“Kata Ashfihani, Nafs Wahidah itu Turab”

0
148

[Semarang – elsaonline.com] “Sebagian sarjana mengatakan bahwa masa keemasan dalam agama Islam sebenarnya tidak ada” papar Khoirul Anwar dalam acara diskusi mingguan Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang. Diskusi ini mengambil tema tentang Makna Nafs Wahidah dalam Al-Qur’an.

Diskusi santai (dibarengi dengan ngopi bareng) ini berlangsung di aula kantor eLSA Jl. Sunan Ampel No.11 Perumahan Bukit Walisongo, Ngaliyan, Kota Semarang. Awang (sapaan akrab Khoirul Anwar) menjelaskan bahwa ilmu ushul fiqh sebenarnya tidak baru. Tapi cabang ilmu hukum Islam ini sudah ada dan lama berdiri.

Tidak seperti yang selama ini dipahami bahwa Islam mengalami masa kejayaan pada masa ilmu ushul fiqh berkembang. Masa ini kerap di alamatkan pada masa as-Syafi’i. Ternyata hal ini juga banyak menyibak perhatian pada masanya. Salah satu ulama yang menyangkal pendapat ini adalah Ali Jumu’ah. Ulama ini masih menganggap bahwa ilmu ushul fiqh juga memiliki kemandirian dalam hukum Islam.

“Namun dalam hal ini Ali Jum’ah menyangkal mengenai ilmu ushul fiqh yang oleh sebagian sarjana dikatakan tidak baru. Ali Jumu’ah mengatakan bahwa ushul fiqh juga memiliki unsur independensi wacana dalam Islam,” lanjut Awang.

Anwar (kiri) dan Yayan (kanan)

Perbedaan makna dalam ushul fiqh dan garamatikal bahasa arab tercermin dalam surat an-Nisa tentang “nafs wahidah”. “Al-Asfihani salah satu ulama Mu’tazilah menafsirkan nafs wahidah dengan menggunakan gramatikal Arab. Ini hasilnya sangat berbeda dengan makna kata dalam ilmu fiqh. Padahal waktu itu masih tergolong ulama klasik. Al-Asfihani ini meskipun seorang Mu’tazilah tapi kemudian banyak menjadi rujukan Ar-Razi. Al-Asfihani mengatakan bahwa kata nafs dalam surat anisa secara garamatikal Arab bukan berarti adam. Melainkan asal atau bahan untuk terbentuknya manusia yaitu debu (turab),” pungkas Awang.

Yayan M Royani, salah seorang peneliti eLSA menganggap bahwa tafsiran ilmu ushul fiqh mengenai kata nafs dalam surat an-Nisa ayat 1 sangat perpihak terhadap laki-laki dan menindas kaum perempuan. Kata nafs dalam ushul fiqh kerap ditafsirkan Adam. Maka perempuan selama berabad-abad dipahami dengan diciptakan dari tulang rusuk Adam. Ini jelas sangat sangat berpihak terhadap laki-laki, lanjut Yayan.

“Dalam ayat tersebut, kata nafs oleh ulama ahli fiqh kerap ditafsirkan dengan kata Adama. Tafsiran ini jelas sangat patriarki. Tafsiran ulama terdahulu yang mengatakan kata an-nafs itu artinya adam juga sangat bias jender,” pungkas Yayan. Inilah perbedaan makna kata antara ilmu ushul fiqh dan gramatikal arab. (Ceprudin/elsa-ol)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here