadi pelajaran bahwa di Indonesia tarikan antara kebebasan berekspresi dengan penodaan terhadap agama selalu terjadi. Bukan tidak mungkin, ini akan menghambat kebebasan berekspresi juga,” terang Tedi.

Penyerangan kantor majalah Charlie Hebdo disertai penembakan itu menyebabkan 12 orang korban tewas, termasuk satu pemimpin redaksi dan tiga kartunis kawakan. [elsa-ol/Nurdin-@nazaristik]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here