Kasus-kasus Bernuansa Agama di Jawa Tengah (Januari-Juni 2014)

0
191

[Semarang –elsaonline.com] Sepanjang 6 bulan pertama di tahun 2014, setidaknya ada 6 kasus bernuansa agama di Jawa Tengah yang ada dalam catatan pendokumentasian Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA). Kasus-kasus tersebut merupakan kasus baru yang terjadi di kurun waktu tersebut. Bukan kasus yang belum ada penyelesaiannya hingga tahun ini. Seperti kasus pendirian Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Dermolo, Jepara misalnya. Peristiwa ini sudah berlangsung sejak 2002, dan tak kunjung ada penyelesaian hingga sekarang. Kasus serupa juga terjadi di kalangan penghayat kepercayaan. Tentang persoalan ini, akhir tahun 2014 nanti, eLSA akan meluncurkan hasil investigasi mengenai problem kelompok mereka.

Berbeda dengan laporan tahunan kebebasan beragama dan berkeyakinan, laporan tengah tahun ini hanya mendata mengenai kasus-kasus yang ada hubungannya dengan agama. Kami tidak melakukan analisis yuridis terhadap kasus-kasus tersebut seperti yang dilakukan ketika menarasikan laporan tahunan. Laporan ini juga tidak memisahkan unsur dugaan pelanggaran kebebasan beragama dan intoleransi.

Selain sebagai alat untuk menyosialisasikan data yang kami miliki, tujuan dari pelaporan di tengah semester juga untuk terus mengampanyekan kebebasan beragama dan berkeyakinan serta mengawal kehidupan keberagamaan di Jawa Tengah melalui distribusi data. Tetapi karena sifatnya baru data, bukan informasi, maka sifat dari laporan ini tidak sampai pada level analisis.

Berikut ini kami deskripsikan 6 kasus yang ada dalam pantauan eLSA dari bulan Januari hingga Juni 2014.

1. Tempat Sembahyang Umat Hindu Dirusak

Sebuah pura yang terletak di Dukuh Giriloka, Desa Girimargo, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen menjadi sasaran perusakan orang tak dikenal. Perusakan diperkirakan terjadi tanggal 16 Januari dan kemudian baru diketahui pada 19 Januari. Beberapa patung di dalam pura tersebut dirusak. Pihak kepolisian belum bisa mengidentifikasi siapa pelaku perusakan tersebut. Begitu juga halnya dengan Kepala Desa Girimargo. Ia tak mengetahui secara persis siapa yang merusak patung di pura berukuran 5×10 meter itu.

Setelah kejadian tersebut, Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) mendeask pihak kepolisan dari level polsek hingga polri untuk segera mengungkap dan menindak pelaku peristiwa pengrusakan tempat persembahyangan Agama Hindu (Pura) di Dukuh Giriloka RT 21, Desa Girimargo, Kecamatan Miri, Kabupaten Sragen, pada 16 Januari 2014. Itu diungkupkan oleh Presidium Pusat KMHDI I made Bawayasa. Mereka mengecam dan mengutuk keras oknum yang melakukan tindakan anarkis berupa perusakan tempat persembahyangan Agama Hindu.

2. Bentrok Warga dengan FPI di Wonosobo

Pada tanggal 19 Januari, Shihabudin, pengasuh ponpes Al Hadits Wonoboyo Temanggung, yang juga pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Jawa Tengah mengisi pengajian dalam rangka maulud Nabi di desa Bowongso, Kecamatan Kalikajar. Dalam pengajian yang dimulai pukul 22.00 itu ada tiga point yang dikatakan oleh Shihabudin dan kemudian dirasakan tidak pas oleh masyarakat, yakni (i) mengajak warga untuk memerangi kemaksiatan dengan membentuk FPI karena satu-satunya daerah di Jateng yang belum ada FPI yaitu di Wonosobo (ii) Shihab juga menuturkan kalau beradasarkan hasil tim investigasi FPI Temanggung di Bandungan, Semarang menemukan adanya pelaku maksiat yang memakai atribut GP Ansor, dan (iii) ia juga menyampaikan ketidaksetujuannya dengan Banser yang turut mengamankan Natal di gereja.

Masa yang tidak terima dengan isi ceramah Shihab kemudian mencegat mobil Kijang B-403-XF di Desa Kembaran, Kalikajar yang ditumpangi Sihabuddin saat pulang. Pada Senin (20/1) sekitar pukul 00.15 Sihabudin dipaksa turun dari mobil untuk meminta maaf atas ucapannya. Namun, dia tidak mau turun dan akhirnya sejumlah massa memecah kaca dan akan meng­ancam menggulingkan mobil.

Atas insiden itu, Kapolres Wonosobo AKBP Agus Pujianto SH MSi mengatakan, saat ini kasus sedang didalami terkait dengan laporan korban.

Sementara, Ketua Generasi Pemuda (GP) Ansor Wonosobo Asma Khozin membantah aksi perusakan yang dilakukan massa Banser. Namun menurutnya, adalah lima orang yang merupakan warga sekitar. Justru anggota Banser saat itulah yang mengamankan aksi perusakan dan membawa korban ke Mapolres

3. Pembubaran Pengajian Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Demak

Pengajian rutin MTA yang dibubarkan warga di Desa Megoten, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak Kamis (13/02) sekitar pukul 16.30 WIB. Pembubaran tersebut dilakukan lantaran sebagian warga menilai MTA mengajarkan ajaran yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Guna mengusut pembubaran tersebut, pihak MTA melaporkan insiden itu ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jateng, Jumat (14/02) siang. Sekretaris MTA perwakilan Demak, Prayogo menyebutkan pihaknya mengindikasi adanya sekelompok warga yang menghasut warga lainya untuk membubarkan pengajian rutin. Sementara itu, Ketua MTA perwakilan Demak, Wagiman saat melapor ke Polda Jateng memaparkan, pihaknya akan terus melanjutkan proses hukum tersebut. Selain sempat menimbulkan korban jiwa, warga juga sempat melakukan pengrusakan rumahnya yang saat itu menjadi tempat untuk pengajian.

4. Penolakan Kedatangan Habib Rizieq di Demak

Bulan April, Banser Demak menolak rencana kedatangan Habib Riziq Shihab, Ketua Front Pembela Islam (FPI). Habib Riziq dijadwalkan mengisi pengajian di Kecamatan Bonang pada 8 Mei.

Komandan Banser Demak Mustain menegaskan, penolakan tersebut dilakukan karena beberapa alasan. Salah satunya, Demak merupakan basis ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) yang mayoritas masyarakatnya warga Nahdlatul Ulama (NU). Ia menegaskan kalau Habib Riziq juga pernah menghina Gus Dur Selain itu Mustain menilai setiap pengajian yang disampaikan Habib Riziq diduga cenderung provokatif, sehingga rawan memicu konflik horizontal di tengah masyarakat.

5. Camat Grobogan Menyoal Pengajian Jantiko Mantab

Camat Grobogan, Amir Syarifudin pada tanggal 11 Maret melayangkan surat kepada pimpinan Semaan Al-Quraan Jantiko Mantab Dzikrul Ghofilin (JMDG) Kiai Ahmad Mujib. Tapi, isi surat itu mendapat protes. Alasannya, karena di dalamnya surat itu menyebut Jamaah Semaan Al-Quran JMDG meresahkan warga.

Pada tanggal 8 Mei, masa pengajian mendatangi gedung DPRD Kabupaten Grobogan. Di dalam gedung tersebut sedang berlangsung audiensi. Amir Syarifudin ada di dalamnya bersama anggota Komisi A. Setelah usai melakukan audiensi, Camat Grobogan meminta maaf di depan ratusan jamaah JMDG. Ketua Komisi A, Sri Wiyati mengatakan terkait aktivitas keyakinan suatu ajaran agama dalam masyarakat, camat atau pemerintah sekalipun tak memiliki hak ikut campur mengurusunya. Karena, hal ini menyangkut hak privat yang tidak dapat diganggu oleh individu, kelompok ataupun pemerintah.

6. Penangkapan Terduga Teroris di Klaten

Pada tanggal 14-15 Mei, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror menangkap sejumlah tersangka teroris di Klaten. Mereka berhasil menyita belasan senjata api milik tersangka. Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Ronny F. Sompie yang menjelaskan kronologis penangkapan yang merupakan pengembangan dari penangakapan-penangkapan beberapa hari sebelumnya.

Pengggerebekan dimulai pada Senin (12/5/2014) pukul 13.30 WIB, Tim Densus 88 menangkap tersangka teroris bernama Rifki alias Bondan alias Royan di sebuah rumah makan Taman Selera Pantura, Indramayu. Rifki masuk DPO (Daftar Pencarian Orang) pada kerusuhan Poso, bom tentena 2005 lalu dan alumni camp pelatihan Moro, Filipina.

Sehari berikutnya, Selasa (13/5/2014), penangkapan kembali dilakukan terhadap tersangka teroris lainnya bernama Ramuji alias Ahmad di Jl Belimbing Raya, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Diketahui, tersangka terlibat dalam pelatihan militer di Poso yang juga bertugas sebagai penyuplai logistik.

Penangkapan kemudian berlanjut pada Rabu (14/5/2014), Tim Densus 88 kembali menangkap tersangka bernama Salim alias Ustad Yahya di Klaten, Jawa Tengah. Yang bersangkutan adalah buronan atas kasus kerusuhan Poso bom tentena 2005 lalu serta alumni camp pelatihan Moro, Phiilipina. Tersangka Salim diamankan petugas bersama tersangka lain bernama Setiawan.

Pada Kamis (15/5/2014) penangkapan dilakukan terahadap lima orang yakni Arif alias Tomy, Slamet, Rofiq, Arifin dan Yusuf. Kelimanya itu adalah hasil pengembangan dari tersangka Rifki dan Yahya alias Salim.

Dari penangkapan sejumlah tersangka teroris itu, Tim Densus 88 Anti Teror Mabes Polri juga mengamankan sejumlah barang bukti di sebuah bengkel di daerah Trucuk, Klaten yang digeledah pasca penangkapan. Diantaranya 15 buah senjata api laras panjang kaliber 7 milimeter, 2 senjata api kaliber 7 milimeter, 1 crosbow, 1 panah, 5 samurai, 6 pedang, 25 pisau lempar dan dokumen pembuatan bom.

Data-data di atas menunjukkan beberapa hal yang patut dicermati. Pertama, dilihat dari aspek pihak-pihak yang terlibat, sejatinya tak ada yang baru. Konflik yang melibatkan FPI misalnya. Sama halnya seperti yang terjadi di Kendal tahun lalu, kali ini FPI berurusan dengan warga. Hanya motivasinya saja yang sedikit membedakan. Jika di Kendal warga terusak dengan FPI itu sendiri, di Wonosobo warga merasa tersinggung oleh substansi dakwahnya. Kedua, dari aspek penyelesaian kasus ada sedikit kemajuan. Dalam kasus surat undangan Camat Grobogan, penyelesaian dengan jalan damai, cukup patut diapresiasi. Ketiga, isu terorisme masih menjadi bola panas. Dan Jawa Tengah selalu ada dalam pusaran itu. Sehingga penting bagi pihak keamanan untuk terus melakukan deteksi dini terhadap pergerakan mereka. [elsa-ol]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here